Langgur, MalukuPost.com – Keluarga besar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Siwalima St. Yosep Langgur menggelar Deklarasi Roots Day (Anti Perundungan) yang dipusatkan di sekolah setempat, Sabtu (18/12/2021).
Untuk diketahui, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Perlindungan Anak sebagai prioritas nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Pencegahan kekerasan (termasuk perundungan/bullying) merupakan bagian dari upaya perlindungan anak yang dicanangkan sebagai salah satu program prioritas nasional, sebagaimana tercantum pada RPJMN 2020-2024 serta Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Satuan Pendidikan.
Pencegahan perundungan melalui Program Roots Day juga menjadi salah satu nilai yang didorong dalam upaya penguatan karakter peserta didik dan menciptakan iklim yang aman dan nyaman untuk anak belajar.
Ketua Yayasan Siwalima Langgur Pastor Agustinus Soplanit MSC dalam sambutannya menegaskan pentingnya siap saling menghormati diantara para siswa, guru, siswa dengan guru maupun sebaliknya.
Perundungan terjadi jika kita tidak saling menghormati, mengobyektifir makhluk yang lain khususnya manusia, sehingga bibit perundungan yang terjadi di lembaga pendidikan karena tidak adanya sikap saling menghormati satu dengan yang lain.
“Guru berbicara di depan, murid harus diam, sebagai bentuk hormat kepada guru. Jika tidak maka ini adalah benih awal perundungan yang akan tumbuh didalam diri para siswa-siswi. Para siswa-siswi harus saling menghormati se-lembaga pendidikan. Tapi kalau kepada guru para siswa-siswi sudah tidak menghormati, maka mereka akan melakukan perundungan kepada teman,” katanya.
Menurutnya, Roots Day adalah unjuk informasi dan kreatifitas dalam rangka pencegahan perundungan siswa di satu lembaga pendidikan.
“Dari katanya saja yakni “unjuk” yang artinya menyatakan, menghadirkan, menampilkan dan memberikan keterangan (informasi) baik secara lisan langsung maupun secara virtual (medsos) tentang apa-apa yang dengan perilaku siswa dan segala dampak yang bisa terjadi. Unjuk kreatifitas berarti ada sebuah daya cipta kreasi yang harus dilakukan oleh kita semua teristimewa agen perubahan, supaya daya kreasi itu membuat segala energi siswa tersalurkan,” ungkapnya.
Pastor Agus Soplanit menambahkan, dengan demikian maka tidak ada peluang sedikitpun untuk terjadi perundungan satu kepada yang lain.
“Karena ini bukan sekali langsung jadi, tetapi akan berproses selama sekolah ini ada. Bukan hari ini dideklarasi langsung selesai. Banyak hal di daerah ini selalu begitu, cuma momentum seremonial yang mengungkapkan bahwa sesuatu sementara dibuat, tetapi setelah momen seremonial itu selesai maka semua tidak ada. Proses pencegahan perundungan terhadap siswa harus terus berjalan. Dia bukan langsung jadi dan langsung berhenti tapi berjalan terus-menerus,” bebernya.
Selaku ketua yayasan, dirinya meminta pihak sekolah (para guru) secara intens memberikan pendampingan kepada siswa-siswi yang terlibat dalam agen perubahan.
“Selaku komunitas pendidik, kita memang harus satu dalam kata, tindakan dan semangat supaya visi kegiatan ini dapat tercapai. Kita perlu membuat garis-garis kebijakan dan kegiatan-kegiatan konkrit supaya apa yang kita canangkan hari ini bisa kita lakukan dari waktu ke waktu sehingga capaian yang mau didapat dari kegiatan ini bisa kita peroleh,” tandasnya.
Pastor Agus Soplanit juga menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah, para guru, tim Roots Day, agen perubahan serta para siswa atas dilaksanakan kegiatan (project) yang sangat berarti bagi lembaga (SMK Siwalima) ini.
“Mari kita bekerja bersama-sama, agar semua yang dikehendaki di lembaga ini lewat project dimaksud dapat diwujudkan di SMK Siwalima ini. Lembaga pendidikan SMK Siwlima ini harus menjadi tempat yang nyaman, aman dan damai bagi semua orang teristimewa peserta didik dan pendidik untuk belajar dan mengajar. Semoga niat baik kita ini diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” pungkasnya.


