Langgur, Malukupost.com – Gereja Protestan Maluku (GPM), Jemaat Anugerah Ohoijang-Langgur, Klasis Kei Kecil dan Kota Tual, melaksanakan Peneguhan Sidi Baru, kepada 89 orang jemaat.
Ketua Majelis Jemaat (MJ) setempat, Pdt. GH. Anakotta, S.Si menyatakan pelaksanaan Peneguhan Sidi tersebut dibagi dalam beberapa kelompok.
“Peneguhan Sidi Baru kepada 89 orang itu, terbagi dalam empat kelompok, dan akan dilaksanakan dalam empat minggu berturut-turut selama bulan Juni ini,” ujarnya di Langgur, Minggu (14/6/2020).
Untuk diketahui, pelaksanaan Sidi yang seharusnya dilaksanakan pada bulan April 2020, ditunda hingga Juni 2020 akibat pandemi Covid-19.
Pdt. Anakotta mengatakan, hal tersebut dilakukan, bukan karna ketakutan terhadap Covid-19, namun karena memiliki hubungan kemitraan dengan negara, maka Gereja punya tanggung jawab tunduk, taat dan siap melakukan pekerjaan yang baik bagi kesejahteraan seluruh rakyat dan semua ciptaan. (Band: Titus 3:1).
“Oleh karena itu, tunduk dan taat pada himbauan pemerintah untuk keselamatan semua orang adalah sikap gereja untuk turut mengambil bagian penting dalam mengatasi penyebaran virus dimaksud,” imbuhnya.
Menurutnya, dalam misi yang besar tersebut, terhadap seluruh pelayanan bergereja, maka Jemaat GPM Anugerah Ohoijang-Langgur melaksanakan peneguhan Sidi dimaksud.

“Sidi adalah bentuk pengakuan gereja terhadap kedewasaan iman seseorang (AG 240). Peneguhan sebagai anggota jemaat yang telah dewasa dan bertanggung jawab untuk melaksanakan amanat pelayanan gereja,” tandasnya.
Pdt. Anakotta mengungkapkan, ada tantangan dan hikmat tersendiri yang dapat direfleksi pada Peneguhan Sidi Baru saat ini.
Pertama, bahwa SIDI dilakukan saat pendemik Covid-19 begitu menghantui seluruh umat manusia. Sebagai warga gereja yang dewasa secara iman, kita punya tanggung jawab yang besar yaitu mengkampanyekan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kedua, Peneguhan Sidi dilaksanakan pada bulan Juni, dimana sesuai tema pembinaan bulanan kita yakni Selamatkan Bumi, Selamatkan Kehidupan.
“Tema ini adalah imperatif bagi kita, bahwa tugas bersama adalah menjadi warga Gereja yang peduli lingkungan. Alam ini adalah rumah kita yang harus dilindungi bersama seluruh ciptaan Allah. Tanggung jawab Gereja adalah memelihara lingkungan hidup, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari imannya kepada Tuhan Yesus Kristus,” katanya.
Ketiga, yakni kita diperhadapkan dengan Iptek yang semakin mengeliat. Kedewasaan kita terukur, ketika sebagai warga Gereja yang memahami bahwa Iptek adalah anugerah Allah yang harus dimanfaatkan demi kebaikan dunia dan demi kemuliaan nama Tuhan.
“Tetapi kita juga menjadi werga Gereja yang harus kritis terhadap daya cipta Ipteks yang merusak tatanan hidup manusia dan dunia. Sebagai teman sekerja Allah, kita melanjutkan tugas mencipta dan memelihara karya lewat Ipteks untuk menunjang misi pelayanan dalam pewartaan Injil,” pungkasnya.


