Ambon, Maluku Post.com – Ketua I Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku, Abidin Wakano menyatakan warga negeri Mamala dan Morela sebenarnya “orang basudara” (bersaudara) yang harus hidup rukun dan damai serta saling membantu.
“Saya mempelajari sejarah, jadi saya tahu orang Mamala dan Morela itu sesungguhnya berasal dari satu ibu,” katanya, saat memberi kesan dan pesan pada acara pertemuan para tokoh dua negeri bertetangga tersebut di Ambon, Selasa (29/3) malam.
Acara itu digagas Korem 151/Binaiya dalam peringatan hari ulang tahunnya, yang digelar di kawasan Tapal Kuda.
Pertemuan itu juga merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan Kodam XVI/Pattimura dalam upaya menciptakan perdamaian abadi antara warga negeri Mamala dan Morela, yang sering kali berbenturan hingga menimbulkan korban harta dan jiwa.
Menurut Abidin, di Mamala dan Morela ada budaya seperti “Masohi” yang menunjukkan bahwa keduanya “orang basudara” dan semestinya hidup rukun dan damai dalam kebersamaan.
“Dalam budaya orang basudara itu dikenal istilah potong di kuku rasa di jari, ale rasa beta rasa, sagu salempeng dipatah dua. Ini artinya satu orang sakit maka saudaranya juga merasa sakit, bila yang satu susah, yang lain juga merasakannya, bila yang satu berlebih, harus berbagi dengan saudara-saudaranya,” katanya.
“Dulu, pembangunan masjid di Mamala pasti orang Morela yang mengerjakannya, demikian juga sebaliknya, masjid di Morela pasti yang bangun orang Mamala,” katanya menambahkan.
Selain raja negeri Mamala Ramli Malawat dan raja negeri Morela Yunan Sialana dan rombongan kedua negeri, pertemuan dalam tema besar Komunikasi Sosial Korem 151/Binaiya itu dihadiri juga oleh para pemuka agama Kristen, Hindu, Buddha, para komandan Kodim se-Maluku, dan Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Marlatu meminta warga Mamala dan Morela untuk menghindari provokasi yang ingin membenturkan mereka demi keuntungan pribadi.
“Jadi jangan sampai cue (provokator) yang untung,” katanya.
Ia juga memuji raja Mamala yang telah membuat peraturan yang memberi sanksi pengusiran terhadap siapa saja warga negeri yang melakukan perbuatan buruk dan dapat memancing bentrokan dengan negeri Morela.
Meskipun demikian, ia meminta peraturan itu diberlakukan dengan sangat bijaksana, karena mereka yang terkena sanksi suatu kelak bisa saja kembali untuk membangun negeri termasuk hubungan dengan negeri Morela ke arah yang lebih baik.
“Mereka juga saudara kita,” katanya.
Sementara itu, Komandan Korem 151/Binaiya Kolonel Inf. Edy Sutrisno menyatakan upaya menciptakan perdamaian sejati di antara warga Mamala dan Morela sudah dilakukan sejak Agustus 2015 dan akan berlanjut hingga deklarasi damai yang diharapkan terwujud pada Agustus 2016.
“TNI bersama Polri dan juga pemerintah daerah serta para tokoh Mamala dan Morela akan terus mengawal agenda ini,” katanya.
Mamala dan Morela adalah dua negeri bertetangga di Pulau Ambon, tepatnya di wilayah Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Dua negeri ini dikenal luas berkat tradisi Pukul Sapu, sebuah ritual adat yang diselenggarakan setiap tahun dan menjadi salah satu daya tarik pariwisata Maluku. (MP-4)


