“Akibat terjadi deflasi di Kota Ambon pada dua kelompok pengeluaran,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Jessica Eliziana Pupella di Ambon, Rabu (1/7).
Kedua kelompok itu yakni kelompok bahan makanan sebesar 1,67 persen, dan pada kelompok transportasi, komunikasi,dan jasa keuangan sebesar 0,65 persen.
Sedangkan inflasi terjadi pada lima kelompok pengeluaran yakni pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,55 persen, kelompok perumahan, air listrik, gas,dan bahan bakar sebesar 0,55 persen, kelompok sandang sebesar 0,84 persen, kelompok kesehatan 0,24 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,22 persen.
“Komoditas yang dominan menyumbang inflasi di Kota Ambon adalah kangkung, ikan cakalang, cabai merah, sepatu dan tukang bukan mandor,” ujarnya.
Jessica menjelaskan, dari dua kota IHK di Provinsi Maluku, Kota Ambon mengalami deflasi 0,25 persen dengan IHK 120,87 dan Kota Tual mengalami deflasi sebesar 0,80 persen dengan IHK sebesar 133,57.
Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong sebesar 1,90 persen, dengan IHK sebesar 119,69, dan terendah terjadi di Kota Palu sebesar 0,03 persen dengan IHK 120,46.
Deflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 0,80 persen dengan IHK 133,57 dan terendah di Kota Pangkal Pinang sebesar 0,14 persen dengan IHK 117,90.
Dia menambahkan, dari 82 kota IHK di Indonesia di bulan Juni 2015 IHK Kota Ambon menduduki peringkat 26, dengan inflasi bulanan Kota Ambon menduduki peringkat 79.
Sedangkan inflasi tahun kalender Kota Ambon menduduki peringkat ke 2 serta untuk inflasi dari tahun ke tahun Kota Ambon menduduki peringkat 23. (ant/MP)


