Penyidik Polres Lakukan Disparitas Terkait SP3 Kasus Anak Bupati SBB

  • Whatsapp
Ambon, maluku post.com – kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak bupati Seram Bagian Barat (SBB) Jacobis Puttileihalat, Rafles Puttileihalat yang mengakibatkan korban meninggal dunia telah dihentikan penyelidikannya oleh pihak kepolisian.

Hal ini setelah Kejaksaan Negeri (kejari) Ambon memberikan petunjuk kepada penyidik agar kasus tersebut dihentikan, lantaran mengacu pada Undang-Undang perlindungan Anak yang mewajibkan penyelesaian secara kekeluargaan pada semua tingkatan.

“Memang benar bahwa dalam Undang-Undang perlindungan anak diwajibkan untuk dilakukan penyelesaian secara kekeluargaan pada semua tingkatan dalam kasus tindak pidana dengan pelakunya anak-anak dibawah umur. Namun sayangnya penyidik terkadang melakukan disparitas dalam kasus anak-anak ini, “ demikian diungkapkan Hendrik Lusikoy SH, salah satu praktisi hukum di kota Ambon kepada koran ini Kamis (9/4) di Ambon.

Dijelaskan Lusikoy yang juga sekretaris Pusat Bantuan Hukum (Pusbakum) Maluku ini, hal teraneh dalam kasus anak bupati SBB ini adalah polisi sebagai penyidik dan juga kejaksaan selaku penuntut umum terkesan membela dan menolong anak bupati SBB tersebut dengan menyarankan agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan oleh tersangka dan keluarga korban.

Padahal dalam kasus tindak pidana lainnya dengan pelaku anak-anak dibawah umur, baik pihak kepolisian maupun kejaksaan sama sekali tidak menyarankan kepada pelaku maupun korban untuk melakukan penyelesaian secara kekeluargaan, padahal penyelesaian secara kekeluargaan ini diwajibkan dalam undang-undang perlindungan anak.

“Sebagai contoh kasus adalah kasus yang melibatkan dua pelajar pada salah satu Sekolah Menengah Pertama di kota Ambon. Dimana baik pelaku maupun korban adalah anak-anak. Dalam kasus ini penyidik sama sekali tidak memberikan petunjuk agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan, akibatnya kasus ini bergerak terus hingga proses penuntutan, “ papar sekretaris Pusbakum Maluku ini.

Sedangkan pada kasus anak bupati SBB ini, baik polisi maupun kejaksaan malah memberikan saran agar kasus tersebut diselesaikan baik-baik oleh pelaku dan korban.

“Apa istimewanya seorang anak bupati SBB dengan anak-anak dibawah umur lainnya yang menjadi pelaku alam dugaan tindak pidana yang disidangkan di Pengadilan. Ini menunjukkan bahwa baik penyidik polisi maupun pihak kejaksaan telah melakukan disparitas atau tebang pilih dalam proses hukum, “ paparnya.

Dari data yang ada pada koran ini dua kasus tindak pidana yang kedua-duanya melibatkan anak bupati SBB selaku pelaku yang ditangani pihak kepolisian Maluku, mati di tangan penyidik polisi.

Kasus pertama yang diduga dipetieskan oleh penyidik polisi adalah kasus dugaan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dengan pelaku putri bupati SBB, Ayu Puttileihalat dan kasus kedua adalah kasus kecelakaan lalu lintas dengan pelaku Rafles Puttileihalat. Dimana kedua kasus ini ditangani oleh Polres Pulau Ambon selaku penyidik.

Diduga mandeknya kedua kasus pidana yang melibatkan anak bupati SBB tersebut lantaran adanya setoran upeti dari pihak pelaku kepada oknum-oknum tertentu baik kepada Polisi maupun Jaksa. (***)

Pos terkait