Tak Temui “Pelayat”, Kajati Maluku Dinilai Tak Gentleman

Ambon, Maluku Post.com – Mulai jenuh dengan sikap Kejaksaan Tinggi Maluku, yang dinilai tak serius menangani berbagai perkara dugaan korupsi di Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemuda-Pemudi Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) bertandang ke Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku, Senin (1/2).


Aksi puluhan Pemuda-Pemudi asal Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, yang tergabung dalam Koalisi Suara Keadilan Saka Mese Nusa, dikemas dalam aksi “Melayat Kejaksaan Tinggi Maluku”. 


Layaknya orang melayat, massa datang dengan menggunakan baju serba hitam, membawa karangan bunga dan membawa bendera putih serta bendera merah putih setengah tiang. Symbol symbol itulah yang melambangkan berdukanya Pemuda-Pemudi SBB, terhadap matinya penegakan Hukum terhadap kasus dugaan korupsi di Kabupaten SBB oleh Kejati Maluku. 


Kendati datang dan berorasi dengan berpanas panasan, para pelayat tak digubris oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Jaan Samuel Maringka. Akibatnya Kajati Maluku yang baru bertugas menggantikan Chuck Suryosumpeno itupun dinilai tak Gentleman. Tak pelak Kajati baru ini dibanding-bandingkan dengan kajati sebelumnya yang selalu respon menemui pengunjuk rasa. 


“Kajati Maluku tak Gentleman. Kajati sebelumnya Chuck Suryosumpeno saat aksi kami, beliau keluar dan langsung naik ke mimbar orasi dan menjawab apa yang kami minta. Ini catatan kelam untuk Kajati baru, “ Teriak orator aksi Asrul S. Kaisuku. 


Sebelumnya, Kericuhan sempat terjadi setelah keinginan peserta aksi untuk menemui Kajati Maluku untuk tidak digubris. Akibatnya, peserta aksi melempari Kantor Kejati Maluku dengan telur dan tomat busuk.
 
“Kejati harus mengusut  tuntas berbagai kasus yang ada di kabupaten SBB, yang melibatkan Bupati dan Kroni kroninya. Misalnya Kasus Kurikulum 2013, Kasus Bantuan Tidak Terduga (BTT), Kasus Pelunasan Hutang Taspen, Kasus ADD, dan kasus Gapura kota Piru, “ seru Koordinator aksi Fadly Boufakar.

Dalam aksi itu peserta aksi juga menuntut agar Kepala Dikpora SBB, Fransyane Puttileihalat yang juga adik kandung Bupati SBB Jacobus F.Puttileihalat, untuk segera ditangkap terkait kasus dugaan korupsi di dinas yang dipimpinnya.

“Kajati harus transparan  dan mengusut tuntas, kasus-kasus  dugaan korupsi Kabupaten SBB yang masuk di Kejaksaan. Jika itu melibatkan Bupati SBB, Jacobus Puttileihelat, maka Bupati juga harus dipanggil dan diperiksa” tandas Paman Nurlete dalam orasinya.

Dalam aksi tersebut, puluhan mahasiswa ini juga membawakan sejumlah pamplet bertuliskan, jaksa harus transparan usut korupsi, jaksa harus periksa bupati Kabupaten SBB, Jacobus Puttileihelat, serta tangkap mafia hukum di SBB.

Kurang lebih 3 jam berorasi, pelayat  akhirnya, ditemui asisten tindak pidana khusus Kejati Maluku, Benny Santoso. Pada kesempatan itu, Benny Santoso menyatakan, akan menampung aspirasi peserta aksi.

“Semua aspirasi teman-teman akan kami tampung, “ ucap Santoso.

Santoso juga mengungkapkan pihaknya telah mengagendakan pemanggilan Bupati SBB, Jacobus Fredrik Puttileihalat untuk dimintai keterangan. Saat disinggung terkait informasi telah dikeluarkannya Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan (SP3) kasus dugaan korupsi Gapura Kota Piru, Santoso membantahnya.


“Tidak, saat ini kita masih tahap penyelidikan terkait kasus itu, “ Tandas Santoso.

Dalam aksi “Melayat Kejaksaan Tinggi Maluku“, Koalisi Suara Keadilan Saka Mese Nusa memberikan symbol duka berupa karangan bunga, bendera merah putih setengah tiang, dan bendera putih, ke Kejaksaan Tinggi Maluku. Ketiga symbol duka itu diterima langsung oleh Beny Santoso.   (MP-10)  

Pos terkait