Gereja Jadi Medium Politik Bupati MBD, Timsu NK-JF Angkat Suara

Ambon, Maluku Post.com – Tim sukses (timsu) bakal calon pasangan Niko Kilikily dan John Frans (NK-JF) mengimbau warga Maluku Barat Daya tidak terjebak kepentingan politik yang menjadikan kader pemuda Gereja atau jemaat Gereja sebagai objek politik sesaat yang berbuntut proses pembodohan jangka panjang.

Kader pemuda Gereja diharapkan menjadi katalisator maupun agen pembaharu yang siap tampil memberikan pencerahan sebelum maupun sesudah pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Kabupaten MBD pada 9 Desember 2015.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat MBD, bahwa jangan sekali-sekali terjebak dengan permainan politik kotor elit-elit tertentu yang menggunakan Gereja sebagai medium kampanye politik, karena hanya membawa kita, terutama masyarakat, ke dalam pikiran sesat dan kehancuran berkepanjangan,” ingat salah satu Tisu NK-JF, Fredy Ulemlem kepada Maluku Post di Ambon, Rabu (3/6).

Tengara Ulemlem bukan tak beralasan sebab sesuai data yang diperoleh timsu maupun relawan duet NK-JF, kini Bupati MBD Barnabas Nataniel Orno telah memanfaatkan event-event gerejawi sebagai momentum politiknya untuk meraih suara rakyat pada pemilihan bupati dan wakil bupati MBD 2015-2015 nanti. 

“Jadi saat ini sesuai laporan resmi yang kami dapatkan, pak Bupati MBD (Barnabas Nataniel Orno) telah mencoba menggunakan Gereja sebagai medium yang akan mengampanyekan visi dan misinya maju bertarung dalam pilkada MBD nanti”bebernya.

Yang terbaru kehadiran Bupati MBD saat pelaksanaan Konsultasi Study Gereja (KSG) di Tiakur, belum lama ini.

“Para peserta bertanya-tanya kehadiran Bupati MBD saat itu sebagai apa, sebab Bupati MBD bukan peserta kegiatan itu. Kehadiran Bupati MBD sangat meresahkan sebagian peserta KSG karena pernyataan Bupati MBD itu sangat membingungkan para peserta, akibat pembicaraan yang bersangkutan jauh dari apa yang menjadi agenda penting KSG. Pernyataan Bupati MBD sangat politis,” protesnya.

Menurut Ulemlem, saat berlangsungnya kegiatan KSG tersebut, Bupati MBD menyatakan Pilkada MBD harus dilihat dari gereja. Pernyataan Bupati MBD itu seakan-akan ingin menunjukkan kalau yang bersangkutan adalah anak (jemaat) GPM yang betul-betul peduli terhadap gereja, bahkan pernyataan itu ingin menunjukkan kalau Bupati MBD itu orang paling militan di GPM.

Ironisnya, banyak Gereja yang proses pembangunannya terbengkalai karena tak ada uluran tangan dari siapapun termasuk Bupati MBD. Contohnya gereja Tela di Pulau Babar, gereja Nura di Pulau Masela dan gereja-gereja lain di MBD yang sudah terhitung puluhan tahun belum tuntas dikerjakan, karena terkendala anggaran.

“Pertanyaannya kenapa Bupati MBD seakan-akan ingin menunjukan kalau dirinya yang paling peduli dengan gereja. Jangan manfaatkan maksud politik melalui kegiatan Gereja, itu tidak fair dan tidak mendidik masyarakat yang masih awam berpolitik,” kesal Ulemlem. (09)

Pos terkait