Mangente Ambon Buang-buang Anggaran dan Elitis

Ambon, Maluku Post.com – Warga Maluku kediaman Jakarta, Elisa Wattimena mendukung apapun yang menjadi kebijakan Pemerintah Kota Ambon untuk menarik masuk wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara ke ibu kota Provinsi Maluku sepanjang tidak memberatkan pendatang dan biaya yang dikeluarkan relative efisien.

“Kalau memangnya biaya yang dikeluarkan Pemkot Ambon untuk Mangente Ambon bisa mencapai kisaran Rp 7 miliar itu sudah sangat berlebihan dan buang-buang anggaran, sebab Mangente Ambon yang kami lihat hanya sifatnya elitis dan sedikit sekali orang Maluku di luar daerah ini yang datang berkunjung ke sini, dan itu faktanya,” beber Wattimena kepada Maluku Post di Café Joas, Jalan Said Perintah Ambon, Senin (7/9).

Wattimena memaparkan sosialisasi pejabat Pemkot Ambon di beberapa provinsi di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, Bali, Nusa Tenggara Timur, untuk menyebarluaskan “Mangente Ambon” tidak berdampak luas bagi peningkatan antusiasme kunjungan warga Maluku keturunan ke negeri leluhurnya.

“Harusnya Pemkot melobi Kementerian Perhubungan untuk meminta fasilitasi penggunaan kapal-kapal perintis gratis ke Maluku, khususnya ke Kota Ambon, sehingga menarik minat warga Maluku di luar daerah ini untuk datang berbondong-bondong mendukung Mangente Ambon. Bagaimana warga Maluku di luar mau datang kalau naik angkutan saja mahal dan tidak gratis. Mau jenguk orangtua yang meninggal di Ambon saja sulit, apalagi mau ikut Mangente Ambon, kan lebih baik tidak usah,” pikirnya. 

Wattimena menilai program ’Mangente Ambon’ lebih bersifat elitis karena hanya dinikmati pejabat dan keluarga dekatnya saja. “Yang kita lihat program Mangente Ambon ini ibarat piknik bagi pejabat Pemkot dan DPRD Kota Ambon, karena manfaatnya tidak dinikmati masyarakat Maluku dari kalangan menengah ke bawah. Yang rasakan sosialisasi kan hanya kelas menengah ke atas, bukan rakyat kecil. Ini sama saja pemborosan anggaran karena tidak efektif dan efisien,” prihatin pria yang sudah lebih dari 30 tahun menetap di ibu kota Negara itu.

Wattimena mengusulkan anggaran sebesar itu sebaiknya dimanfaatkan untuk pembangunan destinasi-destinasi wisata maupun memperbanyak event-event seni budaya untuk merevitalisasi seni budaya dan kesenian daerah Maluku.

“Kalau uang sebanyak itu sudah digunakan untuk promosi wisata melalui media massa nasional dan internasional selama beberapa tahun pasti dampaknya jadi lain. Sebaiknya uang itu digunakan saja untuk memperbanyak event-event seni budaya dan olahraga sehingga memotivasi warga kota agar lebih kreatif dan inovatif,” imbaunya.

Wattimena mempertanyakan apa untungnya mendatangkan pemain-pemain SV Jong Ambon dan Ruud Gullit kalau akhirnya Pemkot harus mengeluarkan kocek besar untuk mendatangkan warga Belanda keturunan Maluku tersebut.

“Kalau saya ambil contoh Ruud Gullit, apa untungnya mendatangkan dia. Gullit kan tidak punya darah Maluku. Kalau mau lebih hebat itu, ya datangkan legenda-legenda sepakbola Indonesia dan dunia yang punya keturunan Maluku, seperti Rocky Poetiray, Ferril Hattu, Simson Rumahpassal, Giovanni van Bronckhorst, Simon Tahamatta, dan lainnya. Warga kota datang ke Lapangan Merdeka mungkin karena mereka haus hiburan, tetapi bukan karena Jong Ambon dan Gullit,” pungkasnya.  (09)

Pos terkait