“Secara umum stabilitas makro ekonomi Provinsi Maluku masih tetap terjaga,” kata Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Wuryanto di Ambon, Kamis (21/5).
Dia menjelaskan, realisasi inflasi Maluku selama triwulan I-2015 mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya.
“BI bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya akan terus berkoordinasi dan memonitor berbagai perkembangan ekonomi maupun pencapaian inflasi agar perekonomian Maluku ke depan berjalan dengan sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi Maluku triwulan I-2015 tercatat 4,8 persen (yoy), sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 4,11 persen (yoy).
Melemahnya pertumbuhanekonomi Maluku pada periode ini sejalan dengan berbagai indikator yang dipantau oleh BI dalam beberapa bulan terakhir.
Pelemahan pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan I-2015 terutama didorong oleh melemahnya beberapa komponen permintaan domestik, seperti konsumsi lembaganonprofit dan investasi pada sektor bangunan.
Meski demikian menurutnya, perekonomian Maluku tetap tumbuh cukup baik dan disebabkan oleh tingginya konsumsi rumah tangga selama periode I-2015.
Dari sisi penawaran pertumbuhan ekonomi Maluku ditopang oleh meningkatnya kinerja sektor perdagangan besar dan eceran,administrasi pemerintahan dan jasa keuangan.
Sementara itu kondisi cuaca yang buruk serta dampak dari regulasi baru dibidang perikanan turut memperlambat pertumbuhan ekonomi Maluku khususnya di sektor pertanian.
Wuryanto mengatakan, dari sisi permintaan pertumbuhan ekonomi Maluku di dorong oleh tingginya konsumsi rumah tangga serta konsumsi pemerintah yang turut menelan perlambatan perekonomian Maluku pada triwulan laporan.
Disisi lain, tekanan inflasi Maluku pada akhir triwulan i-2015 meningkat. inflasi tahunan Maluku tercatat sebesar 9.0 persen (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 7,19 persen (yoy).
Lajunya inflasi Maluku ini disebabkan oleh kenaikan konsumsi rumah tangga di tengah berkurangnya ketersediaannya bahan makanan khususnya beras dan ikan segar.
Sementara kebijakan pemerintah dalam penyesuaian harga BBM bersubsidi akibat penerapan kebijakan fixed subsidy pada bulan November 2014 turut memberikan passthrough-effect terhadap meningkatnya tarif angkutan dan laju harga barang di Maluku.
Dia menambahkan, ke depan perekonomian Maluku pada triwulan II-2015 diperkirakan akan meningkat pada rentang 5,0-6,0 persen (yoy), sejalan dengan masuknya periode masa panen serta meningkatnya konsumsi seiring dengan adanya hari keagamaan, khususnya bulan suci ramadhan. (ant/MP)


