Film Terbaik Nasional Dari Kei, Kesederhanaan yang Mewah

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Bocah Imran (Imransyah Hurasan), kelas enam SD. Dia tinggal bersama ibunya (Roswati Hurasan) pada sebuah kampung nelayan di Kei, Maluku. Situasi pandemi covid-19 membuat dia hanya bisa beraktivitas di rumah.

Kejenuhan akhirnya melanda diri Imran. Dia rindu sekolah. Persis tanggal 17 Agustus, Imran pun akhirnya meninggalkan rumah, tanpa sepengetahuan ibunya.

Nahas. Di jalan, Imran disenggol mobil truk pengangkut pasir. Ia jatuh dan lututnya berdarah. Dengan terpincang-pincang, Imran melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Babinsa (Kopda Idgam Ngangun) yang kebetulan melintas di situ, langsung menolong. Imran digendong sampai di sekolah.

Babinsa terharu melihat Imran sendirian di sekolah bersama tiang bendera yang kosong. Babinsa kemudian meminjam selembar bendera merah putih di rumah para tetangga dekat sekolah. Jadilah Babinsa dan Imran berdua mengibarkan bendera merah putih sampai di ujung tiang.

Begitulah kisah kecil tentang Imran, anak kampung yang rindu sekolah, dalam film pendek berjudul Tujuh Belas. Film Tujuh Belas adalah karya tim kerja Adfuntour Kei dari anak-anak muda Tual dan Malra. Mereka adalah Producer Irsyad Renuat,
Line Produser Lexy Andhika, Kamera Firman dan Emus Larmawata, Sound Operator Jhopie L,  Properti Kamal Hadi
Pria F. SumreskosuFanny Keindah Wemay, Piano Presley Talaut.

Film Tujuh Belas baru saja memenangkan dua gelar film terbaik nasional yang diselenggarakan Gerakan Muda Ono Niha (Gemoni) dan didukung Kemenpora RI. Tujuh Belas menyabet gelar film pendek terbaik untuk kategori “umum”. Dua film pendek lain yang juga menang adalah Kategori Mahasiswa film Re-Dream, (Champz Production), dan Kategori Siswa, diraih film Alit (Teater La Jose). Dari seluruh kategori ini, Tujuh Belas dinobatkan sebagai pemenang umum seluruh kategori.

Tujuh Belas memang pantas menerima gelar film terbaik, pilihan dewan juri festival yang bukan orang sembarangan. Dirjen Kebudayaan Wilmar Farid langsung menjadi ketua dewan juri. Anggotanya artis senior Indonesia Jajang C. Noer, Rano Karno, Ruby Kholifah, dan Yas Harefa.

Menonton film berdurasi 14,46 menit ini, terasa bahwa ungkapan Leonardo da Vinci pas untuk film ini. Simplicity is the ultimate sophistication. Kesederhanaan adalah kemewahan tertinggi.

Kesederhanaan film ini sudah dimulai dari judulnya. Tujuh Belas, tanggal kemerdekaan Indonesia. Para sineas muda di Kei ini, pandai memainkan keharuan dengan menyuguhkan sekaligus Kei nan eksotik, kehidupan rural, dihantar lagu tenar Indonesia Pusaka oleh vocal bening Fanny Wemay. Mereka mengelola sebuah elemen sederhana sekaligus fundamental: Rindu.

Akting Imran dan ibunya yang natural, mengawali cerita kehidupan sederhana di kampung. Emosi mulai menanjak pada menit keempat manakala Imran ngotot ke sekolah.

Tujuh Belas menyuguhkan paradigma terbalik dalam keseharian. Imran “lari rumah” untuk bisa memenuhi rindu pada sekolah, bukan “lari sekolah” untuk bisa pulang ke rumah.

Kejuangan dimulai dari sini. Imran digambarkan lari rumah dengan kaki telanjang, sampai jarak lumayan dari rumah, barulah dia pakai sepatu. Tentu, dia tidak ingin gagal lari rumah, demi mewujudkan rindunya.

Keharuan yang kuat dilukiskan ketika sosok babinsa dengan seragam lengkap, menggendong Imran di punggungnya. Sosok militer yang ramah, mengayomi masyarakat, disuguhkan secara apik pada scene ini.

Dialog babinsa dan Imran di punggungnya menjadi jiwa film ini. Imran sudah tahu, di sekolah tidak ada orang, tetapi dia memang memilih ke sekolah pada tanggal 17 Agustus.

“Barang, su lama seng baku dapa deng teman-teman lai. Apalagi, bagini ada upacara di sekolah, beta mau ikut,” kata Imran di punggung babinsa.

Keputusan Babinsa yang tertegun melihat Imran dan tiang tanpa bendera adalah pesona lain. Penonton masih disuguhkan keharuan berikut, ketika Imran mengeluarkan seragam dan topi dari dalam ransel. Dia mengenakannya agar bisa hormat kepada bendera.

Salut untuk sutradara Firman Musaad dan semua anggota tim film Tujuh Belas. Ide, naskah, kamera, artistik, musik, penyuntingan, semuanya nyaris sempurna.

Promosi keindahan alam Kei, terselip dalam film ini. Andai pilot drone bisa membuat “one shoot” Imran dan keindahan itu sebagai satu kesatuan. Misalnya saat Imran memancing. Drone di atas kepala Imran, dari middle sampai long shoot.

Film ini layak ditonton semua umur, didiskusikan di sekolah-sekolah, kampus, kota, dan kampung. Para komunitas kreatif di Tual dan Maluku Tenggara perlu membawa Tujuh Belas ke kampung-kampung.

Saya menulis resensi kecil ini dengan mata dan hidung yang basah berkali-kali. Saya ingin menggendong Imran nanti, bocah bermarga Ambon yang berbahasa Kei dalam film ini.

Selamat untuk sineas Evav. Kalian baru saja menulis sejarah emas dengan tangan sendiri. Semoga akan lahir karya-karya baru lagi dari Tanah Kei. Tidak juara juga tidak apa-apa, yang penting bermutu. Film bermutu akan membawa dirinya sendiri ke pentas film dunia. Tabe-hormat, malhen i mel. (Malukupost.com/foto crts tujuh belas) 

Pos terkait