“Sosialisasi pangan berbuka puasa dilakukan di empat lokasi yakni di kawasan Waihaong, Batu Merah, Waiheru dan Tulehu,” kata Kepala BPOM Maluku Sandra Lintin, di Ambon, Senin (16/6).
Menurut dia, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala desa dan lurah setempat untuk mengumpulkan para penjual makanan.
“Kami berupaya menjelang bulan ramadan para penjual makanan yang biasa berjualan di empat lokasi tersebut bisa memperhatikan faktor kebersihan, cara penyajian dan pengolahan,” katanya.
Sandra mengatakan, pihaknya pada pekan pertama ramadan akan melakukan pengujian makanan berbuka puasa menggunakan mobil laboratorium keliling.
Uji sampel makanan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Ambon untuk memeriksa higienitas makanan, cara penyajian dan pengolahannya.
“Uji sampel juga menggunakan mobil laboratorium keliling untuk langsung melakukan pengujian kepada setiap sampel apakah mengandung kuman (mikrobiologi) zat kimia berbahaya yang tidak diperuntukan bagi makanan,” ujarnya.
Ia menyatakan, uji sampel makanan berbuka dilakukan untuk memberi rasa aman kepada masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa ramadan 1436 Hijriah.
Sampel makanan akan diuji keamanannya meliputi uji parameter kimia dan mikrobiologi,” katanya.
Uji parameter kimia meliputi Rhodamin B, Formalin, Borax dan Metanil Yellow. Rodhamin B akan diuji melalui sampel pangan sirup merah, kue dan kerupuk merah.
Formalin akan diuji melalui tahu, bakso, mie dan ikan, baik yang dimasak gulai maupun digoreng.
Sedangkan Metanil Yellow diperiksa melalui sirup dan kue. Borax diuji melalui bakso, kerupuk, gado-gado dan ketupat.
“Uji parameter mikrobiologi dilakukan untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform dalam makanan, yakni Angka Lempeng Total (ALT) dan “Most Probable Number (MPN) Coliform. Selain uji sampel dilakukan di mobil keliling juga akan dibawa ke labolatorium BPOM untuk pemeriksaan lanjutan,” tandas Sandra. (ant/MP)


