“Para ibu rumah tangga memiliki aktivitas kehidupan yang tidak jauh dari pengasuhan anak, sangat efektif kalau kampanye atau gerakan melawan kekerasan menyasar langsung kepada mereka, terutama yang terlibat di majelis taklim ataupun pelwata,” kata Direktur Walang Perempuan Daniella Loupatty di Ambon, Selasa (27/10).
Sebagai perkumpulan berbasis keagamaan, menurut Daniella, majelis taklim dan pelawata memiliki akses dan potensi yang besar dalam mendorong warganya untuk sadar dan peduli dengan tindak kekerasan terhadap anak yang tidak hanya terjadi di dalam rumah tangga tapi juga di lingkungan pergaulan, bahkan di institusi pendidikan.
Dengan menggandeng para wanita dari kelompok-kelompok keagamaan tersebut, dipastikan akan semakin menurunkan lebih banyak kasus tindak kekerasan terhadap anak karena masyarakat sendiri yang mengawasi lingkungannya.
“Kelompok-kelompok majelis taklim dan pelawata memiliki akses pengorganisasian yang bagus untuk bagaimana mendorong warga lebih ‘aware‘ (sadar) dan peduli dengan tindak kekerasan terhadap anak yang terjadi di sekitar mereka, selain itu secara emosional mereka juga dapat dikatakan akan didengar oleh sesamanya,” katanya.
Selama belasan tahun bekerja sebagai aktivis yang mengurus masalah perlindungan perempuan dan anak, kata Deniella, tindak kekerasan memiliki pola yang beragam dan selalu meninggalkan dampak merugikan terhadap korban seperti trauma dan rasa malu.
Khusus untuk kekerasan pada anak, dalam banyak kasus seringkali anak kemudian juga menjadi pelaku, baik itu kekerasan fisik, psikis seperti tindakan mengganggu atau melecehkan secara verbal, bahkan kekerasan seksual.
“Pertama-tama kami mensosialisasikan bagaimana mengenali pola-pola dari tindak kekerasan terhadap anak, tidak hanya kekerasan fisik tapi juga psikis, baik itu yang telah terjadi maupun sudah terjadi, kemudian bagaimana mengatasinya, termasuk akses untuk mendapatkan pertolongan dan pendampingan terhadap korban,” ucapnya. (MP-2)


