Pembina Trigen Harap Pemain Sepakbola Gawang Mini Diarahkan Bermain Futsal

Ambon, Maluku Post.com – Kian bergeliatnya atmosfer futsal di Kota Ambon, Maluku, dalam satu dasawarsa terakhir, seyogianya menggugah Pemerintah Kota Ambon untuk menyediakan media yang representative agar tersalur dengan baik bakat-bakat terpendam di cabor sepakbola dan futsal.

Belum seriusnya upaya Pemkot Ambon untuk memediasi potensi generasi muda menggandrungi futsal menyebabkan sepakbola gawang mini masih menjadi alternatife terkini dan fenomenal untuk menyalurkan hobi secara informal selama lebih kurang 16 tahun terakhir. Padahal jika turnamen sepakbola gawang mini diatur secara baik dan profesional, potensi-potensi lokal dapat diarahkan ke futsal sehingga terjamin prestasi maupun masa depan para pemain sepakbola konvensional dan futsal.

“Saya mendukung penuh atau sangat mengapresiasi pelaksanaan turnamen gawang mini yang dilaksanakan TPQ Al-Munawwarah RT.04/RW.16 THR-2 Ahuru bekerja sama dengan warga RT.08/RW.17 Ahuru di sore hari ini. Tapi pada prinsipnya saya mengimbau agar ke depan bakat-bakat yang ada dapat diarahkan ke futsal agar pembinaannya resmi dan punya peluang karier dan prestasi secara lokal, nasional dan internasional di masa mendatang,” imbau pembina Trigen Ambon FC Abdul Fattah Nur di sela-sela penutupan Turnamen Sepakbola Gawang Mini di Lapangan Gawang Mini RT.08/RW.17 Kompleks STIA Alaska, Air Besar, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kamis (14/5) petang.

Partai final turnamen sepakbola gawang mini itu mempertemukan AXL FC dari Batumerah kepala air kontra Porton FC dari Kahena, sementara perebutan peringkat ketiga menyajikan duel bergengsi Whong Seven 02 dari Waihaong versus Gansas FC asal kawasan Air Salobar, Nusaniwe.

Abdul Fattah mengakui banyak generasi muda Ambon yang menggandrungi sepakbola gawang mini karena hadiahnya fantastis dan banyak peminatnya. Namun, dari aspek regulasi maupun prestasi pemain dan klub, gawang mini dapat saja menghancurkan masa depan sang pemain karena tak ada aturan mainnya maupun jaminan masa depan pemain.

“Lain halnya kalau bakat-bakat yang sudah terasah di sepakbola gawang mini diarahkan ke futsal. Sebab, futsal berada di bawah otoritas FIFA dan PSSI, kalau gawang mini tidak. Dengan bermain futsal, seorang pemain berbakat bisa saja membela klub profesional yang tiap bulan digaji hingga dipanggil gabung timnas Indonesia. Jadi, target prestasi dan masa depan seorang pemain futsal itu jelas dan terarah,” papar pria Dayak-Sunda-China ini.

Abdul Fattah menjelaskan bakat-bakat terpendam orang Maluku di sepakbola dan futsal sangat luar biasa dan sudah diakui banyak kalangan dalam dan luar negeri. Tinggal bagaimana pemkot Ambon, KONI dan PSSI memediasi potensi-potensi yang ada sehingga ke depan menjadi kekuatan Maluku di pentas nasional.

“Kekurangan kita di sini adalah pemerintah belum serius memajukan sepakbola dan futsal. Elite pemerintah dan elite politik di sini hanya berpikir soal kebutuhan diri sendiri tanpa memperhatikan masa depan rakyatnya. Hal ini yang menyebabkan olahraga, khususnya sepakbola dan futsal Maluku, masih terpuruk di kancah nasional,” bebernya prihatin. (09)  

Pos terkait