PMKRI Teropong Maluku dari Amahusu: Musik Sebagai Jalan Pembebasan

  • Whatsapp
Seniman Yonas Silooy dan salah satu kelompok ekskursi sosial PMKRI Cabang Ambon dalam sesi wawancara di Sanggar Booyratan, Senin (30/11). (foto pmkri)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Musik adalah media dan jalan pembebasan.  Musik sanggup membebaskan manusia dari berbagai belenggu kehidupan.  Demikian penggalan refleksi teologis yang dihasilkan para mahasiswa Katolik yang melakukan ekskursi sosial di Negeri Amahusu, Kota Ambon.

Ekskursi sosial dilaksanakan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ambon, bagi para calon anggota PMKRI yang mengikui Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) dan Masa Bimbingan (Mabim) angkatan 2020.  Kegiatan tersebut berlangsung di studio tari Sanggar Booyratan, Amahusu, 28-30 November 2020..

Panitia MPAB dan Mabim PMKRI Cabang Ambon sebelumnya menghadirkan anggota penyatu PMKRI Agus Ufie sebagai narasumber untuk membekali peserta sebelum terjun ke lapangan.  Panitia selanjutnya menghadirkan dua narasumber yang selama ini dikenal sebagai pentolan seni tradisi asal Amahusu.  Keduanya adalah Nico Tulalessy dari Ambon Ukulele Kids Community (AUKC) dan Yonas Silooy dari Sanggar Booyratan.

Tulalessy dan Silooy memaparkan kisah suka dan duka mereka mengelola komunitas seni tradisi.  Meskipun banyak tantangan dalam gempuran budaya global, keduanya bersama para seniman di Amahusu sanggup bertahan, malah terus berkembang.

“Musik tradisi yang dikembangkan seperti Ukulele dan Tifa Totobuang, ternyata sanggup membebaskan anak-anak milenial dari belenggu gawai, terutama permainan-permainan daring,” demikian simpulan presentasi kelompok ekskursi sosial, Senin (30/11) petang.

Peserta ekskursi sosial pun menemukan kenyataan lain bahwa ukulele dan totobuang ternyata lebih dari sekadar musik.  Alasannya, melalui kolaborasi musik dengan berbagai kelompok seniman, mereka memiliki hubungan-hubungan baik dengan komunitas di berbagai wilayah lokal dan nasional.

“Karena alasan musik, anak-anak Kebun Cengkih yang Muslim mendapat kesempatan bermain musik dengan anak-anak Kristen di Amahusu.  Hal ini membuat mereka terbebas dari prasangka dan trauma,” papar kelompok ekskursi sosial.

Kehadiran Tulalessy dan Silooy di tengah PMKRI Cabang Ambon, mendapat apresiasi besar pengurus PMKRI dan para anggota baru.  Kelompok ekskursi memberi rekomendasi kepada pemerintah agar memberikan perhatian semakin besar kepada pengembangan seni tradisi, baik di Amahusu maupun negeri-negeri lain di seluruh Maluku.

Anggota Presidium Pendidikan dan Pengkaderan Edi Martinus Tebwaiyanan kepada Media Online Maluku Post  menjelaskan di Amahusu, Senin (30/10), MPAB dan Mabim yang dilaksanakan di Amahusu berakhir dengan diterimanya 23 anggota baru PMKRI.   Setelah menempuh berbagai proses pembinaan, mereka akhirnya dapat dilantik sebagai anggota PMKRI angkatan 2020. (Malukupost.com)

Pos terkait