Langgur, MalukuPost.com – Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggaras (Malra) dibawah kepemimpinan Bupati M. Thaher Hanubun dan Wakil Bupati Petrus Beruatwarin terus melakukan pengembangan dan pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Salah satunya dengan mengembangkan potensi alam yakni rumput laut, yang bertujuan pula untuk menurunkan tingkat pengangguran di daerah ini.
Saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Tim dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bersama Pemerintah Daerah di Langgur, Senin (24/8/2021), Bupati M. Thaher Hanubun menyatakan, pihaknya berencana mengembangkan budidaya rumput laut skala besar pada 2022 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan tingkat pengangguran.
Hadir dalam Rakor yakni Deputi Sumberdaya Maritim Kemenko Marves (yang juga adalah Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan) Safri Burhanuddin, Tenaga Ahli Budidaya Deputi Sumberdaya Maritim Kemenko Marves Hanaauddin Atjo bersama sejumlah staf Kemenko Marves dan KKP, serta Pakar Rumput Laut Universitas Hasanuddin (Unhas), Balai Perikanan Budidaya Air Laut serta pimpinan OPD lingkup Pemkab Malra.
“Kita akan kembangkan budidaya rumput laut skala besar tahun 2022 di Pulau Kei Besar dan Kei Kecil karena potensi lahan untuk pengembangan komoditi ini di dua pulau ini sangat besar,” katanya.
Menurutnya, pengembangan budidaya dimaksud mengingat potensi lahan pada wilayah Pulai Kei Kecil mencapai 7.773 hektar, sementara di Pulau Kei Besar sebesar 929 hektar.
Bupati Hanubun mengungkapkan, untuk wilayah Kei Kecil yang baru dimanfaatkan sebesar 781,6 hektar, sedangkan sisanya 6.991 hektar belum dimanfaatkan.
Untuk pulau Kei Besar, lahan yang baru dimanfaatkan seluas 64,7 hektar, sedangkan yang belum dimanfaatkan luanya 864,3 hektar.
Diketahui, sebagai tahap awal, pihaknya berencana melakukan pengembangan rumput laut pada areal 3.000 hektar dengan potensi penyerapan tenaga kerja 12.000 orang, dimana satu hektar akan dikelola oleh empat pembudidaya.
Sedangkan target produksi yang akan dicapai yakni sebanyak 37.800 ton dengan enam kali masa panen dalam setahun (6.300 ton untuk sekali panen).
“Dengan panen sebanyak ini tentu berdampak pada peningkatan ekonomi daerah, khususnya penurunan angka kemiskinan, peningkatan pendapatan per kapita masyarakat serta menurunkan angka pengangguran,” tandasnya.
Menurutnya, keberadaan budidaya rumput laut berskala di Malra, diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan 26.702 jiwa (21,87 %) pada 2022, dari jumlah saat ini berdasarkan data dari BPJS pada tahun 2020 yakni sebesar 27.425 orang (22,57 %).
Dampak lainnya dari pengembangan rumput laut di wilayah pulau Kei Besar dan Kei Kecil yakni diproyeksikan meningkatnya pendapatan per kapita penduduk yakn Rp. 33,19 juta (naik 12,16 %) dari tahun 2020 yang hanya Rp. 26,83 juta.
Selain itu, tingkat pengangguran di Malra juga diproyeksikan turun menjadi 1.703 orang (3,67 %) dari jumlah saat ini sesuai data BPJS tahun 2020 yakni sebanyak 2.286 orang (4,95 %)
Olehnya itu, sebagai salah satu peluang strategis yang harus dikembangkan, dirinya meminta dukungan semua pihak di Malra, agar pengembangan budidaya dimaksud dapat berjalan sesuai perencanaan yang ditetapkan.
“Saya minta dukungan dari semua pihak, karena jika pengembangan usaha rumput laut skala besar dapat dilaksanakan tahun 2022 di daerah ini, maka akan mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak 24.188 jiwa, dan hanya tersisa 2.514 jiwa (2,06 %, dan juga akan mengurangi angka pengangguran 407 orang atau turun menjadi 1.296 orang (2,79 persen),” pungkasnya.


