Memalukan..!! Komandan KAL Panana Tertangkap Lakukan Pungli

  • Whatsapp
Ambon, Malukupost.com - Komandan Kapal Angkatan Laut (Dan KAL) Panana I-9-13, Kapten Laut (P) Wahyu Widarta tertangkap tangan melakukan pungutan liar (pungli) terhadap nakhoda kapal Landing Craft - Tank (LCT) Guna Jaya, di salah satu hotel di kawasan Soya Kecil, Kota Ambon, Rabu (3/5).  Kasus tangkap tangan pungli dilakukan sejumlah wartawan terhadap Kapten Wahyu saat tersangka menerima uang sebesar Rp10 juta dari tangan nakhoda LCT Guna Jaya, Jumando La Ananila, di hotel Pacifik, kawasan Soya Kecil, sekitar pukul 18.00 WIT.

Ambon, Malukupost.com – Komandan Kapal Angkatan Laut (Dan KAL) Panana I-9-13, Kapten Laut (P) Wahyu Widarta tertangkap tangan melakukan pungutan liar (pungli) terhadap nakhoda kapal Landing Craft – Tank (LCT) Guna Jaya, di salah satu hotel di kawasan Soya Kecil, Kota Ambon, Rabu (3/5).

Kasus tangkap tangan pungli dilakukan sejumlah wartawan terhadap Kapten Wahyu saat tersangka menerima uang sebesar Rp10 juta dari tangan nakhoda LCT Guna Jaya, Jumando La Ananila, di hotel Pacifik, kawasan Soya Kecil, sekitar pukul 18.00 WIT.

Kasus tangkap tangan pungli tersebut bermula dari laporan Jumando La Ananila, kepada kuasa hukumnya Rosa Jean Alfaris bahwa dirinya dipaksa oleh Kapten Wahyu untuk menyerahkan sejumlah uang agar surat-surat LCT yang sedang ditahan dapat diperoleh dan kapalnya dapat berlayar kembali.

Surat-surat kapal tersebut baru ditahan komandan KAL Panana bersama anak buahnya saat LCT Guna Jaya akan bersandar di dermaga kate-Kate, Ambon, Rabu dinihari sekitar pukul 05.00 WIT, dengan alasan surat-suratnya sudah kadaluarsa atau habis masa berlaku.

“Satu jam sebelum transaksi dilakukan Sebelum transaksi dilakukan, keduanya sempat bertemu pada salah satu warung coto di Jalan. AY. Patty,  untuk bernegosiasi. Kapten Wahyu saat itu meminta uang tunai sebesar Rp15 juta dan akan mengembalikan surat-surat kapal tersebut,” ujar Rosa.

Pihak perusahaan akhirnya menyanggupi memberikan uang sebesar Rp10 juta kepada Kapten Wahyu dan disepakati akan diserahkan saat bertemu di lobi hotel Pasific.

Pimpinan perusahaan langsung bertemu dengan Kapten Wahyu yang ditemani salah seorang anak buahnya di lobi hotel tersebut dan menyerahkan uang Rp10 juta yang telah dijanjikan.

“Karena merasa tidak puas dengan uang yang diberikan pimpinan perusahaan, kapten Wahyu kembali menghubungi nakhoda Jumando dan meminta tambahan Rp10 juta dan memintanya datang ke hotel tersebut untuk menyerahkan uang tambahan.

Korban kemudian datang ke hotel dengan ditemani istri, kuasa hukumnya dan sejumlah wartawan, kemudian menyerahkan uang yang diminta kepada komandan kapal tersebut.

Saat menyerahkan uang tersebut Jumando kemudian meminta para wartawan untuk memotret Kapten Wahyu yang saat itu terlihat pucat pasi karena mengetahui aksi punglinya diketahui oleh wartawan, serta berusaha lari keluar hotel.

Wahyu kemudian membuang uang sebesar Rp10 juta yang telah diterima ke bawah meja, dengan maksud menghilangkan barang bukti, namun uang yang tersimpan dalam amplop tersebut kemudian diambil oleh anak buahnya.

Ambon, Malukupost.com - Komandan Kapal Angkatan Laut (Dan KAL) Panana I-9-13, Kapten Laut (P) Wahyu Widarta tertangkap tangan melakukan pungutan liar (pungli) terhadap nakhoda kapal Landing Craft - Tank (LCT) Guna Jaya, di salah satu hotel di kawasan Soya Kecil, Kota Ambon, Rabu (3/5).  Kasus tangkap tangan pungli dilakukan sejumlah wartawan terhadap Kapten Wahyu saat tersangka menerima uang sebesar Rp10 juta dari tangan nakhoda LCT Guna Jaya, Jumando La Ananila, di hotel Pacifik, kawasan Soya Kecil, sekitar pukul 18.00 WIT.

Bahkan, salah seorang anak buahnya mencoba merampas kamera wartawan yang telah merekam aksi tidak terpuji tersebut, dengan maksud menghilangkan barang bukti.

Rosa mengaku, Jumando dan istrinya sempat dipukul oleh anak buah Wahyu saat kejadian tersebut, sehingga harus dibawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan.

Wahyu dan anak buahnya kemudian pergi meninggalkan hotel tersebut menggunakan mobil dinasnya, dan meninggalkan barang bukti berupa uang Rp10 juta yang sebelumnya telah diterimanya dari pimpinan perusahaan LCT Guna Jaya yang telah disimpan di dalam tas ransel yang berisi dokumen kapal milik perusahaan lain.

Diduga kuat dokumen kapal tersebut juga sengaja ditahan dengan maksud akan digunakan untuk melakukan aksi pungli lainnya.

“Uang dan dokumen kapal perusahaan lain ini akan dijadikan barang bukti untuk proses kasus pungli ini hingga tuntas. Kasus ini akan kami laporkan ke Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, Panglima TNI, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dan Presiden karena sudah termasuk pungli,” tegas Rosa. (MP-1)

Pos terkait