Kadinkes Malra Bantah Adanya Pasien Covid-19(+) Di RSUD Langgur

  • Whatsapp
Konfensi pers Satgas
Sekretaris Satgas/Kepala Dinas Kesehatan Malra, dr. Katrinje Notanubun (tengah), Ketua Satgas/Kepala BPBD Malra, Drs. Mohtar Ingratubun, M.Si, (kanan) dan Kepala Dinas Infokom, Walken Raharusun, S.I.P. Langgur. Kamis (26/3/2020).

Langgur, Malukupost.com – Warga masyarakat Maluku Tenggara (Malra) sempat dihebohkan dengan informasi yang disebarkan di media sosial (FB dan WA) terkait adanya Pasien Covid-19 (+) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karel Sadsuitubun Langgur.

Informasi (postingan) di media sosial (facebook) tersebut sangat meresahkan warga, mengingat Pemerintah Daerah (Pemda) Malra lewat Satuan Gugus Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Malra tengah gencar-gencarnya melakukan sosialisasi maupun upaya-upaya pencegahan virus Corona tersebut.

“informasi di media sosial maupun di tengah masyarakat tentang adanya pasien Covid-19 di RSUD Karel tersebut sangat menyesatkan dan tidak benar (berita hoaks),” ujar Sekretaris Satgas, dr. Katrinje Notanubun saat konfrensi pers di Langgur, Kamis (26/3/2020).

dr. Notanubun yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Kadinskes) setempat menjelaskan, satu pasien yang berada di RSUD Karel yakni pasien dengan status Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“perlu warga ketahui bahwa, yang pertama ketika ada anggota warga atau keluarga kita yang datang (pulang) dari bepergian, kita kategorikan dia dalam pelaku perjalanan. Bisa saja dia dalam keadaan panas, batuk, pilek dan sebagainya. Di bandara maupun pelabuhan motor kami lakukan pemeriksaan suhu tubuh, jika panas maka kami akan periksa lebih lanjut,” ungkapnya.

Semua pelaku perjalanan ini dihimbau untuk melakukan isolasi mandiri (karantina mandiri). Dan jika terdapat gejala-gejala panas, batuk, demam atau gangguan nafas, segera hubungi call centre yang ada, baik itu posko-posko dan rumah sakit.

“yang kedua, bahwa pelaku perjalanan bisa saja sudah dalam keadaan sakit, maka pelaku perjalanan ini tidak serta merta langsung dimasukkan dalam Orang Dalam Pemantauan (ODP) tetapi harus dilakukan pemeriksaan kesehatan,” katanya.

Menurut dr. Notanubun, jika sudah ditetapkan sebagai ODP, maka pihaknya juga harus melakukan pemeriksaan lanjut, baik itu laboratorium maupun radiologi, untuk selanjutnya ditetapkan sebagai PDP (Pasin Dalam Pengawasan).

“kalau statusnya PDP, maka sudah saatnya kita rawat di rumah sakit. Disini kita punya dua rumah sakit yakni di RSUD Karel maupun RS Hati Kudus Langgur,” tandasnya..

Terkait karantina bagi pasien ODP, dr. Notanubun menegaskan, setiap ODP harus dikarantina, dan semua pelaku perjalanan wajib dilakukan isolasi mandiri atau karantina mandiri dengan cara tinggal tetap di rumah, menjaga jarak (1 meter), dan bila perlu dirumahnya kamar tidurnya tersendiri, perlengkapan kebutuhannya (makan, minum dan mandi) juga harus tersendiri.

“saya menghimbau kepada kita semua termasuk juga tenaga kesehatan agar jangan menyebarkan informasi yang tidak benar karena nanti akan meresahkan masyarakat. Jika timbul keresahan dan strees di masyarakat maka otomatis imunitas (kekebalan) tubuh kita akan berkurang,” tuturnya.

Selain itu, dr. Notanubun juga mengajak masyarakat Malra untuk tetap membangun pikiran positif bahwa kita tetap sehat, dan terus berupaya melakukan pencegahan dengan baik, meningkatan ketahanan tubuh kita serta melakuan social distancing. (MP-15)

Pos terkait