Ambon, Maluku Post.com – Pemerintah Kota Ambon mencanangkan Kelurahan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau sebagai kelurahan percontohan menu beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA).
“Kelurahan karang Panjang menjadi percontohan penerapan menu B2SA berbasis pangan lokal di setiap keluarga, sekolah, lingkungan dan perkantoran di kawasan tersebut,” kata Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, di Ambon, Rabu (4/11).
Menurut dia, penetapan kelurahan Karang Panjang sebagai percontohan menu B2SA setelah TP PKK kelurahan Karang Panjang selama tiga tahun menjuarai lomba cipta menu B2SA berbasis pangan lokal tingkat kota Ambon dan provinsi Maluku.
“Tahun 2013 Kelurahan Karang Panjang meraih juara II, tahun 2014 dan 2015 juara I dan mewakili kota Ambon ke tingkat provinsi Maluku. Tahun ini kembali meraih juara dan mewakili provinsi Maluku ke tingkat nasional di Palembang, Sumatera Selatan dan meraih Juara Harapan satu,” katanya.
Richard mengatakan, pencanangan percontohan menu B2SA di kota Ambon merupakan yang pertama di Indonesia, diharapkan akan dilanjutkan di kelurahan lainnya di Ambon.
Pencanangan ini lanjutnya merupakan indikator pangan lokal Maluku yakni sagu dapat diterima sebagai makanan nasional.
“Selama ini masyarakat mengenal suatu daerah karena makanan, seperti Gudeng dari Yogjakarta, Empek-empek dari Palembang, Bubur Manando, rendang dari Padang dan makanan lainnya, sedangkan Sagu belum mendapat tempat tersendiri di masyarakat Indonesia, karena itu kami berupa memperkenalkan pangan lokal tersebut,” ujarnya.
Diakuinya, sagu yang diolah menjadi pangan lokal seperti papeda dan bubu sagu memang belum mendapat tempat atau sesuai standar nasional, tetapi dengan pencanangan tersebut diharapkan dapat merubah rasa melalui menu B2SA.
“Setiap kali menjamu tamu dan wisatawan yang datang di Ambon, saya berupaya agar papeda sebagai makanan khas Maluku dapat ditampilkan bersama ikan kuah kuning dan aneka sayuran, saya berharap hal tersebut juga dapat dilakukan masyarakat lainnya,” katanya.
Ia menjelaskan, pihaknya berupaya mendorong pangan lola mendapat tempat terhormat, sagu sebagai makanan pokok jika diolah dengan menu B@SA akan menjadi nilai tambah.
“Jangan malu untuk memperkenalkan sagu sebagai identitas dan makanan masyarakat Maluku, karena jika bukan kita yang memulai maka tidak akan mendapat pengakuan dari masyarakat luar,” tandasnya.
Richard menambahkan, pihaknya dalam waktu dekat akan mendeklarasikan pangan lokal setiap sabtu menjadi makanan utama di setiap keluarga di Ambon.
Selain itu setiap rumah makan, restoran , hotel juga diminta untuk menyajikan pangan berbasis B2SA, yakni menjadikan sagu dan umbi-umbian sebagai makanan utama, menggantikan beras.
“Hal ini akan menjadi perhatian bersama, kita berharap TP PKK kelurahan Karang Panjang dapat menerapkan ke setiap keluarga dan lingkungan tempat tinggal dan pada waktunya nanti akan diikuti kelurahan lainnya di Ambon,” kata Richard Louhenapessy. (MP-5)


