Ingat Joseph Kam, Roskott, Valentijn Dan Jangan Lupa Willem Luijke

  • Whatsapp
Lukisan profil Pendeta William Luijke dan tulisan pada nisannya di Ambon (foto rudi fofid & negerisaparua.blogspot.com)
Makam Pendeta Willem Luijke, istri dan dua anaknya di Rumahtiga Ambon (foto rudi fofid)


Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Sepanjang jalan sejarah gereja, betapa banyak pendeta telah hadir melayani. Masing-masing punya era, medan, dan cerita sendiri-sendiri. Gereja Protestan Maluku (GPM) yang tumbuh mekar dari Gereja Hindia Belanda, juga punya kisah pendeta-pendeta Belanda nan heroik dan dramatik.

Joseph Kam,  Bernhard Nikolas Johann Roskott, dan Francois Valentijn adalah trio pendeta sangat tenar. Joseph Kam disebut Rasul Maluku oleh karena perjalanan misionarisnya yang spektakuler di Indonesia Timur, dan karya-karya agungnya di Maluku. Pengganti Kam yakni Roskott tidak kalah heroik. Ia berjasa besar di dunia pendidikan bagi pelayanan jemaat.

Jauh sebelum Kam dan Roskott, sudah hadir lebih dulu seorang pendeta tenar sekaligus kontroversial yakni Francois Valentijn. Ia bersahabat dengan G. E. Rumphius, bahkan pernah tinggal berlajar Bahasa Melayu Ambon di rumah ilmuwan besar itu. Buku Valentijn yang terkenal di dunia yakni Oud en Nieuw Oost-Indiën, lima seri tebal dan lengkap. Namanya abadi di Ambon sebagai Kawasan Valantijn dekat Paradijs. Selain itu, ia abadi  sebagai nama selat antara Pulau Seram dan Buano yakni Selat Valantijn.

Ada sebuah nama lain yang jarang dibicarakan. Dialah Pendeta Willem Luijke (sering juga ditulis Luyke). Ia tidak setenar ketiga pendeta lain. Jika Valentijn kembali ke Belanda, maka Kam dan Roskott tidak demikian. Keduanya memilih melayani Maluku sampai akhir hayat.

Luijke datang di Maluku dan bekerja bersama Kam. Setelah Kam wafat, Luijke  melanjutkan pekerjaan kependetaan bersama Roskott. Selain itu, Luijke juga memilih tidur abadi di Tanah Ambon.

Sebagian warga Ambon masih ingat, ketika seluruh makam di Belakang Soya dipindahkan ke Benteng Atas, tahun 1980an, hanya tersisa satu-satunya makam tua. Pemerintah Kotamadya Ambon menghormati sosok yang tidur di situ yakni Joseph Kam.

Tahun 1998, wartawan Dino Umahuk memotret makam tua itu dan menulis kisahnya di Tabloid Patrioit, barulah banyak orang muda tahu, bahwa sosok Rasul Maluku itu ternyata tidur di Tanah Ambon. GPM khususnya Jemaat Bethel, kemudian membangun Gereja Joseph Kam. Dua lorong yang mengapitnya, juga diberi nama Josep Kam I dan Joseph Kam II.

Pendeta Roskott tidur di Rumahtiga, di tengah-tengah pemakaman Keluarga Huwae. Ia memang bertugas di Jemaat Rumahtiga, dan punya hubungan dekat dengan warga asal Negeri Allang yang berdomesili di Rumahtiga.

Di manakah Pendeta Luijke berbaring? Ternyata Luijke juga tidur di Rumahtiga. Istri dan dua anaknya juga dimakamkan saling berdekatan di dalam satu petak tanah yang cukup aman terlindung.

Menemukan Makam Luijke tidaklah sulit. Di dekat Rumah Sakit Dokter Leimena, terdapat Lorong Prabowo, sebuah lorong menuju pantai, melintasi rumah anggota DPR RI Hendrik Lewerissa. Sekitar 200 meter dari jalan utama, terdapat dua pohon kelapa merah. Di bawah pohon kelapa itulah, terdapat empat makam tua. Makam Luijke berada di sebelah kiri belakang. Di samping kanan, berbaring istrinya. Di depannya, terdapat dua makam anak lelakinya yakni Willem Alexander Luijke, dan Thomas Albert Luijke.

DARI AMSTERDAM

Willem Luijke lahir di Amsterdam, 7 September 1798. Ayahnya George Fredrik Luijcke and ibunya Margaretha Koeman. Ia menikah dengan Anna Carolina Petronella Harrar, dikaruniai delapan anak. Luijke wafat di Ambon, 21 Mei 1886, dalam usia 88 tahun. Pada nisan di samping makam Luyke, di nisannya tertulis Luyke Harrar, wafat 18 Juli 1879. Data ini sama dengan keterangan pada myheritage.com.

Delapan putera-puterinya berturut-turut berdasarkan tahun lahir yakni Willem Alexander Luijke (1844), Martha Frederika Luijke (1845), Frederik Christiaan Luijke (1847), Daniel Luijke (1849), Thomas Albert Luijke (1851), George Nikolaas Luijke (1853), Margaretha Agnes Luijke (1855), dan Benjamin Johannes Luijke (1861).

Enam dari delapan anaknya lahir di Ambon, Martha Frederika Luijke dan Frederik Christiaan Luijke lahir di Saparua. Tahun kelahiran anak menjadi bukti bahwa pada saat itu, Luijke bertugas di sana.

Dari buku Een Opwekker op Timor, De tragische geschiedenis van Geerlof Heijmering (1792-1867) karya Christiaan George Frederik De Jong, diketahui tempat-tempat tugas Luijke selama di Maluku adalah di Kota Ambon (1827-1828), Moa (1828-1829), Sarai-Leti (1829-1841), Kota Ambon (1841-1842), Haruku (1842-1849), Kota Ambon (1849-1854), Hutumuri-Ambon (1854-1855), dan Rumahtiga-Ambon (1855-1883).

Karya Luijke yang patut dihormati yakni sejumlah terjemahan kitab suci ke dalam Bahasa Leti.  De Jong mencatat, Luijke membuat 30 pertanyaan dan jawaban, seperti katekismus dalam Bahasa Leti. Demikian juga Pangâdjaran deri pada Sapuloh Penjurohan Allah, dan Kisah Kelahiran Yesus, Tata Bahasa Leti, serta terjemahan lain.

Dalam catatan sejarah Klasis Letti Moa Lakor sebagaimana disiarkan sinodegpm.org, 2 November 2018, tertulis bahwa antara tahun 1823-1825, Pendeta Josep Kam tiba di Letti dan menetap di Serai (Batumiau). Ia membawa enam orang pendeta, salah satunya Pendeta Luijke. Luijke ditempatkan di Toinaman, namun diserang malaria sehingga Kam membawanya ke Patti.

Sejarahwan gereja Cornelis Adolf Alyona adalah penulis yang cukup detail menulis Luijke. Alyona mengungkapkan dalam tulisannya bahwa tahun 1856 secara formal pelayanan terhadap Jemaat sepanjang Teluk Ambon Bagian Dalam yakni Rumahtiga, Poka, Waiheru, Lateri, Latta, Halong, dan Galala diserahkan kepada Luijke yang tinggal di Rumahtiga sejak 1855.

Luijke ternyata juga seorang penulis yang sangat dekriptif. Ia melukis suasana secara cermat. Alyona dalam tulisan berjudul “Jemaat Latta Dalam Lintasan Sejarah” mengutip laporan Luijke kepada Pengurus Besar Nederlands Zendeling Genootschap (NZG) di Rotterdam, tentang penahbisan Gereja Latta. Terjemahan Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia oleh Alyona memperlihatkan sedetail inilah Luijke.

“Pada tanggal 26 November 1853 saya dijemput dengan sebuah perahu kecil yang dihiasi daun dan kembang beraneka warna. Ketika itu turut serta beberapa orang lain. Setiba di pantai – sesuai sifat orang Ambon – saya disambut penuh semangat dengan beberapa tembakan kehormatan disusuli musik. Tampak dua pemain biola; serta dua pemain klarinet dan dua pemain suling yang diminta dari paduan pemain musik Schutterij. Lantas saya diantar melewati jalan berhias dan dua gapura kehormatan yang juga dihiasi umbul-umbul sampai di gereja. Dari pekarangan sampai di dalam gedung gereja penuh dihiasi daun dan bunga beraneka warna. Setiba dekat rumah guru, tempat saya menginap, anak-anak menari bersaf-saf sehingga semua tampak hidup dan gembira. Ini adalah gedung gereja pertama yang dibangun dengan baik di Teluk Ambon bagian Dalam yang akan ditahbiskan, karena gedung-gedung di mana diadakan Ibadah biasanya gubuk atau terbuat dari gaba-gaba dan lebih sering digunakan untuk sekolah ketimbang gereja. Guru kelihatan senang dan bersuka cita karena gereja tersebut boleh dikatakan selesai; dibangun olehnya, di bawah pengawasannya, dan bagian-bagian terpenting dari bangunan gereja itu dibuat dengan tangannya sendiri. Padahal beliau harus berhubungan dengan masyarakat yang miskin namun bangga, karena sepanjang tahun beliau mesti bersabar dan rajin sampai akhirnya dapat menyelesaikannya. Namun, tahun terakhir sejak saya sekali-kali datang di sana untuk bekerja, banyak yang dikerjakan dari yang belum dapat diselesaikannya dibanding beberapa tahun sebelumnya. Gedung itu sendiri terdiri dari dinding setengah batu, papan yang digunakan juga dinilai berkualitas, kelihatan sangat kuat dan dihiasi dengan pintu dan jendela, tetapi tidak terlalu besar untuk jemaat yang berjumlah ± 500 jiwa. Dalam upacara itu tidak semua warga jemaat berlutut dikarenakan ruangan gereja penuh sesak. Yang berlutut hanya Luijke, Guru dan Sersan (Kepala Lingkungan/Wijk Latta). Di tengah gereja ada bangku kecil tanpa sandaran yang ditempatkan khusus di situ.” (Lihat sumber asli http://waterlelielaan.blogspot.com/2011/07/jemaat-latta-dalam-lintasan-sejarah-2_06.html).

Alyona melukiskan Luijke sebagai gembala yang baik. Dalam hal tahyul, Roskott sangat keras, sedangkan Luijke justru tampil sebagai tokoh spiritual atas nama penggembalaan, bapak rohani yang sabar, pelayan yang berwibawa, dan disegani.

“Pada Malam Natal 25 Desember 1863, dengan penuh kasih ia menghimpun warga jemaat Latta (dan Lateri). Luijke memberi penguatan iman dalam kaitan dengan tahyul, yaitu Pontijana (kuntilanak).Pada 25 Juni 1865, ia hadir sebagai “tabib” ketika warga jemaat Latta (dan Lateri) diserang penyakit Pokken (penyakit cacar).Penelaan Alkitab juga diselenggarakannya pada 20 Januari 1867 sebagai langkah strategis untuk mencerahi pemahaman kekristenan dan mengokohkan spiritualitas jemaat,” tulis Alyona.

Dari tulisan Alyona dan de Jong, diketahui bahwa Luijke sering jatuh sakit. Selain di Moa, juga di Hutumuri. Sebab itulah ia dipindahkan ke Rumahtiga, bekerja bersama Roskott, sampai akhir hayatnya. (Malukupost.com)

Pos terkait