Cara Pegiat Literasi Jalanan Ternate Hindari UU ITE

Adlun Fiqri di Kantor KONTRAS Jakarta (foto dokpri)

Ambon, malukupost.com – Belakangan ini, semakin banyak saja kasus penyebaran kabar bohong dan ujaran kebencian. Sebagian dilakukan secara terorganisir dan sistematias, namun ada pula yang dilakukan secara perorangan dan bersifat spontan.

Pentolan literasi jalanan di Ternate Adlun Fiqri punya pengalaman berurusan dengan polisi,  tiga tahun lalu.  Pasalnya, dia merekam dugaan praktik pungutan liar di lingkungan kepolisian di Ternate. Video yang direkamnya, diunggah ke youtube dan beredar luas.  Alhasil Adlun ditangkap polisi.

Setelah beberapa hari ditahan, Adlun kemudian dibebaskan akibat desakan berbagai pihak di tanah air, terutama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), wadah tempat Adlun bernaung dan beraktivitas. Adlun sendiri bersikukuh bahwa materi video yang dia unggah adalah sebuah kebenaran.

Belajar dari pengalaman itu, Adlun yang menyediakan lapak baca gratis kepada publik terutama anak-anak jalanan, lantas sering mengingatkan kepada kaum muda agar hati-hati menggunakan media sosial.

“Bagi teman-teman muda, saya pikir kita harus belajar bijaksana menggunakan medsos. Banyak kasus yang patut kita jadikan pelajaran. Harap berpikir kembali sebelum membagikan konten yang bisa memicu kontroversi, apalagi belum terverifikasi sebelumnya.  Kritis boleh tapi harus belajar bijaksana. Satire boleh, asal paham konteks,” ungkap Adlun dari Ternate kepada Media Online Maluku Post, Sabtu (7/4).,

Adlun berharap setiap warga negara maupun sesama orang muda saling mengingatkan jika ada kawan dekat membagikan berita yang belum terbukti kebenarannya atau menulis konten negatif.

“Kita harus ada untuk menegur sebelum polisi datang menciduk,” pinta Adlun.

Sebagai sesama anak muda, Adlun mengaku dia juga merasakan bagaimana darah muda menjadi panas dan ingin mengkritisi banyak hal. Walau demikian, dia sarankanharus memiliki basis data yang jelas sebelum membagikan sebuah konten atau mengkritisi sebuah masalah.

“Saya sendiri belajar dari kasus yang pernah saya alami,” papar Adlun.

Menurut Adlun, sikap kritis dan berani sangatlah bagus, tapi kaum muda harus punya basis data terlebih dahulu.  Inilah yang sangat penting demi menghindar dari jeratan UU ITE.

“Jika merasa benar, jangan takut, tapi alangkah baik dipertimbangkan dahulu. Hal ini memiliki risiko,” pesan Adlun.

Dia tambahkan, selain basis data yang kuat, hal lain yang sangat penting adalah berjejaring. Memang ada UU ITE yang mengancam, dan bisa saja dijadikan alat untuk mengkriminalisasi atau membungkam suara kritis orang muda.

“Maka itu berjejaring perlu agar memiliki solidaritas yang kuat jika ada apa-apa,” pungkasnya. (rudi fofid)

Pos terkait