“LAWAMENA” Menjalin Mimpi Maluku Dalam Degup 80 Tahun Indonesia Merdeka

Ambon, MalukuPost.com – Ketika Hendrik Lewerissa, S.H., LL.M menerima ajakan sarapan dari Prabowo Subianto, kala itu Menteri Pertahanan, dan kini menjadi Presiden Republik Indonesia, barangkali tidak ada yang menyangka percakapan hangat di pagi hari itu akan mengubah arah sejarah Maluku. Ajakan untuk menjadi Gubernur Maluku bukan semata tawaran jabatan, melainkan amanah besar agar tanah kaya rempah dan pesona bahari itu bangkit dari tidur panjangnya, menjadi provinsi yang bukan hanya kaya potensi, tetapi juga sejahtera rakyatnya.

Atas dukungan dan kepercayaan penuh rakyat di bumi para raja-raja itu, Hendrik Lewerissa terpilih bersama Abdullah Vanath dengan 473.379 suara (47,40%) dan resmi dilantik Presiden pada 20 Februari 2025 bersama 960 kepala daerah lainnya di Istana Kepresidenan Jakarta.

Pria kelahiran 2 Maret 1968 itu membawa nafas segar perjuangan melalui gagasan “Sapta Cita Lawamena” sebuah peta jalan membangun Maluku menuju impian besar “Maluku Maju, Mandiri, Religius, dan Berbudaya” menuju Indonesia Emas 2045.

Enam bulan kemudian, perjalanan itu mulai memberi tanda. Meski baru seumur jagung, Pemprov Maluku, dibawah kepemimpinan Hendrik Lewerissa – Abdullah Vanath (Lawamena), sukses meraih SPM Award 2025 (Provinsi terbaik pelayanan dasar kepulauan), Ocean Legacy Award 2025 (inovasi konservasi laut), hingga penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Konflik Sosial dari Kapolda Maluku, buktinya gerak cepat merespon mediasi penyelesaian konflik Sawai dan Masihulan. Semua itu kecil mungkin di mata sebagian orang. namun menjadi sinyal bahwa Maluku terus bergerak bangkit.

Di balik semua itu, inti mimpi Hendrik sederhana namun sarat makna “Par Maluku Pung Bae”. Filosofi pembangunan yang menempatkan rakyat sebagai pusat, bukan objek. Maka lahirlah program-program berkesinambungan dengan pro-rakyat Pemerintah Pusat, dari Sekolah Rakyat bagi anak miskin ekstrem, telah beroperasi pada tahun ajaran baru ini dengan 100 orang siswa. Menggunakan bangunan PSBT Hiti Hiti Hala Hala di Passo, Kota Ambon. Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG), hilirisasi sagu, hingga lahirnya 1.235 koperasi Merah Putih yang menjadi denyut ekonomi baru tingkat desa.

Gagasan besarnya tegak lurus dengan tema Kemerdekaan RI ke-80 “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, sekaligus Dirgahayu Provinsi Maluku ke-80 “Merajut Harmoni, Membangun Negeri”. Sebab bagi Hendrik, membangun provinsi kepulauan seperti Maluku harus dimulai dari desa, dari laut, dari akar kehidupan keseharian, bukan hanya dari atas meja rapat.

Tidak heran jika dalam forum nasional ia begitu lantang menyuarakan “keadilan ruang”. Ia menolak praktik sentralisme yang membuat Maluku hanya menjadi lumbung potensi tanpa bisa menikmati hasilnya. “Kami keluar izin perikanan, kami layani, tapi PAD bukan kami yang terima. Ini menyakitkan,” tegasnya di Senayan. Sebuah keberanian yang lahir dari cinta mendalam pada tanah kelahiran.

Dari Laut hingga Pusat Kekuasaan

Tak hanya membangun di daerah, Gubernur Hendrik aktif ke pusat. Melobi Menteri Bappenas untuk percepatan Blok Masela dan Maluku Integrated Port atau Pelabuhan Terpadu. Perjuangan Lewerissa adalah proyek strategis nasional yang bertujuan untuk mengembangkan pelabuhan besar di Kawasan Timur Indonesia, khususnya di Maluku. Proyek ini diprakarsai oleh Gubernur, dan akan dipimpin oleh pakar kepelabuhanan, RJ Lino. Pelabuhan rencananya berlokasi di Wasarisa, Kabupaten SBB, akan menjadi simpul logistik utama di kawasan timur Indonesia, mengintegrasikan kegiatan ekonomi di Maluku dan sekitarnya. Kemudian bertemu Menteri PUPR dan TAPERA menghasilkan 2.000 rumah bersubsidi, 33 dapur SPPG agar anak Maluku tak lagi lapar, hingga dorongan agar adanya perhatian Menteri Pemuda dan Olahraga agar talenta muda Maluku tidak terusir karena minim fasilitas olahraga.

Di sektor kesehatan, status Balai Paru diangkat menjadi Klinik Utama Lawamena, RSUD Namlea dibangun bersama Menteri Kesehatan menjadi Program Strategis Nasional (PSN), dan empat rumah sakit lagi siap dibangun di tahun 2026 untuk Kabupaten Kepulauan Aru, Buru Selatan, Maluku Tenggara, dan Maluku Barat Daya. Sebab menurut Hendrik, “kemajuan itu bukan diukur dari gedung tinggi, tapi apakah rakyat terlayani dengan adil dan berharga.”

80 Tahun Kemerdekaan: Sebait Renungan dari Timur

Puncaknya, pada 17 Agustus 2025, untuk pertama kalinya Hendrik memimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi di Lapangan Merdeka Ambon. Hujan turun deras, namun Sang Merah Putih tetap berkibar gagah. Simbol bahwa mimpi Indonesia dan Maluku tak akan luntur oleh ujian.

Ia berpesan “Tantangan tidak boleh menggoyahkan persatuan kita. 80 tahun kemerdekaan ini mesti menyadarkan kita untuk bekerja sungguh-sungguh dari tempat kita masing-masing, demi Maluku, demi Indonesia.”

Maluku mungkin belum semaju Jawa, belum semegah Jakarta, namun lewat langkah-langkah nyata enam bulan ini, kita melihat harapan itu tumbuh. Hendrik Lewerissa tidak memulai dari janji, tetapi dari kerja nyata, meletakkan pondasi masa depan, menjahit mimpi anak pesisir, dan memulihkan marwah Bumi Raja-Raja.

Tentu perjalanan masih panjang. Lawamena belum selesai. Tapi selama bara semangat kemerdekaan terus menyala dalam dada pemimpin dan rakyatnya, maka Maluku pun akan berdiri bangga sebagai provinsi kepulauan yang benar-benar bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, Indonesia Maju.

Selamat Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia dan Provinsi Maluku. Marilah terus Merajut Harmoni, Membangun Negeri demi masa depan yang lebih adil, makmur, dan bermartabat. Lawamena Haulala!

Pos terkait