Boedewin Harap Pelatihan Pengolahan Perikanan Kembangkan Produk Olahan Pangan

WhatsApp Image 2024 01 25 at 12.00.42 jpeg

Ambon, MalukuPost.com,- Mewakili Penjabat Walikota Ambon, Boedewin Wattimena, Asisten Administrasi Umum, Robby Sapulette, menghadiri Pelatihan Pengolahan Hasil Perikanan Berbasis Fish Jelly di lantai V Hotel Santika, Kamis, (25/1/2024).

Kegiatan yang diinisiasi Badan Riset Dan Inovasi (BRIN) dan dibuka secara resmi pelaksanaannya oleh anggota DPR RI, Mercy Barends itu, diikuti ratusan pelaku UMKM, Komunitas, kelompok nelayan dari berbagai kecamatan di Kota Ambon.

Boedewin dalam sambutannya yang dibacakan Sapulette berharap, pelatihan Ter dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan begitu, dapat membentuk kelompok kerja usaha mandiri yang produktif dan terlatih dalam pengelolaan berbasis komoditas unggulan perikanan laut, yang tentunya dapat melahirkan produk olahan unggulan sehingga memberikan nilai tambah dari tiap UMKM.

“Bukan hanya itu, namun dapat terus mengembangkan setiap ide demi berkembangnya produk olahan pangan berbasis komoditas unggulan di sektor perikanan laut yang memiliki daya saing tinggi, melalui pengembangan produk yang disukai pasar,” harapnya.

Di tempat yang sama, Perwakilan Pimpinan BRIN, Ahmad Muntako, mengatakan, tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan pengolahan hasil perikanan berbasis Fish Jelly melalui instruktur BRIN, sehingga dapat mendukung dan mendorong peningkatan perekonomian nelayan berupa peningkatan nilai tambah hasil laut di Kota Ambon.

“Kerjasama yang erat dengan mitra terkait baik dari pemerintah dan swasta, maupun komunitas, harus sejalan dengan pengembangan fokus pemerintah untuk membangun talenta di semua aspek. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kami untuk berbagi kompetensi,” pungkasnya.

Setelah menghadiri pelatihan, anggota Komisi VII DPR RI, Mercy Barends menegaskan, salah satu tujuan diselenggarakannya pelatihan dimaksud adalah untuk mendorong peningkatan nilai tambah produk hasil perikanan bagi masyarakat Kota Ambon dan Maluku secara umum. Peningkatan nilai tambah produk hasil perikanan tersebut juga dapat memberikan manfaat ekonomis lebih besar kepada masyarakat, menciptakan peluang pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan, juga memperluas pasar, meningkatkan proses produksi atau mengenalkan inovasi dalam pengolahan produk perikanan.

“Jadi kalau Maluku tidak bisa jemput bola, maka pakan ternak diambil oleh daerah perikanan yang lain, entah Kota Manado, Makassar dan lainnya. Sementara kita Maluku sebagai penghasil sektor perikanan terbesar. Jadi kita dorong kerjasama melalui Kementerian Perindustrian, BRIN yang ada mitra dengan Komisi VII tetapi juga harus ada topangan dari pemerintah kabupaten/kota. Ayo bergerak. Sistem disiapkan. Apa yang bisa kita kombinasikan dari pusat,” tegas Mercy.

Menurutnya, pendekatan berbasis Fish Jelly dapat menjadi langkah inovatif untuk memanfaatkan potensi sektor perikanan dan kelautan di Maluku. Ini dapat meningkatkan nilai tambah produk perikanan, membuka peluang bisnis baru dan memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal.

Mengoptimalkan sektor perikanan dan kelautan dengan pendekatan pengolahan lebih lanjut, juga dapat meningkatkan nilai tambah produk. Dengan strategi ini, diharapkan hasil yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan mentahnya saja.

“Kita mencoba menangkap peluang Maluku sebagai penghasil perikanan terbesar se-Indonesia. Kalau kita keluarkan bahan mentah, maka hasil yang didapat ya hasil mentahnya saja. Itupun sudah besar, tetapi memang sayangnya karena UU perimbangan keuangan pusat dan daerah itu ketentuannya untuk hasil perikanan dibagi sama rata seluruh Indonesia. Jadi seluruh kabupaten/kota dapat pembagian hasil sumber daya alam perikanan itu sama besar,” ujar Mercy.

Ia menilai, pendekatan melalui Pelatihan Pengolahan Hasil Perikanan Berbasis Fish Jelly tentu memberikan pertambahan nilai yang signifikan. Dengan mengolah hasil perikanan laut dalam berbagai bentuk, tidak hanya diversifikasi produk tetapi juga meningkatkan potensi pasar.

Fokus pada hasil olahan bahan pangan berbasis Fish Jelly, terutama yang disukai kalangan anak-anak seperti nugget ikan dan bakso ikan, merupakan strategi yang cerdas untuk menarik konsumen.

“Yang kita lakukan hari ini, itu semua hasil olahan bahan pangan berbasis Fish Jelly yang hari ini menjadi konsumsi tertinggi terutama untuk kalangan anak-anak seperti naget ikan, bakso ikan dan lainnya,” ujar Mercy.

Disisi lain, lanjut Mercy, langkah untuk meningkatkan pengetahuan pengelolaan tepung ikan sebagai bahan dasar pakan ternak adalah langkah yang bijak, terutama untuk mendukung sektor peternakan. Mendorong kelompok usaha untuk mencapai skala ekonomi yang lebih besar adalah tantangan yang signifikan. Maka perlu ada strategi khusus atau dukungan yang direncanakan untuk membantu masyarakat mencapai pencapaian yang lebih besar dalam produksi tepung perikanan.

“Kita juga melakukan terobosan mengenai pengetahuan pengelolaan tepung ikan karena bahan dasar pakan ternak. Di Ambon sudah ada beberapa kelompok usaha. Mereka sudah bisa menghasilkan tepung perikanan tetapi belum mampu menerobos pencapaian yang melampaui skala ekonomi. Misalnya dihasilkan berapa ton? Jadi kita menarik pembeli datang ke Kota Ambon/Maluku,” lanjutnya.

Olehnya itu, Mercy menilai, upaya untuk mengangkat peran Maluku dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) merupakan hal yang harus terus digalakkan. Terobosan ini dapat menjadi kunci penting untuk meningkatkan kontribusi ekonomi Maluku dalam sektor perikanan. Sembari itu, pembenahan sistem tata perimbangan keuangan pusat dan daerah akan mendukung keberlanjutan inisiatif tersebut.

“Tahun kemarin, sekitar Rp. 1,6 – 1,8 miliar sama untung seluruh Indonesia. Toraja, Kebumen, yang tidak punya laut dapat sama dengan Maluku. Jadi perjuangan kita untuk memastikan Maluku sebagai salah satu penghasil Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) harus ada terobosan, sambil kita berupaya untuk memperbaiki sistem tata perimbangan keuangan pusat dan daerah,” jelas Mercy.

Sebagai bahan pertimbangan, Mercy menyebut sebanyak 10.200 orang di berbagai kota telah mengikuti program diklat selama lima tahun. Integrasi dengan Kementerian Perindustrian dan pengaksesan modal melalui Kredit Usaha Rakyat dari bank-bank negara akan memberikan dorongan besar bagi para pelaku usaha. Mercy pun optimis akan ada dampak positif dalam mendorong pengembangan sektor perikanan di Maluku.

“Semua ini kita kerjakan. Ini tahun kelima. Total seluruh diklat seperti begini menembus 10.200 orang kita latih dan didik. Dilanjutkan lagi kita masukkin di kelas-kelas intensif selama tujuh hari dengan Kementerian Perindustrian. Kita akseskan mereka dengan modal lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan (Himpunan Bank-Bank Negara),” pungkasnya.

Terakhir, Mercy menyatakan upaya membantu mengurus perizinan, khususnya NIB, setelah peserta menyelesaikan diklat dan kelas intensif merupakan langkah krusial untuk mempermudah mereka memulai bisnis. Inisiatif ini tidak hanya memberikan dukungan administratif tetapi juga membuka peluang langsung bagi para pengusaha baru. Keluar dari kemiskinan dengan langkah-langkah yang cepat dan efisien seperti ini merupakan tujuan yang sangat berarti.

“Kemudian kita bantu mengurus perizinannya. Jadi semua yang ikut diklat dari Kementerian Perindustrian bagitu selesai tujuh hari kelas intensif itu, keluar siap jadi pengusaha. Seluruh Nomor Induk Berusaha (NIB) siap selesai. Tidak ada bayar, tidak ada apa-apa. Tujuannya untuk apa? Maluku keluar dari kemiskinan. Keluar cepat-cepat kita jemput bola,” tutup Mercy.

 

Pos terkait