Seniman Evav Terus Berdenyut di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Musisi Marco Pattianakotta dari Ambon berkolaborasi dengan komunitas Tibe One Ukulele dalam suatu jumpa komunitas yang digelar BSNE di Pantai Ngurbloat, Ngilngof, Maluku Tenggara, Sabttu (14/11) (foto andrey jacob)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Meskipun puncak acara Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2021 sudah berlalu, hal itu tidak membuat pantai-pantai jadi sepi. Justru denyut para pelaku kesenian tetap terlihat di sana.

Begitulah suasana Pantai Ngurbloat Ngilngof, Maluku Tenggara, Sabtu (14/11). Hari menuju senja manakala di atas pasir putih, sekitar 40 seniman muda berkumpul. Mereka berdiskusi, berbagi cerita dan gagasan berkesenian. Ada gemerincing musik ukulele dan riuh lagu Kei.

Para penyair dari Bengkel Sastra Nuhu Evav (BSNE), terlihat berbaur bersama musisi-musisi dari komunitas Tibe One Ukulele. Ada rapper Revoo Komarudin dari Langgur, Olnes Matulessy dari Ambon, ada pula Marco Pattianakotta dari Komunitas Kintal Sapanggal dan Bengkel Sastra Maluku, Ambon.

Petter Letsoin dari BSNE memandu diskusi ringan namun serius. Diskusi menghadirkan seorang personil BSNE asal Pulau Haruku Ibrahim Tualeka. Tualeka saat ini bekerja sebagai Kepala Kantor Perwakilan PT Sampoerna di Maluku Tenggara.

Menurut Tualeka, pandemi covid telah menyebabkan perusahaan Sampoerna belum bisa mengambil langkah untuk menjadi sponsor kegiatan kesenian.

“Jadi, untuk sementara kami hanya bisa mendukung secara pribadi untuk mendukung kegiatan kesenian,” paparnya.

Ia memberi apresiasi kepada BSNE dan Tibe One Ukulele. Tualeka berharap para penyair BSNE bisa menghidupkan dan melestarikan sastra Kei supaya tidak punah. Dia juga memuji anak-anak yang terlibat dalam komunitas Tibe One Ukulele.

“Komunitas ukulele ini sangat bagus, namun adik adik, jangan lupa belajar. Pendidikan di sekolah harus jadi prioritas,” papar Tualeka.

Saniri BSNE Argonex memaparkan bagaimana eksistensi komunitas seni musik dan sastra mencoba bertahan di tengah pandemi dengan berbagai cara.

“Biarpun masih dalam masa pandemi tetapi kolaborasi antar para pelaku seni tetap berjalan seperti yang sudah kita bikin selama ini, baik dalam bentuk konten video ataupun lewat panggung-panggung kecil yang dikerjakan sesama pelaku seni,” ungkap Argonex.

Pada kesempatan itu, pendiri dan pelatih Tibe One Ukulele Julia Manufury menceritakan pengalamannya membentuk komunitas ukulele. Dengan modal sendiri, ia membeli lima buah ukulele. Dia pun mengajak beberapa orang bergabung. Kini, komunitas itu sudah memiliki 27 anggota.

Julia mengaku senang bisa terlibat bersama BSNE. Dia berharap, akan tetap bisa berkolaborasi dengan BSNE pada masa yang akan datang.

Pembina Tibe One Ukulele Naiks Manufury mengapresiasi bentuk kolaborasi antarkomunitas yang digagas BSNE. Ia merasa senang karena BSNE selalu melihat dan memberikan dukungan kepada musisi-musisi cilik di Tibe One ukulele.

Ketua Pengelola Pantai Ngurbloat Ronald Tethool juga bergabung dalam diskusi ini. Dia mengajak komunitas seni dan sastra di Kei, untuk melakukan pementasan atau pertunjukan di panggung Ngurbloat.

Pantai Ngurbloat menjadi riuh karena para musisi Tibe One Ukulele mempersembahkan lagu Aroan Sir-S‏ir dengan gaya mereka yang khas. Suasana makin seru ketika Seniman dari Ambon Marco Pattianakota berkolaborasi dengan Tibe One Ukulele. Mereka mempersembahkan lagu “Hio, Hio!” dari Maluku Tengah yang telah diadaptasi dalam versi Bahasa Kei “Hian, Hian”. (Malukupost)

Pos terkait