Perempuan Larsasam Pertahankan Orisinal Tenun Tanimbar Dengan ATBM

Kadis Pariwisata, pihak INPEX dan SKK Migas foto bersama di dalam galeri Larsasam

Saumlaki, MalukuPost.com – Enam unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan utasan benang berwarna warni yang tersusun rapih di galeri Larsasam siang itu, menarik perhatian para pengunjung untuk mendaraskan sejumlah pertanyaan bagi para penghuninya.

Saat itu, bertepatan dengan peresmian gedung galery Larsasam, yang berlokasi di kampung Kolam Saumlaki, kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Rabu (1/12/2021). Tampak tiga orang perempuan paruh baya yang tersenyum bahagia sembari menerangkan cara menggunakan mesin ATBM dan mengurai sejumlah motif tenun Tanimbar kepada para pengunjung.

Di depan pintu masuk bangunan yang berada di seberang jalan rabat beton itu, terdapat pajangan hasil karya di lemari berbahan kaca yang memudahkan para pengunjung bisa melihat dan berpose dengan hasil tenunan maupun hasil olahan tenun ikat Tanimbar berupa tas model untuk wanita.

“Ini beberapa contoh dari hasil olahan ATBM yang kami pasarkan dan dibeli oleh ibu Rosadelima Yempormase untuk diolah menjadi tas,” ucap mama Sences Rafia Liur (53), ketua kelompok tenun Larsasam dengan senyum.

Pajangan itu semakin membuat para pengunjung untuk terus bertanya karena kualitasnya yang halus dan motif tenun ikat Tanimbar yang orisinalitasnya tetap terlihat.

Mama Mince (kiri), Mama Magdalena (tengah) dan Mama Liur (kanan)

Mama Sences pun bercerita tentang pengalamannya menggunakan ATBM bersama dua rekannya yakni Mince Izaaq (44 ) dan Magdalena Luanmasar (53).

Menurutnya, penggunaan ATBM sudah tentu berbeda dengan gedog. Alat tenun gedog, atau yang biasa disebut juga sebagai alat tenun gendong merupakan alat yang paling sederhana dan orisinal dalam proses penenunan sejak zaman para leluhur.

Kendati alat tenun gedog menghasilkan tenun yang orisinil, namun mereka tetap berupaya untuk belajar dan menggunakan ATBM dalam menjaga kualitas tenun ikat Tanimbar.

Untuk mempelajari teknik penggunaan ATBM ini, kelompok Larsasam butuh waktu belajar dan berlatih selama enam bulan. Hanya berbekal kesabaran dan ketekunan, mereka pun mampu menghasilkan ratusan kain tenun ikat Tanimbar yang telah dipasarkan di dalam negeri maupun menembus pasar internasional, melalui Bank Indonesia maupun INPEX Masela Ltd.

Mama Sences Rafia Liur

Mama Sences mengakui, kualitas produksi tenunan yang menggunakan ATBM sangat baik, karena benang yang dipakai berukuran kecil yang di pesan khusus dari Bandung sehingga kainnya pun tampak ringan dan tidak gerah saat dijadikan sebagai bahan dasar untuk busana.

“Tenunan hasil dari ATBM ini bagus dan nyaman dipakai karena kualitasnya bagus yakni tipis dan rasa adem (sejuk) di badan, ujarnya.

Kendati demikian, untuk menapatkan selembar kain dengan ukuran panjang tiga meter dan lebar 116 senti meter, dibutuhkan waktu paling lambat selama tiga hari. Jika dalam selembar kain memerlukan banyak motif, maka memakan waktu lima hari hingga seminggu. Karenanya, harga jual per lembar kain bisa dibandrol hingga Rp.800 ribu.

Kondisi ini membuat sembilan anggota kelompok Larsasam mengundurkan diri, dan memilih untuk menjalani usaha mereka sendiri dengan menggunakan sistem gedog.

“Kalau pembuatan motif tenun manual kita lungsia atau atur, sedangkan tenunan ATBM ini kita pakai motif untuk tenun. Jadi kita susun motif, kita ikat, seterusnya kita bongkar dan kemudian kita susun motif lagi,” bebernya.

Perempuan asal pulau Selaru ini menyatakan kebanggaannya karena hasil karya mereka juga telah digunakan oleh pemerintah daerah kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dia menyebutkan, Bupati Kepulauan Tanimbar Petrus Fatlolon dan Ketua Tim Penggerak PKK kabupaten Kepulauan Tanimbar Ny.Joice Fatlolon telah menggunakan busana tenun Tanimbar dari hasil produksi Larsasam, serta pemberian 700 masker berbahan dasar tenun Tanimbar oleh INPEX kepada pemerintah daerah kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Bantuan Investasi Sosial INPEX

Sences dan rekan-rekannya menyatakan, mereka memperoleh ATBM ini dari bantuan INPEX Masela Ltd. bagi kelompok Larsasam, sebagai kelompok binaan INPEX. Menurutnya, selain INPEX Masela Ltd., program ini juga menggandeng Bank Indonesia (BI) dan telah digalakkan selama empat tahun terakhir.

Kendati ATBM ini didatangkan dari pulau Jawa, namun dalam penggunaannya, mereka tetap menjaga orisinalitas tenun ikat Tanimbar, sehingga warisan leluhur Tanimbar ini tetap dijaga dan lestari.

Selain itu, bantuan ini mempermudah mereka untuk meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga, dan membantu menghasilkan tenun ikat Tanimbar yang berkualitas.

“ATBM ini sangat membantu perekonomian rumah tangga saya, terutama untuk anak-anak saya yang sekolah dan yang sedang kuliah” tutupnya.

Fidelis Samponu, koordinator program Investasi Sosial INPEX Masela Ltd. untuk tenun ikat khas Tanimbar menyatakan, selain membantu ATBM dan melatih para anggota kelompok Larsasam, INPEX juga memfasilitasi penyediaan galeri Larsasam sebagai tempat untuk memproduksi dan memajang hasil produksi tenun Tanimbar dari kelompok ini.

Program ini terlaksana atas kolaborasi dan dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan masyarakat lokal teristimewa dari kelompok tenun Larsasam.

“Peresmian galeri Larsasam ini adalah salah satu dari sekian program Social Investment (SI) yang laksanakan sebagai bentuk komitmen sosial dan komitmen sosial dan moral dari Inpex kepada masyarakat dan pemerintah daerah,” katanya.

Semua program SI ini menurutnya, telah dikoordinasi dan mendapat persetujuan dari SKK Migas untuk bisa dilaksanakan di Tanimbar.

Menurut Fidelis, walau belum beroperasi bahkan melaksanakan aktivitas migas yang berarti, INPEX Masela telah berkomitmen untuk melakukan sejumlah Program Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka mendapatkan lisensi sosial sejak dini melalui kepercayaan, penerimaan dan dukungan masyarakat sekitar. Kegiatan yang dinamai investasi sosial atau social investment tersebut telah berlangsung selama ini.

“Larsasam” menurut Fidelis, berasal dari bahasa Selaru yang berarti “Satu Hati”. Berdasarkan arti nama kelompok inilah dia berharap, kolaborasi yang telah terjalin selama ini dapat ditingkatkan dan hasul tenun ikat bisa go internasional.

“Komitmen awal antara SKK Migas – INPEX dan BI bersama ibu-ibu kelompok tenun Larsasam adalah mereka akan dievaluasi secara berkala sehubungan dengan peningkatan produktivitas dan kinerja. Apabila dianggap tidak ada perubahan maka INPEX berhak mencabut semua bantuan yang telah diberikan untuk diserahkan kepada kelompok lain di Tanimbar yang membutuhkan,” tandasnya.

Dolmince Karsau, staf senior SKK Migas Papua Maluku menyatakan, kegiatan produksi Blok Masela belum terlaksana, namun INPEX memiliki komitmen untuk terus melaksanakan program investasi sosial kepada masyarakat.

“Perlu kami sampaikan kepada bapak dan ibu bahwa meskipun dalam kurun waktu yang lama lagi baru beroperasi, Inpex Masela masih tetap peduli untuk melakukan pembinaan-pembinaan kepada masyarakat Tanimbar dan khususnya di daerah ring satu yakni di kecamatan Tanimbar Selatan,” katanya.

Dolmince mengajak masyarakat Tanimbar, khususnya para penerima bantuan untuk memanfaatkan bantuan ini dengan baik sehingga bisa berguna dalam mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga,

“Karena tidak selamanya perusahaan minyak dan gas ada, jadi kami berharap mama-mama Larsasam bisa memanfaatkan program pelatihan dan pembinaan ini untuk menunjang kehidupan anak-anak dan cucu di Tanimbar,” tambahnya.

Dukungan Pemerintah Daerah.

Kepala dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Herman Yoseph Lerebulan mengapresiasi program investasi sosial INPEX, dan berharap adanya promosi untuk memperkenalkan hasil produksi Larsasam.

“Dari kelompok tenun Larsasam ini saya lihat kebaikan dari Inpex. Pemda belum banyak campur tangan namun Bupati titip pesan dan berharap, harus buat lebih baik. Carilah cindera mata yang baik untuk dipromosikan pada kegiatan MTQ di bulan Maret 2021 mendatang,” katanya.

Herman menyarankan agar para pengrajin tenun ikat Tanimbar bisa kreatif dengan menghasilkan motif-motif yang khas dan juga memproduksi tenun dalam ukuran yang berbeda. Selain selendang, pengrajin juga bisa memproduksi tenun yang berukuran kecil untuk dasi, ikat kepala, sapu tangan untuk menari dan sebagainya.

Dia berjanji akan melakukan pembinaan untuk kelompok Larsasam, dan membantu melakukan promosi yakni akan menyiapkan tempat untuk galeri promosi di pelabuhan Saumlaki dan di bandar udara Mathilda Batlayeri Saumlaki.

Pos terkait