Silvo Letsoin, “Komposer Miskin” Penopang Black Sweet Dan U-Brothers

  • Whatsapp
Silvo Letsoin (foto petter letsoin)
Silvo Letsoin (foto petter letsoin)

Laporan Rudi Fofid-Langgur

Malukupost.com – Black Sweet dan U-Brothers adalah dua grup band tenar dengan lagu-lagu berbahasa Kei. Mereka merekamnya pada masa jaya pita kaset dan banyak didaur ulang. Tidak banyak yang tahu bahwa sejumlah lagu populer itu digubah seorang “komposer miskin” yang tinggal di Debut, Kecamatan Manyeuw, Maluku Tenggara.

Silvester Guido Letsoin alias Silvo, begitulah nama sang komposer penopang Black Sweet dan U-Brothers. Pria kelahiran Debut, 12 september 1957 itu bukan saja nyaris tidak dikenal karena tinggal di kampung. Oleh anak-anak kandungnya sendiri, dia dijuluki komposer miskin atau artis miskin.

“Saya selalu jawab kepada anak-anak saya, bahwa jangan menghina talenta dari Tuhan kepada bapa,” cerita Silvo kepada Media Online Maluku Post di Debut, Kamis (17/2).

Silvo mengaku tidak keberatan dengan julukan yang diberikan anak-anaknya. Alasannya, dirinya memang tidak mengejar materi dari karya-karyanya. Terlebih-lebih, personil Black Sweet maupun U-Brothers adalah kerabat keluarga sendiri.

“Ibunda Steven Letsoin dan Harry Letsoin adalah saudara kandung ibu saya, sedangkan John Keff Katabal-Efruan itu ipar saya. Belum lagi Gerald Tethool, kami semua bersaudara sebab saya juga berdarah Tethool,” ungkap Silvo.

Hingga kini, Silvo sudah menulis lebih dari 30 lagu berbahasa Kei, baik untuk lagu pop, lagu etnik, maupun lagu rohani. Beberapa yang dikenal luas adalah Sian It Vatuk, Adat Evav (bersama Steven Letsoin), Mam Sob-Sob (rohani), It Var Sak Evav Meman (bersama Steven Letsoin), Beben Sosoi Evav (bersama Steven Letsoin), Snib Nib Teteen Evav (bersama Harry Letsoin).

Silvo bercerita, lagu pertama yang digubahnya adalah lagu berjudul Snib Nib Teteen Evav, bersama Steven Letsoin. Lagu dikerjakan dengan cara sederhana. Dimulai dengan menulis lirik dan memberi akord berbekal gitar pinjaman. Ketika lagu sudah jadi, Silvo merekam suaranya di atas pita kaset dengan mengandalkan tape recorder sederhana.

Lagu yang sudah direkam di atas pita kaset, selanjutnya dikirim melalui keluarga yang berangkat ke Jakarta. Untuk lagu lain, prosesnya sama saja, namun terkadang Silvo sendirilah yang mengantar lagu tersebut ke tangan saudara-saudaranya.

“Saya baru menulis lagu setelah Black Sweet hijrah ke Jakarta dan hendak menyanyikan lagu-lagu Kei. Karena mereka meminta lagu Kei, maka saya menulisnya untuk mereka,” ungkap Silvo.

Meskipun memiliki suara yang bisa diandalkan, dan sangat dekat dengan seluruh personil Black Sweet dan U-Brothers, Silvo tidak menjadi anggota salah satu band. Pasalnya, setelah merantau ke Papua, dan pulang kampung di Kei tahun 1980, dia pun ikut tes masuk PNS tahun 1981. Hasilnya, Silvo lulus dan diangkat menjadi PNS tahun 1982.

Sebagai pegawai Kantor Bupati Maluku Tenggara, Silvo konsentrasi pada pekerjaan kantor. Profesi itu terus digeluti sampai dipindahkan ke Kecamatan Kei Besar Utara Timur, dan terakhir di Kecamatan Kei Kecil Barat hingga pensiun tahun 2013.

Setelah pensiun PNS, Silvo ternyata terpanggil untuk naik panggung. Bersama grup Evav Band pimpinan Ucu Ulukyanan, mereka bernyanyi meramaikan Festival Budaya Maren di Kota Tual. Selain itu, Silvo juga bernyanyi lagu-lagu Kei di atas panggung kampanye pasangan kandidat kepala daerah Thaher Hanubun-Petrus Beruatwarin.

“Saya ikut bernyanyi di Kei Besar, Kei Kecil, bahkan juga sampai acara syukuran pelantikan di Ambon,” terangnya.

Bakat Silvo di dunia musik sudah muncul sejak dirinya masih remaja di Debut. Berbekal gitar pinjaman, ia mulai belajar petik gitar dan bernyanyi. Setelah menikah dengan Leonora Enggelina Inuhan dan dikaruniai tujuh putera-puteri, ternyata ada juga anaknya yang mewarisi talenta musik.

“Anak saya Boris suka musik. Vokalnya baik dan sering bernyanyi di gereja. Dia malah terjun ke dunia hiphop seperti anak muda seangkatannya,” jelas Silvo.

Puteranya yang lain, Eco Letsoin dan Rano Letsoin, juga mewarisi bakat yang sama. Silvo terharu ketika Eco memberi komentar tentang lagu-lagu karya sang ayah.

“Kalau bapa meninggal, nama bapa tetap hidup, dan itu kebanggaan buat saya,” kata Eco sebagaimana dikisahkan Silvo.

Silvo berpesan kepada anak-anaknya, jika kelak dirinya meninggal, dia ingin prosesi pemakamannya diiringi lagu-lagu gubahannya.

“Kalau saya mati, iringi bapa ke kubur dengan lagu-lagu Kei karya bapa,” begitulah Silvo berpesan.

Saat ini, sebagai kakek tujuh anak, 16 cucu, dan 1 cece, Silvo masih tetap menulis lagu dan bermain musik. Grup Evav Band pimpinan Ucu Ulukyanan masih tetap ada, lengkap dengan personilnya.

Sang “komponis miskin” itu kini sedang berjuang melengkapi perlengkapan musiknya, sebab sebuah keyboard miliknya sudah rusak.

“Kami main musik di sana-sini, kehujanan di jalan sehingga keyboard tersiram air dan rusak. Jadi, semoga cepat saya bisa punya keyboard baru,” pungkas Silvo. (malukupost/foto petter letsoin)

Pos terkait