Quilette de Fretes, Gadis Cilik Pemetik Ukulele Nan Menggetarkan

  • Whatsapp
Quilette dengan ukulele kesayangan

Kunyanyi Haleluyah
Sungguh kau hebat
Ajaib perkasa
Perbuatanmu di hidupku”

Refrein lagu “Kunyanyi Haleluyah”  di atas berkumandang memenuhi langit-langit Gereja Maranatha, Ambon, Minggu (26/1) petang. Begitu lagu selesai, Pendeta Rudy Rahabeat dan Jemaat menyambutnya dengan tepuk tangan sukacita.

Quilette de Fretes, gadis cilik usia 11 tahun, baru saja tampil penuh pesona. Dengan memetik sepucuk ukulele di tangan, dialah yang melantunkan “Kunyanyi Haleluyah” yang menggetarkan.

Puji-pujian kepada Tuhan di Gereja Maranatha memang selalu menggetarkan. Beragam musisi dan biduan terbaik selalu memuliakan Tuhan dengan talentanya. Sudah biasa bagi jemaat yang beribadah di Maranatha menyaksikan semua itu. Akan tetapi, Quilette yang baru duduk di kelas 6 SD Negeri 2 Tanah Tinggi Ambon dengan sajian sepucuk ukulele tetaplah disambut secara istimewa.

Quilette memang baru pertama kali tampil di Gereja Maranatha. Sebelumnya dia pernah tampil solo juga di Gereja Josep Kam.

“Beta baru pertama kali tampil di Maranatha. Om Kace Lasamahu yang ajak ke Maranatha,” jelas Quilette kepada Media Online Maluku Post di Ambon, Senin (27/1).

Puteri bungsu pasangan Berly Roland de Fretes dan Jolanda Leiwakabessy ini mengaku baru belajar gitar satu tahun. Itu pun kebetulan saja, melihat seorang kawan sekolah bernama Chealsea Tutuarima membawa ukulele ke sekolah.

“Beta lihat Chealsea bawa ukulele ke sekolah, langsung beta tertarik,” kata Quilette.

Quilette berkisah, ketika ayahnya pulang dari Amerika, dia meminta dibelikan ukulele. Setelah itu, ibunya membawa berlatih bersama Ambon Ukulele Kids Community (AUKC) bersama Nicho Tulalessy dan Rio Efruan di Amahusu.

“Mula-mula, beta belajar sendiri di youtube, lalu masuk di AUKC,” ujar Quilette.

Setelah beberapa kali latihan, Quilette sempat tampil bersama AUKC. Dari situ, dirinya berani tampil sendiri di Gereja Josep Kam, Festival Jalan Baru, dan sebuah lomba yang diselenggarakan AMGPM Bethel.

“Di Bethel, saya jadi juara pertama untuk voting terbanyak,” ungkap Quilette.

Saat tampil di Gereja Maranatha, Quilette mengaku sempat grogi karena menghadapi jemaat yang banyak. Untuk menghilangkan grogi, Quilette mengaku, pada detik-detik terakhir sebelum tampil, dia berdoa.

“Beta sebut saja nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, langsung tidak grogi,” kata Quilette.

Quilette mengaku ingin kelak menjadi polisi wanita. Alasannya, karakternya cocok menjadi polisi. Dia berjanji, kelak jika menjadi polisi, dia akan tetap bermain ukulele.

Meskipun masih di kelas enam SD, Quilette berpendapat, di kota musik ini, anak-anak Ambon sudah harus mengembangkan talenta sejak dini. Kuncinya adalah terus mengembangkan talenta, dan berani tampil di hadapan umum.

Quilette menyebutkan, bermain ukulele dalam kelompok besar maupun tampil solo, sama-sama punya keunikan. Kalau dalam grup besar AUKC yang lebih 50 orang, ada seru-serunya. Sedangkan kalau tampil solo, dia bebas bermain tanpa harus menyesuaikan diri dengan pemain lain.

“Pokoknya, main dalam grup maupun tampil solo, beta suka dua-duanya,” pungkas Chealsea. (rudi fofid/malukupost/foto Berly Roland de Fretes)

Pos terkait