Membaca Skenario ’Head To Head’
Ambon, Maluku Post.com – Skenario politik ’head to head’ menuju pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak episode pertama di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) pada 9 Desember 2015 sudah terendus sebelum partai-partai politik kontestan memberikan rekomendasi kepada para bakal calon (balon) bupati maupun balon wakil bupati yang akan maju bertarung, demikian laporan pantauan wartawan media ini.
Realitasnya hanya baru Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang memberikan tiket politik pada Barnabas Nataniel Orno (BNO), Bupati MBD 2011-2016, dan Benjamin Oyang Noach (BON), Direktur PD Kalwedo, sebagai Balon Bupati dan Balon Wabup MBD periode 2015-2020.
Menariknya Partai Golongan Karya (Golkar) hanya menaruh dua ’nona manis’ di pelaminan, Abraham Malioy dan Anos Yermias, jika akhirnya BNO ditolak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan sang petahana ingin menggunakan Golkar sebagai kendaraan politik memasuki pesta demokrasi di MBD.
Jika BNO ingin menggunakan servis Golkar, opsinya harus meminang Malioy atau Yermias. Itu harga mati! Artinya, tak ada alasan bagi BNO untuk bergeming dan memilih Lambert Maupiku (LM) sebagai tandemnya memasuki pilkada MBD. Di bagian lain, Partai Demokrat, partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bakal mengikuti jejak PKPI untuk merekomendasikan Nikolaus Johan Kilikily-John Frans (NJK-JF) sebagai Balon Bupati dan Balon Wabup MBD periode lima tahun ke depan.
Banyak analis politik menilai NJK-JF hanya ’calon latar’ yang diduga disiapkan elite politik tertentu untuk menghadang langkah balon-balon lain yang akan bertarung dengan BNO di pilkada MBD. NJK-JF dimajukan sebagai ’bidak catur politik’ untuk menghadang langkah Simon Moshe Maahury dan Kimdevits Markus (SMM-KDM), Arnolis Laipeny (AL), Alfaris Ismael (AI) atau Johanis Letelay (JL), Wabup MBD 2011-2016.
NJK-JF sebenarnya disiapkan untuk memuluskan skenario ’head to head’ (BNO versus NJK) yang pada akhirnya akan menempatkan BNO dan tandemnya sebagai pemuncak klasemen Pilkada MBD jilid II 2015 nanti. Sebagaimana diketahui, NJK merupakan sosok sentral yang berperan penting dalam kesuksesan BNO dan JL merebut kursi MBD I dan MBD II pada pilkada MBD jilid I 2010 silam.
NJK sendiri merupakan saudara dekat BNO, sehingga tidak akan masuk akal jika NJK bakal bertarung habis-habisan untuk menghabisi BNO. Skenario politik lain untuk mewujudkan drama duel adik-kakak, BNO versus NJK, adalah diutusnya Onifaris Johan Miru atau Chen Miru (OJM/CM), anggota DPRD MBD 2014-2019 dari Partai Demokrat, untuk berpasangan dengan JL, wabup MBD incumbent.
Dengan alasan penugasan partai, OJM ’diperintahkan’ elite politik tertentu agar berpura-pura berpasangan dengan JL yang pada saat ’injury time’, akan mengundurkan diri dari pencalonan. Skenario ini sudah lebih dulu terbaca karena loyalis JL tidak menyetujui keinginan Wabup MBD ini berpasangan dengan OJM karena latar belakang OJM yang pernah bersentuhan dengan hukum selama bermukim di Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat di paruh 2000an silam.
Semua orang tahu, hubungan emosional, kakak beradik, antara BNO, NJK dan OJM sangat kental dan sulit dipisahkan satu dengan yang lain. Dalam skema politik jangka panjang, Demokrat, NasDem maupun PKB telah kalah sebelum bertanding. Tiga parpol kontestan pilkada MBD ini lebih dulu memuluskan langkah mereka ke pintu kekalahan telak.
Mau tahu alasannya? Pertama, posisi BNO adalah incumbent yang diprediksi punya peluang 75 persen untuk memenangkan pilkada MBD untuk kedua kalinya. Hanya keajaiban, umpamanya, kasus hukum dana operasional APBD MBD 2012 ditingkatkan statusnya oleh Kejaksaan Agung melalui Kejaksaan Tinggi Maluku, yang mungkin dapat menghentikan peluang BNO duduk kembali di singgasana MBD I untuk lima tahun ke depan. Oleh karena itu, peluang kandidat-kandidat lain menjadi tipis bahkan relative berat bagi NJK-JF yang diutus Demokrat, NasDem dan PKB sekalipun.
Kedua, mesin politik BNO telah menggurita di seluruh aras birokrasi MBD, kepala-kepala wilayah kecamatan, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Ketua-ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) di wilayah itu dalam 4 tahun terakhir. Ketiga, latar belakang pengalaman birokrasi, kapasitas dan kapabilitas BNO tidak akan dapat ditandingi kandidat lain, apalagi bagi NJK yang tidak punya latar belakang orang yang memahami benar aturan main birokrasi meski pasangan NJK, JF adalah orang dalam birokrasi.
Nilai jual BNO jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan NJK atau JF sekalipun. Keempat, kekuatan GPM akan dikerahkan habis-habisan untuk mendukung upaya BNO memenangi pilkada MBD, sehingga upaya NJK-JF untuk meraup suara dari kantong-kantong atau basis jemaat GPM menjadi tipis bahkan amat kritis jika tetap dipaksakan. Soliditas politik jemaat GPM masih terlalu kuat untuk dihancurkan sosok dari Gereja kharismatik.
Justru, pertarungan politik pilkada MBD bakal berlangsung seru jika partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) berani mengusung duet Johanis Letelay dan Arnolis Laipeny (JL-AL) maju bersaing dengan BNO-Anos Yermias (AY) dan NJK-JF di pilkada MBD kali ini. Di sinilah letak posisi tawar strategis yang tinggi dari elite-elite Gerindra untuk memainkan ’kuda catur politik’ atau ’benteng politik’ guna menghadang sekaligus mematikan langkah Raja (incumbent pertama) dalam percaturan politik merebut kursi MBD I dan MBD II.
Paket koalisi, Koalisi Merah Putih (KMP), yang dipaketkan di level nasional akan berbuah manis jika Gerindra memilih Golkar sebagai pengantin serasi yang akan maju dan memenangi pesta demokrasi ini dengan elegan dan lancar. Jika KMP jadi dipaketkan di MBD, kemenangan akan lapang di depan kader Gerindra dan Golkar.
Sebagai pemain veteran dalam perpolitikan nasional, elite Golkar tentu punya jurus pamungkas untuk mengalahkan ilmu politik kandidat partai lain saat pilkada MBD digelar. Posisi Gerindra adalah maestro politik yang dapat memutar irama untuk diikuti parpol lain. Apakah skenario politik yang diulas dalam tulisan ini terwujud? Kita tunggu saja alur skenario politik berikutnya. (09)


