Isabel adalah murid dari salah satu sekolah dasar negeri di Tangerang yang ikut serta dalam pertunjukan busana adat di hari Kartini beberapa hari yang lalu. Pertunjukan busana adat yang diikuti Isabel begitu juga dengan saudara-saudara seusianya di seluruh Indonesia adalah suatu kebiasaan yang sengaja dilakukan para pengiat pendidikan di tanah air. Dengan tujuan ingin menumbuhkan dan membangkitkan rasa kecintaan pada tanah air semenjak usia dini.
Namun ada hal menarik lainnya, ketika melihat pertunjukan busana adat yang diikuti Isabel dan saudara-saudara seusianya di seluruh Indonesia ketika menyambut hari Kartini beberapa hari yang lalu. Kebiasaan itu seakan mengajak kita untuk merenung kembali makna hari Pendidikan Nasional yang kita semua rayakan di hari ini. Sebuah renungan politis mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara di hari kemarin dan kini.
Tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasional karena perjuangannya untuk dunia pendidikan di masa penjajahan sangatlah besar. Atas jasa-jasa itulah Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia sesuai Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.
Ki Hadjar Dewantara menerapkan ajaran Tut Wuri Handayani dalam dunia pendidikan yang dibangunnya di tanah air. Tut Wuri Handayani artinya dari belakang memberikan dorongan moral. Inti dari gagasan itu adalah mengarahkan setiap orang agar hidup sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Menurutnya, cara yang tepat untuk mengarahkan setiap orang ke arah itu adalah melalui dunia pendidikan.
Nationaal Onderwijs Instituut Taman siswa atau yang lebih dikenal dengan nama Perguruan Nasional Taman Siswa yang didirikan bersama teman-teman seperjuangannya pada 3 Juli 1922, adalah bukti nyata bahwa Ki Hadjar Dewantara ingin menerapkan gagasannya tentang nilai-nilai moral melalui dunia pendidikan. Pendidikan di Perguruan Nasional Taman Siswa mengajarkan ajaran-ajaran moral dengan didasari rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Dalam konteks itu, jelas terlihat bahwa Ki Hadjar Dewantara tidak hanya seorang pendidik yang baik tetapi juga adalah seorang politikus yang hebat karena pada waktu itu ingin membawa kehidupan masyarakat Indonesia menuju pada suatu tatanan politis yang ideal. Yang di dalamnya terdapat politikus dan warga negara yang bermoral serta memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi demi tercapai tujuan-tujuan politis. Sebagaimana perjuangan Founding Fathers kita ketika melepaskan rakyat Indonesia dari tangan penjajah menuju kehidupan yang berdaulat dan merdeka.
Perjuangan yang sudah dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Founding Fathers kita seharusnya terus diupayakan secara maksimal agar seluruh masyarakyat Indonesia dapat merasakan manfaatnya. Namun saat ini untuk mewujudkannya bukanlah merupakan hal gampang. Di hari Pendidikan Nasional Tahun ini kita dihadapkan pada situasi perpolitikan di tanah air yang cukup memprihatinkan. Makna yang terdapat dalam ajaran Tut Wuri Handayani yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara semakin hilang dalam ruang perpolitikan di tanah air. Hilanglah makna ajaran-ajaran itu di satu sisi melahirkan krisis kepemimpinan nasional. Artinya, negara gagal mempersiapkan politikus sehebat Ki Hadjar Dewantara. Kegagalan ini menghadirkan fenomena baru dalam dunia perpolitikan di tanah air.
Munculnya pemimpin nasional di luar partai politik seperti Ahok adalah salah satu contoh fenomena yang bisa kita lihat saat ini. Hilangnya moralitas para politikus membuat kepercayaan masyarakat terhadap negara semakin berkurang dan membuat kita semua semakin sulit mewujudkan tatanan politis yang ideal seperti dibayangkan Ki Hadjar Dewantara. Masyarakat Indonesia sekarang ini seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Untuk menyelesaikan persoalan besar yang melanda dunia perpolitikan di tanah air maka kita perlu melakukan renungan politis. Renungan ini berpijak pada ajaran Tut Wuri Handayani yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara. Dengan merenungkan kembali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara maka kita pasti akan menemukan cara yang tepat untuk memperbaiki tatanan politis yang tidak ideal yang selama ini dibangun menuju yang ideal melalui dunia pendidikan. Sebagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa dunia pendidikan mampu melahirkan para politisi dan warga negara yang bermoral. Inilah modal utama untuk menata tatanan politis yang ideal itu.
Pertunjukan busana adat yang diikuti Isabel dan saudara-saudara seusianya di seluruh Indonesia memberikan renungan politis yang baik di hari Pendidikan Nasional ini. Selamat Hari Pendidikan Nasional !!!
Penulis : Julius Russel
Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Filsafat Politik


