Jakarta, Maluku Post.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tenggara (Malra) disarankan memberikan nama jalan sesuai tokoh-tokoh yang telah berjuang dalam pembentukan daerah tersebut.
Kriteria tokoh yang dimaksudkan yaitu berasal dari unsur politik, pemerintahan dan agama yang berasal dari Kepulauan Kei, dengan pertimbangan bahwa telah terjadi beberapa kali pemekaran di Kabupaten Maluku Tenggara, demikian disampaikan Mantan Anggota DPRD Kota Ambon Drs Hypolitus Layanan, MAP di Jakarta, Rabu (24/2)
Menurut Hypolitus, Tokoh pejuang dari Kepulauan Kei sejak Maluku Tenggara masih dengan nomenklatur daerah Swatantra Maluku Selatan sampai terbentuknya Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara adalah Abraham Koedoeboen, Vinansius Rahail, Hi. Abdul Gani Renuat, Bon Setitit/Pastor Yamco, Muhidin Madubun, Amabarak Renwarin, Ph. Renyaan serta Piet Tethool.
“Kita harus mengapresiasi beliau yang telah berjuang sejak terbentuknya daerah swatantra, pasca proklamasi 17 Agustus 1945 yaitu, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Babar dan Kepulauan Selatan Daya termasuk sebagai Daerah Swatantra Maluku Selatan sesuai Undang-Undang, Nomor 60 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II Dalam Daerah Swatantra Tingkat I Maluku.”ungkapnya.
Hypolitus katakan, argumentasi pemberian nama jalan protokol dari Pahlawan Nasional maupun tokoh daerah sejalan dengan ditetapkan Langgur sebagai Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara oleh Bupati, Wakil Bupati bersama DPRD, diharapkan pemberian nama jalan ini terwujud sejalan dengan konsep penataan ibu kota kabupaten kedepan sesuai dengan Peraturan Daerah.
Dijelaskan pula, perjuangan tersebut berlanjut sampai perubahan nomenkaltur daerah Swatantra Maluku Selatan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952. Dasar Peraturan Pemerintah tersebut sehingga pada tanggal 12 Agustus 1952, Maluku Tenggara dengan wilayah meliputi Kepulauan. Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Babar, dan Kepulauan Selatan Daya (Lomola, Kisar, Babar dan sebagainya) Dengan Ibukota berkedudukan di Tual.
“Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara, terjadi pemekaran pertama yaitu Kabupaten Maluku Tenggara Barat, kemudian Kabupaten Kepulauan Aru, menyusul Kota Tual. Terakhir Kabupaten Maluku Barat Daya dimekarkan dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat,” ujar Hypolitus Layanan yang saat ini menjabat sebagai Kepala Subdit Layanan Informasi Perwakilan Negara Asing dan Lembaga Internasional Kementerian Kominfo. (MP-1)


