Gereja Santo Yosep Ohoijang, Lambang Toleransi Dan Solidaritas Di Malra

Penandatanganan Prasasti Peresmian Gereja Katolik Santo Yosep Paroki Ohoijang oleh Uskup Agung Merauke sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC dan Bupati Maluku Tenggara Drs. Hi. Muhamad Thaher Hanubun. Senin (14/6/2021).

Langgur, Malukupost.com – Gereja Katolik Santo Yosep Ohoijang telah diresmikan dan diberkati oleh Yang Mulia Uskup Agung Merauke sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, Senin (14/6).

Peresmian dan Pemberkatan Gereja tersebut ditandai pula dengan penandantangan Prasasti Gereja oleh Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC dan Bupati Maluku Tenggara (Malra) M. Thaher Hanubun.

Bupati Hanubun dalam pernyataan persnya di Langgur, Selasa (15/6/2021) mengungkapkan bahwa pembangunan gereja dimaksud turut melibatkan umat Islam, Kristen Protestan dan Hindu, sehingga disebut sebagai lambang toleransi dan solidaritas.

“Selain arsitekturnya indah yang menjadikannya sebagai ikon, Gereja yang diberkati dan diresmikan oleh Yang Mulia Bapa Uskup ini adalah lambang solidaritas dan toleransi antarumat beragama,” ujarnya.

Untuk diketahui, sejak dilakukannya peletakan batu pertama pada tahun 2007 lalu, pembangunan Gereja tersebut dilakukan secara bergotong-royong oleh umat Katolik, Muslim, Kristen Protestan dan Hindu setempat.

Selain itu, tradisi orang suku Kei yang disebut dengan Yelim juga mewarnai pelaksanaan pembangunan Gereja tersebut.

Tradisi yelim dimaksud yakni kelompok masyarakat atau keluarga mengumpulkan seserahan (bantuan) berupa hasil kebun dan laut atau hasil lainnya untuk meringankan dan membangu orang atau kelompok lain.

Yelim tersebut dibawa dan dihantar pada peresmian dan pemberkatan Gereja Santo Yosep Ohoijang yang juga melibatkan umat lintas agama dan ohoi (desa) di Malra.

Bupati Hanubun menjelaskan, gedung Gereja Santo Yosep Ohoijang adalah lamang cinta yang begitu besar, karena melibatkan umat bergama di Malra, dimana semuanya menjadi satu untuk membantu pembangunan.

Menurutnya, toleransi antarumat beragama tetap terjaga, begitu juga budaya gotong royong yang dalam istilah setempat disebut dengan Maren yakni masyarakat saling membantu dalam bingkai persaudaraan sebagai masyarakat Kei tanpa memandang perbedaan.

“Ini menunjukkan bahwa semangat dan jiwa kita sebagai anak Kei tetap masih ada di bumi Larvul Ngabal, dengan rasa saling memiliki satu sama lain. Untuk itu, Pemkab Malra sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Uskup P. C. Mandagi MSC dan seluruh umat Katolik, khususnya Paroki Ohoijang, yang telah menghadirkan bangunan gereja yang indah di pusat kota Kabupaten setempat dan bisa menjadi ikon bagi daerah itu.

Dirinya berharap, kemegahan dan keindahan Gereja Santo Yosep Ohoijang ini tidak hanya menjadi hiasan lahiriah, tetapi menjadi tempat pembangunan karakter, akhlak dan perilaku yang baik bagi umat setempat.

“Inilah kearifan lokal yang menjadi perajut kebersamaan dan persaudaraan, mempersatukan perbedaan dengan mempertemukan ikatan yang tercerai-berai,” pungkasnya.

Pos terkait