Penyebabnya, hingga kini di tubuh manajemen PSA masih dikelilingi “rezim perusak sepakbola” yang bergentayangan ke sana kemari dengan target utama mencari keuntungan pribadi dan kelompok.
“Selama PSA masih dikelilingi ’resim perusak sepakbola’, saya yakin apapun namanya, termasuk kompetisi antarklub PSA hanya formalitas meski maksud pak wali kota mungkin tulus untuk memajukan sepakbola. Tolong catat apa yang saya tegaskan ini,” ujar Angwarmasse dalam bincang-bincang dengan Maluku Post di Café Joas, Jalan Said Perintah Ambon, Selasa (8/9).
Angwarmasse menyesalkan ketidakkonsistenan Ketua Harian KONI Ambon Yan Haumasse yang tidak melibatkan mantan-mantan punggawa PSA dekade 1970an hingga 1980an ke dalam komposisi kepanitiaan Kompetisi antarklub PSA memperebutkan Piala Wali Kota Ambon I-2015.
“Yang kita kecewa kenapa kita tak dipertemukan dengan pak wali kota, tetapi malah pengurus-pengurus PSA yang baru dan tidak pernah berprestasi bagi PSA yang direkrut ke dalam Panpel. Padahal, siapa tak kenal Kace Pattinasarany, Semy Talaperu, Yusuf Keliwawa dan lain-lain. Mereka kan anak-anak kemarin sore yang sebenarnya masih diragukan komitmen tulusnya untuk membangun sepakbola. Harusnya mantan-mantan PSA dekade 1970an dan 1980an yang masih hidup dilibatkan secara aktif untuk sama-sama mencari solusi memajukan PSA, terutama sepakbola di kota ini. Jangan pakai diskriminasi seperti itu,” kritik mantan pesepakbola terbaik Indonesia Timur di Makassar, Sulawesi Selatan, pada akhir dekade 1980an itu.
Angwarmasse juga mengecam sikap pengurus teras Asosiasi Provinsi PSSI Maluku yang tanpa alasan jelas tetap memberikan mandat caretaker ketua kepada sosok yang selama ini tidak punya keberanian mengorbankan dana pribadi sejak menjabat pimpinan tim sepakbola dan futsal Maluku.
“Kan lucu, orang yang gagal membangun pengcab PSSI kota selama hampir 10 tahun masih diberikan kepercayaan lagi sebagai caretaker ketua Askot PSSI Ambon. Apa di Ambon sudah tidak ada lagi orang yang mau memajukan sepakbola. Kalau urus bola hanya minta anggaran dari KONI Maluku ya tukang bersih sampah juga bisa. Ini namanya tidak tahu malu. Makanya hal ini yang tadi saya bilang di PSA dan sepakbola Maluku masih diatur ’rezim perusak sepakbola’. Jadi segala upaya apapun akan susah terwujud,” tandasnya.
Angwarmasse berujar jika ingin memajukan PSA agar berprestasi di kancah Nasional, tak ada pilihan lain selain pembersihan ’rezim perusak sepakbola’ dan wali kota sebagai pemegang kebijakan di kota Ambon turun gunung mengabdikan hidupnya secara total untuk sepakbola.
“Maju tidaknya PSA, tergantung kemauan pak wali kota sendiri, karena beliau kan pimpinan di kota ini. Lalu harus ada revolusi mental dan pembersihan ’rezim perusak sepakbola’ ini. Tanpa langkah-langkah bijak tersebut, apa pun yang akan dilakukan sifatnya hanya pencitraan dan ’parlente,” sindir Angwarmasse. (09)


