Memahami Peran Musik Sebagai Pilar Peradaban Pada Masyarakat Kei Yang Belum Mengenal Tulisan
Oleh : Julius Russel, Etnomusikolog
Alumnus Institut Kesenian Jakarta
Buku ‘The Mysticism of Sound and Music’ karya Hazrat Inayat Khan menceritakan bahwa ada sebuah legenda terkenal tentang kehidupan Musa, ketika ia mendengar perintah Tuhan di gunung Sinai dengan kata-kata : ‘Musa ke”. Musa mendengar dan menerima wahyu yang diturunkan kepadanya dalam nada dan irama. Menurut Khan, kata-kata seperti ‘music’ atau ‘musik’ muncul dari kata itu. Kisah ini adalah bagian dari tradisi kerakyatan India, tidak boleh dipahami sebagai penjelasan etimologis.
Dari sudut pandang mistis, kisah di atas memperlihatkan bahwa pada satu sisi musik menjadi media yang memiliki kaitan erat dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diwahyukan. Kedua nilai itu patut dilakukan manusia sebagai makhluk Ilahi atau citra Tuhan (the image of God).
Pada masa lampau walaupun belum mengenal tulisan masyarakat Kei sadar sepenuhnya akan adanya kekuatan besar yang menciptakan dan menguasai alam semesta ini dan mereka tahu hal itu sulit dijelaskan dengan akal sehat.
Kesadaran akan adanya Penguasa alam semesta atau dalam bahasa lokalnya Duad melahirkan nilai-nilai kebaikan serta penghargaan terhadap alam semesta. Pola hidup seperti ini sudah muncul dalam sejarah peradaban masyarakat Kei berabad-abad yang lalu jauh sebelum masuknya budaya tulisan di kepulauan ini.
Suatu bukti nyata yang dapat memberikan penjelasan bahwa telah muncul gagasan tentang nilai-nilai kebaikan itu ditemukan dalam berbagai teks-teks musik tradisional masyarakat Kei di masa lampau, misalnya Snehat yailtahairu.
Salah satu jenis nyanyian adat ini mengajarkan pentingnya melakukan kebaikan untuk siapa saja atau dengan kalimat lain mengasihi sesama manusia adalah hal yang terutama yang harus dilakukan. Inilah sepenggal syair nyanyian adat itu :
edo welka lean la roro
Nung ded u weke leanlah roro
Ibokah nung ded ka yilat mas we
Nung ded yilat mas mehe waid me
Arti dari teks itu adalah jalan hidup ini masih panjang, berbuat kebaikanlah dalam perjalanan, itulah jalan leluhur, jalan yang berlapis emas, yang harus dilakukan.
Syair dari nyanyian adat ini memberikan pemahaman bahwa meskipun belum mengenal tulisan masyarakat Kei yang mendiami kepulauan Maluku Tenggara bukanlah manusia liar, kolot dan memiliki intelektual yang sangat rendah seperti pandangan-pandangan negatif yang pernah dilontarkan untuk mereka.
Sebutan buta huruf dan orang-orang yang hidup di belakang gunung yang pernah ditujukan pada masyarakat Kei karena membandingkannya dengan kehidupan masyarakat yang sudah mengenal tulisan adalah pandangan yang sangatlah keliru dan dapat dikatakan tidak benar sepenuhnya. Karena teks musik tradisional masyarakat Kei di atas memperlihatkan keadaan yang berbeda dari pandangan-pandangan negatif itu.
Secara antropologis, masyarakat Kei di masa lampau membangun pilar peradabannya dengan cara yang unik. Ini sama halnya dengan masyarakat yang belum mengenal tulisan di wilayah lainnya di luar kepulauan Kei.
Gagasan-gagasan tentang nilai-nilai kebaikan, hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta hubungan manusia dengan alam semesta disampaikan secara oral (tanpa notasi dan tulisan) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menyampaikan pengetahuan tentang kebaikan dan kebenaran secara oral melalui musik dengan tujuan untuk membangun pilar-pilar peradaban ditemukan juga pada masyarakat Aborijin di Arnhem Land, Australia.
Sebagaimana hasil penelitian William. P. Malm pada masyarakat Aborijin dan beberapa masyarakat tradisional lainnya seperti dipaparkannya dalam buku yang berjudul “Music cultures of the Pacific, the Near East, and Asia.”
Musik tradisional masyarakat Kei adalah keseluruhan dari perwujudan semangat moral (spirit) dan bobot nilai (contents). Dari sudut pandang spiritual, dapat dikatakan bahwa musik tradisional masyarakat Kei merupakan sarana permurnian diri.
Suatu upaya untuk menjauhkan manusia dari sikap kekerasan, kebencian, sakit hati, dan permusuhan. Lalu mengembangkan sikap batin yang bersahabat, murah hati, mudah mengerti dan dimengerti, serta selalu menghendaki kebahagiaan dan kesejahteraan bersama.
Dalam sejarah perkembangannya, musik tradisional masyarakat Kei berhasil membangun pilar-pilar peradaban yang agung dan luhur selama berabad-abad meskipun tak ditemukan tulisan pada masyarakat yang mendiami kepulauan Maluku Tenggara ini.


