Ambon, Maluku Post.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku mengakui belum memiliki data resmi menyangkut luas areal hutan di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah yang terbakar sejak akhir November 2015.
“Kami belum mendapatkan data resmi mengenai jumlah lahan hutan yang terbakar termasuk di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT),” kata Kasie Kedaruratan BPBD Maluku, A. Rumaisery dalam rapat dengar pendapat dengan komisi C DPRD Maluku di Ambon, Jumat (16/10).
Namun BPBD Maluku sejak awal sudah melakukan koordinasi dengan badan penanggulangan bencana daerah terutama di Kabupaten SBT untuk menyiapkan drum penampung air untuk dipakai melakukan pemadaman.
Menurut dia, musim kemarau yang berkepanjangan di Maluku termasuk Kabupaten SBT selama beberapa bulan belakangan ini membuat sumber-sumber air di sana jadi kering.
Untuk masalah warga Teon, Nila, Sarua (TNS) yang pergi ke pulau itu untuk memanen cengkih namun terjebak bencana kelaparan juga telah dievakuasi oleh pemerintah untuk kembali ke Makariki (Pulau Seram) Kabupaten Maluku Tengah.
Ketua komisi C DPRD Maluku, Fredek Rahakbauw mengatakan saat ini legislatif telah menurunkan timnya ke Seram Utara untuk melihat kondisi hutan serta para pengungsi yang menjadi korban kebakaran hutan di sana.
“Setiap komisi mengirimkan dua anggotanya dan mereka dikoordinir Wakil Ketua DPRD Maluku, Richard Rahakbauw, sebab informasinya kebarakan itu sudah mencapai sekitar 8.000 hektare,” katanya.
Rembesan api yang ditiup angin kencang ini selain menghanguskan tanaman produktif milik warga, juga mulai merambah kawasan taman nasional Manusela. (MP-6)


