Julia Manufury, Sang Peracik Ukulele Evav

  • Whatsapp
Julia Manufury dan anak-anak binaannya di Tibe One Ukulele (foto dok julia)
Julia Manufury dan anak-anak binaannya di Tibe One Ukulele (foto dok julia)

Laporan Rudi Fofid-Langgur

Malukupost.com – Mula-mula, nona manis Julia Manufury dikenal sebagai penyanyi rap. Ia bersama dua rekan perempuan Lia Mifja dan Juliet Fousa membentuk grup South East Family. Mereka bergabung dalam komunitas hip-hop Tahury Family di Ambon. Pentolannya, Eroz ‘Mr E’ Riry.

Pada Konser 20 Tahun Glenn Fredly di Ambon, Julia dkk sempat terlibat. Dari Tual, dia harus ke Ambon, tampil di panggung sebagai rapper dan vokalis.

Baru lima bulan belakangan ini, sejak November 2020, Julia makin dikenal sebagai perempuan peracik ukulele di Kei, tanah kelahirannya. Semua itu karena dialah pendiri Tibe One Ukulele dan Kei Islands Ukulele.

Musik bukanlah baru bagi sang gadis kelahiran Tual, 21 Desember 1993. Ayahnya Naiks Manufury adalah guru kesenian. Dari sang ayah, Julia dan dua saudaranya bisa bermain gitar sejak kecil. Ibunya, Atta Fordatkosu adalah seorang perawat yang aktif bernyanyi di gereja.

“Kaka Menrow, beta, adik Jacky, dan papa sering tampil dalam ibadah-ibadah dengan formasi Kwartet Forman alias Kwartet Fordatkosu-Manufury,” ujar Julia yang ditemui Media Berita Maluku Post, di Langgur, Jumat (16/4).

Julia berkisah, meskipun leluhurnya berasal dari Latdalam di Tanimbar, namun sejak lahir dia sudah di Tanah Evav. Lantaran tinggal di lingkungan mayoritas Katolik, Julia menempuh pendidikan di SD Mathias 2, SMP Budhi Mulia, dan SMA Sanata Karya, semuanya di Langgur.

Setelah lulus SMA, barulah Julia kuliah di Universitas Pattimura Fakultas MIPA Jurusan Biologi angkatan 2011. Dia tamat kuliah tahun 2017, lalu pulang ke Kei. Sempat bekerja tahun 2019 di sebuah instansi swasta, namun dia harus mundur karena mengurus pengobatan ayahnya di Makassar.

Julia mengaku sempat mengenal Amboina Ukulele Kids Community melalui media sosial, sehingga diapun berniat membangun komunitas sejenis di Kei. Dari situ, setelah kembali dari Makassar, dia membeli lima buah ukulele sekaligus.

“Beta mulai dengan lima anak SMP. Dua lelaki dan tiga perempuan. Inilah cikal-bakal Tibe One Ukulele,” ungkap Julia.

Kelima remaja itu adalah Dede Fordatkosu, Enjes Koanyanan, Putri Masbaitubun, Mey Jadera, dan Tasya Elwarin. Julia memberi motivasi kepada mereka, bahwa berlatih saja demi memuliakan Tuhan.

Sebulan berlatih, mereka pun bernatsar, akan bermain musik ukulele di gereja sepanjang minggu-minggu Advent.

“Kami lakukan semua itu pada minggu-minggu Advent, dan tidak disangka, dukungan datang dari mana-mana. Kami yakin, semua itu adalah berkah Tuhan semata,” ujar Julia.

Julia bercerita, kelompok Tibe Ukulele bisa berkembang karena dukungan ayah-bundanya, maupun orang tua para musisi. Dari situ, mereka bisa tampil bermusik dalam ibadah unit hari Jumat. Sedangkan hari Minggu, mereka mendapat kesempatan bermusik di Balai Kerohanian Langgur, lantas Gereja Anugerah Ohoijang.

Walau baru lima bulan, Julia mengaku anak-anak asuhnya penuh semangat dan makin matang. Apalagi, anak-anak mulai mendapat undangan ke luar gereja.

Tibe One Ukulele sempat tampil memukau di pelataran Gedung DPRD Maluku Tenggara. Saat itu, Bengkel Sastra Nuhu Evav menggelar pentas puisi bertajuk Jejak Sastra Teten Evav. Sebagai bintang tamu bersama Tual Ukulele Lovers Community, para musisi ukulele mendapat sambutan luar biasa dari para seniman dan pejabat daerah.

Julia bergembira sebab upaya membangun musik ukulele di tanah Evav, mendapat dukungan dari komunitas yang lebih besar di Ambon. Pendiri Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) Nico Tulalessy, datang memberi pembelajaran ukulele di Kei, selain juga memberi donasi alat-alat musik.

Melihat semangat anak-anak dan remaja di Tanah Evav, Julia bertekad bahu membahu dengan sesama musisi ukulele di Kei. Dengan saling mendukung, dia yakin ukulele akan semakin hidup di Tual dan Maluku Tenggara. (malukupost.com)

Pos terkait