Jerit Pahit Dan Getir Dari Manis Buano

  • Whatsapp
Seorang bocah perempuan menggendong adik lelakinya melintasi banjir yang mulai surut di Negeri Buano. Saban tahun, kawasan ini tergenang akibat tumpahan air Danau Namaola di tengah kampung. Lebih 20 tahun, tidak ada penanggulangan banjir sehingga banjir menjadi langganan tahunan (foto cts bachtiar helluth)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Buano adalah nama pulau kecil di ujung Barat Pulau Seram. Pulau ini sangat popular sebelum kedatangan bangsa asing di Maluku.  Buano selalu disebut dalam satu tarikan nafas: Manipa-Kelang-Buano.

Setiap orang yang pernah ke Buano selalu pulang dengan cerita manis tentang “Tanah  Sorga” atau “Surga kecil jatuh ke bumi”. Maklum, pulau kecil dikungkung laut biru bersih, pantai pasir putih, dan taman karang, adalah impian para pelancong.

Pulau Kasuari milik Buano, adalah pulau kecil yang  terkenal di seantero dunia.  Banyak  wisatawan  ke sana, sebab dalam dokumen tua, tempat-tempat di Seram Barat sudah diperkenalkan secara detail oleh para penulis abad silam.  Nama ilmuwan Francois Valentijn bahkan diabadikan di lautan antara Pulau Buano dan Pulau Pua, sebagai Selat Valentijn.

Tidak heran, Buano dan sekitarnya selalu indah di media.  Lihat saja foto-foto atau video pendek di media sosial.   Para pencinta alam,  wisatawan, peneliti, bahkan anak Pulau Buano, selalu merayakan keindahan laut, pantai, dan segenap pesona pulau kecil di tepi laut lepas.

“Kalau sudah sampai di Buano, rasa-rasa seng mau pulang lae,” begitulah komentar Maulana, seorang aktivis pencinta alam di Ambon.

Orang-orang Buano adalah orang-orang sederhana.  Di Pulau Buano,  mereka hidup bertahun-tahun dalam naungan satu pemerintahan adat di Negeri Buano Utara dengan baileo bernama Lounussa Amalatu.

Jumlah penduduknya  melebihi 12 ribu jiwa.  Dari bangunan masjid dan gereja yang letaknya tidak berjauhan, bisa dipastikan orang Buano adalah pemeluk Islam dan Kristen.  Orang Muslim menempati Negeri Buano Utara, sedangkan warga Kristen di Buano Selatan.  Pada saat berbagai negeri dan pulau di Maluku dilanda konflik, orang Muslim dan Kristen Buano tidak ke mana-mana.  Mereka tetap hidup normal, seperti tidak terjadi apa-apa, sebab mereka tetap menjunjung persaudaraan di dalam satu baileo yang sama.

Kesederhanaan Buano nyaris identik dengan kerelaan, pasrah atau terpaksa. Ketertinggalan, ketidakadilan, semuanya dihadapi dengan tenang.    Walaupun banyak mahasiswa, sarjana, politisi, birokrat berasal dari Buano, tetapi mereka tidak terlalu cerewet dan gaduh di media.   Bagai menyembunyikan derita luka,  orang Buano boleh disebut panjang sabar dan damai.

Danau Namaelo di tengah Negeri Buano (google)


DIPICU LUAPAN NAMAOLA

Sikap pasrah dan diam yang lama di kalangan warga Buano, akhirnya tercetus juga. Hal ini terutama setelah kawula muda merasakan dan menyaksikan  Buano  selalu saja  dipinggirkan, dilupakan, tidak didengar, tidak  dipedulikan.

Sudah menjadi berita di media massa bahwa saban tahun  jika curah hujan  tinggi, Danau Namaola di tengah Negeri Buano meluap.  Air keruh, berwarna  coklat, bau tidak sedap, meluap keluar danau.  Akibatnya, rumah-rumah terendam air.  Beberapa rumah adat ikut terendam banjir.

Di Buano, terdapat 30 marga dengan 30 rumah adat.  Melihat beberapa rumah adat yang saban tahun terendam air,  para pemuda tidak lagi diam. Mereka mulai bersuara. Ketua Umum Paguyuban Pemuda Pelajar Mahasiswa (Pelasiwa) Lounusa Amalatu Ahum Ninilouw mengisahkan kepada Media Online Maluku Post, Rabu (4/3), lebih 20 tahun dirinya menjadi saksi luapan air Namaola, danau alam di tengah kampung.

Bertahun-tahun banjir  air keruh, berlumpur, kotor, dan bau tidak sedap, selalu saja menimpa warga di sekeliling danau.

“Pernah seorang bayi meninggal akibat luapan air danau,” terangnya.

Ahum Ninilouw mengaku gelisah sebab pemerintah kurang serius melihat derita orang Buano.  Dia akui, tahun 2018 pernah ada bantuan pemerintah berupa mesin alkon.  Akan tetapi sekali pakai saja, mesin itu kemudian rusak.

Kini, curah hujan yang tinggi membuat debit air danau naik lagi.  Air itu terkepung karena tidak punya saluran pembuangan.  Akibatnya, air tumpah ke pemukiman, termasuk rumah-rumah adat dan rumah warga.

Sejatinya, Danau Namaola adalah danau yang indah, bening, bersih di tengah kampung.   Dulu, warga mandi, mencuci, bahkan mengambil air minum di situ.   Dari danau, terdapat kanal ke laut sehingga air mengalir lancar.

Keindahan Danau Namaola inilah  yang memicu warga membangun rumah merangsek ke bibir danau.  Mereka ingin dekat dengan keindaan Namaola.  Akibatnya, Namaola berubah dari manis menjadi getir.

DARURAT PENDIDIKAN

Seorang putera Buano Bambang Poipessy, lulusan FISIP Unpatti yang kini sedang merintis rumah literasi untuk Negeri Buano, juga angkat suara.  Poipessy mengungkap fakta mencengangkan tentang realitas pendidikan di Buano.  Di sana, terdapat sepuluh unit sekolah negeri dan swasta, dari SD sampai SMA.

“Dari sepuluh  sekolah, hanya delapan kepala sekolah berstatus pegawai negeri sipil.  Dua kepala sekolah dan seluruh guru di Buano berstatus pegawai kontrakan dan honorer,”  ungkap Poipessy.

Sekolah-sekolah yang disebut Poipessy adalah SD Negeri 1, SD Negeri 2, SD Inpres 1, SD Inpres 2, SMP Negeri Satu Atap, SMP PGRI, SMP Yasifa, SMP Muhammadiyah, SMA Negeri 3,  SMA 26 Buano.  Semua sekolah ini dipimpin seorang PNS, kecuali SMP Yasifa dan SMP Muhammadiyah, dipimpin kepala sekolah dari tenaga honorer.

“Bayangkan, akibat semua ini, ada guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani mengajar Bahasa Inggris.  Jadi, guru mengajar begitu saja, tidak didukung fasilitas memadai.  Apa yang bisa kita harap?” cetus Poipessy.

Meskipun sarana pendidikan dasar dan menengah di Buano tidak memadai, Poipessy merasa bersyukur bahwa putera-puteri Buano tidak patah arang.  Mereka tetap berjuang di tengah kekurangan.  Mereka tetap mensyukuri kelimpahan sumber daya alam Buano di darat maupun laut.

Di tengah situasi ketimpangan pembangunan, anak-anak Buano tetap sekolah.  Saat ini saja, tercatat ada sekitar 500 mahasiswa asal Buano tersebar pada berbagai perguruan tinggi di Ambon, maupun di luar Maluku.  Dari jumlah itu, sekitar 300 mahasiswa berada di Ambon.

Alhasil, menurut Poipessy, Buano juga memberi kontribusi sumber daya manusia bagi lembaga legislatif di Seram Bagian Barat.

“Pada tahun 2009, ada tiga putera Buano duduk di DPRD SBB. Tahun  2014, ada  satu kursi, dan tahun 2019, kita punya dua wakil,” paparnya.

Ahum Ninilouw dan Bambang Poipessy sama-sama menaruh harapan kepada Pemerintah dan DPRD di tingkat kabupaten maupun  provinsi,  kiranya sudi buang langka dan buang mata ke Buano.

Jika pemerintah lalai, menurut keduanya, dari Buano yang manis dan eksotik, saban tahun akan selalu terdengar jerit pahit dan getir  dari rakyat jelata.  Sungguh ironis jika hal ini dibiarkan terus berlangsung di depan mata. (Maluku Post)

Pos terkait