Pangdam: BertanggungJawab Pertahanan Keamanan Di Maluku-Maluku Utara

Ambon, Maluku Post.com – Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo menyatakan pihaknya bertanggungjawab terhadap pertahanan keamanan di wilayah Maluku dan Maluku Utara dengan luas wilayah yang besar tersebar di ribuan buah pulau.

“Keamanan di wilayah Maluku dan Maluku Utara patut dipertahankan karena dua daerah ini seperti miniatur Indonesia, mengingat hampir semua suku bangsa ada, mulai dari Aceh sampai Papua, termasuk hampir semua agama resmi di Tanah Air,” katanya, di Ambon, Rabu (20/1).
Pangdam mengatakan hal itu dalam sambutan pada Perayaan Natal Keluarga Besar Kodam XVI/Pattimura, dibawah sorotan tema, “Dengan Semangat Natal 2015 Kita Mantapkan Motivasi Juang Prajurit TNI Dalam Menjaga Kedaulatan NKRI”.
Menurut dia, Provinsi Maluku dan Maluku Utara dengan luas wilayah yang sangat besar, TNI Angkatan Darat, ikut bertanggungjawab mengamankan kedaulatan NKRI, kendati banyak sekali keterbatasan mengingat sarana transportasi dan komunikasi ke seluruh pulau-pulau yang ada di dua provinsi ini belum memadai.
“Kita menyadari bahwa dengan luas wilayah yang sangat besar dan keterbatasan transportasi dan komunikasi, TNI AD tetap semangat, ulet dan gigih melaksanakan tugas, serta bekerja dan berbuat yang terbaik untuk bangsa,” ujarnya.
Pangdam mengakui, kehidupan masyarakat Maluku dan Maluku Utara sudah semakin baik, ini dirasakan sehari-hari dapat dilalui dengan rasa tenang maupun damai.
“Masyarakat di dua wilayah ini, memiliki rasa cinta kasih, hendaknya harus kita mempertahankannya,” tandasnya.
Namun, lanjut Pangdam, semua tahu bahwa ada upaya-upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, terutama yang bisa masuk ke sel-sel maupun ruang-ruang pribadi melalui alat komunikasi atau media sosial semakin canggih.
“Setiap saat otak anggota keluarga kita dicuci dan dipengaruhi untuk mau mengikuti keinginan mereka,” ujarnya.
Karena itu, peran tokoh agama, pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh adat sangat penting sekali.
“Setiap kesempatan, saya mengimbau kepada segenap keluarga besar Kodam XVI/Pattimura agar betul-betul bisa menghargai para pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda,” katanya.
Menurut dia, menghargai para tokoh agama, pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda, bukan tanpa alasan, karena sebagai anggota TNI bertugas mungkin dalam kurun waktu atau rentang waktu yang tidak lama, setelah itu pindah ke tempat lain.
“Mereka tahu persis apa yang menjadi aspirasi dari masyarakatnya. Karena itu, prajurit TNI harus pandai-pandai berkomunikasi atau berinteraksi dengan beliau-beliau ini, sehingga tugas pokok menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI dapat dilakukan dengan baik,” ujarnya.
“Kita tidak ingin peristiwa masa lalu terulang kembali dengan adanya gesekan antarakelompok dan antargolongan, ini harus kita hindari apa pun resikonya. Karena itu, apabila menghadapi persoalan atau masalah, kedepankanlah sikap mengalah untuk menang,” katanya.
Emosi yang dipendam, lanjut Pangdam, bisa menimbulkan masalah baru, sehingga kalau ada persoalan diselesaikan dengan baik.
“Selesaikan masalah tanpa masalah, jangan tambah masalah. Ini seperti motto Pegadaian. Penyelesaian persoalan harus arif dan bijaksana, tidak boleh dilandasi dengan sikap emosional. Apalagi masyarakat Maluku terkenal dengan perilaku yang sangat santun, menjunjung tinggi nilai-nilai kekerabatan dan persaudaran,” ujarnya.
Karena itu, lanjut dia, pihaknya membuat sebuah konsep bagaimana mencegah adanya konflik melalui larangan dengan tema, “Mari Kita melaksanakan Senyum, Sapa, Salam dan Silaturahmi(4S), jangan kita lakukan 4M. (Mabuk, Melotot, Marah dan Memukul)”.
“Saya mengharapkan peran para tokoh agama untuk senantiasa tidak bosan-bosannya mengkampanyekan untuk menghindari minuman keras (miras),” tegas Pangdam.
Kendati sebagian masyarakat di daerah ini mengatakan bahwa minuman sopi (minuman tradisional) bagian dari tradisi atau acara adat, namun harus dicermati, sejauhmana minuman ini bisa digunakan dalam acara ritual adat atau budaya.
“Minuman Sopi kalau tidak digunakan pada tempatnya, resikonya akan menimbulkan persoalan. Kerukunan yang ada hari ini, tidak bisa terpelihara dengan baik, manakala kita membiarkan beredarnya minuman keras dan setiap saat konflik pecah, hanya karena gara-gara masalah sederhana miras,” kata Pangdam Doni. (MP-8)

Pos terkait