Ambon, Maluku Post.com – Pemuka masyarakat Moa Herman Siamiloy mengecam keras sikap Kepala Kantor Kecamatan Moa, Daniel Saknosiwi yang mengerahkan massa delapan truk untuk melakukan perlawanan terhadap masyarakat Toinaman, pemilik lahan, pada 1 Juni 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila di seluruh Indonesia.
“Harusnya pemerintah itu bertindak sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, tetapi di Kabupaten MBD justru sebaliknya, karena Camat Moa mengerahkan massa delapan truk untuk melawan masyarakat Toinaman sebagai pemilik lahan yang sebelum pengalihan ibu kota kabupaten dari Kisar ke Tiakur telah mengibahkan tanahnya untuk pembangunan infrastruktur pemerintahan MBD,” kecam Siamiloy saat dikonfirmasi di Ambon, Selasa (14/6).
Siamiloy menyatakan apa yang dilakukan Saknosiwi bukan menunjukkan tipikal Abdi Negara yang baik, tetapi menampakkan tipikal pemerintah yang lalim, semena-mena dan tidak mampu memfungsikan diri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat yang baik dan dihormati masyarakat.
“Sebagai Camat Moa seharusnya saudara Daniel Saknosiwi tampil sebagai mediator yang baik, bukan malah menggunakan cara-cara premanisme untuk menakut-nakuti dan melawan masyarakat Toinaman sebagai pemilik hak ulayat.” Ungkapnya.
Siamiloy mengkritisi sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) MBD yang masih menggunakan cara-cara premanisme dan pola-pola Orde Baru untuk menyelesaikan masalah dengan warga.
“Kondisi masyarakat Toinaman sebenarnya aman-aman saja, tetapi yang membuat gaduh atau onar adalah Pemerintah Kabupaten MBD sendiri. Jangan hanya pandai gunakan slogan kita (MBD) negeri berbudaya, tetapi dalam praktiknya justru tidak mengedepankan adat istiadat yang elegan dan terhormat, melainkan masih menggunakan cara-cara kekerasan dan cara-cara tidak terpuji untuk merampas hak ulayat masyarakat,” bebernya.
Siamiloy berujar pemerintahan yang tidak berbasis pada kepentingan rakyat relatif menggunakan pola-pola klasik dan jalan kekerasan untuk merampas hak-hak milik masyarakat.
“Lebih baik benahi birokrasi MBD demi perbaikan kinerja daripada rakus merampas hak ulayat masyarakat yang selama ini mendambakan perhatian dan sikap pro pemerintahnya.” Pungkasnya.
Yang disesalkan Siamiloy mobilisasi massa delapan truk melawan warga Toinaman oleh Camat Moa terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2016.
“Sikap Camat Moa dan kroni-kroninya memang sudah sangat keterlaluan, sebab kejadian itu merupakan pelecehan terhadap hak-hak masyarakat.” tandasnya. (MP-09)


