Bupati Malra Perintahkan Pemeriksaan RDT Terhadap Seluruh ASN Kantor DLH

  • Whatsapp
Kepala DInas Kesehatan sekaligus Juru Bicara Gustu Covid-19 Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), dr. Katrinje Notanubun, M.Kes

Langgur, Malukupost.com – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 Kabupaten Maluku Tenggara (Gustu Covid-19 Malra), dr. Katrinje Notaubun mengungkapkan, pihaknya segera melakukan tracing terhadap seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) pada kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat tanpa terkecuali.

Menurutnya, sesuai prosesnya maka akan dilakukan pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT/Rapid Test).

“Pak Bupati sudah perintahkan agar dilakukan pemeriksaan RDT di RSUD KS Langgur terhadap seluruh ASN/pegawai yang ada pada kantor DLH, dan kemarin sudah mulai dilakukan pemeriksaan RDT,” ujarnya di Langgur, Jumat (26/6/2020).

Selain terhadap seluruh ASN kantor DLH, akan dilakukan pula pemeriksaan RDT terhadap mereka-mereka yang diketahui melakukan kontak dengan seluruh pegawai/ASN kantor DLH beberapa hari lalu.

“Selain itu, pak Bupati juga perintahkan agar lakukan RDT/Rapid Test terhadap orang-orang yang ikut dalam syukuran ulang tahun kadis lingkungan hidup beberapa hari lalu,” tuturnya.

Untuk diketahui, dilakukannya tracing tersebut karena mengingat salah satu dari dua pasien asal Kota Tual yang terkonfirmasi Covid-19 yakni SLJ (43) merupakan ASN aktif pada kantor DLH Malra.

“Setelah SLJ ditetapkan sebagai pasien terkonfirmasi COvid-19, maka selanjutnya akan dilakukan tracing oleh Gustu untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di Malra. Mudah-mudahan hasilnya Non-reaktif, tetapi jika Reaktif, maka sesuai prosedur akan dilanjutkan dengan pemeriksaan SWAB (PCR),” tegasnya.

dr. Notanubun mengatakan, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan yang sama terhadap para oknum personil TNI AU yang bertugas di bandara Karel Sadsuitubun Ibra Langgur.

Foto ilustrasi Pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT/Rapid Test)

Menurutnya, pemeriksaan tersebut dilaksanakan karena mengingat pada saat pemeriksaan RDT terhadap pasien EM di bandara oleh para oknum personil TNI AU tersebut, bukanlah di tempat (sarana) kesehatan dengan perlengkapan seadanya.

Selain itu, keluarga (kakak kandung) dari pasien terkonfirmasi EM (52) yang tinggal di Langgur juga dilakukan pemeriksaan RDT.

“Saat pasien EM dinyatakan Reaktif di bandara waktu itu, kakak kandungnya yang turut mengantar ke bandara juga telah diperiksa RDT saat itu pula. Hasil pemeriksaan kakaknya adalah Non-reaktif,” imbuhnya.

Selanjutnya terhadap kakak kandung EM akan dilakukan pemeriksaan RDT Kedua (7-10 hari) sejak pemeriksaan pertama. Sementara untuk isteri dari kakak EM serta seluruh keluarganya di rumah dan mereka-mereka yang sehari-hari melakukan aktifitas di warung, counter handphone dan bengkel milik kakak EM juga akan dilakukan RDT sebanyak dua kali.

“Meskipun pasien EM itu berdomisili di Kota Tual, namun sambil mengunggu pesawat untuk berangkat itu dia tinggal di rumah kakanya di Langgur, jadi wajib untuk dilakukan tracing terhadap mereka, apalagi pasien EM sudah trkonfirmasi positif Covid-19,” jelasnya.

Untuk diketahui, didalam SOP Protokol Kesehatan, jika terhadap seseorang dilakukan pemeriksaan RDT maka ada dua kemungkinan hasilnya, yakni Non-reaktif dan Reaktif.

“Jika hasilnya Reaktif maka kita teruskan pemeriksaan lebih lanjut untuk penentuan diagnosa (konfirmasi) yaitu pemeriksaan SWAB. Tetapi, jika hasilnya Non-rekatif, maka itu belumlah selesai. Kami akan mengulangi pemeriksaan RDT Kedua (7-10 hari). Jika RDT kedua hasilnya positif, tetap akan dilanjutkan ke pemeriksaan SWAB (PCR). Dan apabila pada pemeriksaan RDT pertama dan Kedua hasilnya negatif maka dipastikan tidak ada Covid-19,” tukasnya.

Untuk itu, kepada seluruh warga masyarakat khususnya bagi mereka yang pernah melakukan kontak erat (fisik) dengan pasien yang sudah terkonfirmasi Covid-19 diminta untuk jujur dan terbuka pada saat Gustu Covid-19 melakukan tracing.

“Pasien yang sudah terkonfirmasi Covid-19 juga harus jujur dan terbuka mengatakan siapa-siapa dan dimana saja yang bersangkutan melakukan kontak. Yang berikut adalah kepada orang-orang yang dicurigai pernah melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi, agar dengan suka rela melakukan pemeriksaan darah. Karena kita tahu bersama bahwa banyak orang yang menolak untuk diperiksa,” pungkasnya.

Pos terkait