LIPI Bahas Strategi Penelitian Kelautan 2015-2025

Ambon, Maluku Post.com – Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI membahas program dan strategi penelitian kelautan, pesisir dan pulau kecil untuk tahun 2015-2025, Jumat (6/11).

Pembahasan yang dibuat dalam bentuk fokus grup diskusi tersebut melibatkan lima pusat penelitan yang ada di LIPI, di antaranya Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD), Pusat Penelitian Geoteknologi dan Pusat Penelitian Oseanografi.

Deputi IPK-LIPI Zainal Arifin mengatakan forum tersebut digelar untuk mempertajam program dan strategi riset LIPI ke depan, guna mendukung kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo, yakni menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Karena itu, pertemuan tersebut juga akan membicarakan prioritas kebutuhan peralatan pendukung untuk mengoptimalkan riset, jika tidak memungkinkan untuk dibuat sendiri oleh LIPI, maka akan diupayakan untuk dibeli.

“Ada lima hal yang kami bahas di sini. Pertama terkait budaya maritim, menjaga dan mengelola sumber daya laut yang bukan saja ikan tapi juga mineral, termasuk bagaimana menghubungkan pulau-pulau seperti Jawa dengan Papua dan Maluku,” katanya.

Untuk kapal penelitian di laut dalam, kata dia, pihaknya akan mengusahakan untuk membeli kapal baru, karena kapal Baruna Jaya VII yang dioperasikan di Indonesia timur oleh P2LD telah berusia 18 tahun.

“Kita berharap memang ada investasi untuk pembelian kapal, terserah ini nantinya dibangun di Indonesia dengan supervisi dari negara-negara maju atau dibangun di galangan-galangan kapal yang sudah berpengalaman dengan kapal-kapal riset,” katanya.

Mantan Deputi IPK-LIPI Profesor Yan Sopaheluwakan mengatakan Indonesia pantas menjadi poros maritim dunia karena berada di antara dua samudera dan benua sehingga menjadi penyeimbang dan penyangga iklim global.

Dengan lebih dari sepertiga wilayahnya adalah laut dalam, terutama di bagian timur, keberadaan Indonesia sangat strategis dan menjadi pusat arus lintas, perlu memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang kelautan, sehingga bisa memainkan posisi tawar dalam pengembangan berbagai isu global berbasis kemaritiman.

“Paling tidak kita berupaya menjadikan laut dalam Indonesia unggul di Asia-Pasifik, karenanya untuk bisa menjadi penyeimbang kita harus mengerti betul apa yang dimiliki laut dalam kita, kita harus tahu baik itu arusnya maupun isinya karena sebetulnya laut dalam kita belum banyak tersentuh,” katanya. (ant/MP)

Pos terkait