GMKI Cabang Ambon Rayakan Natal Lintas Generasi Bersama Panti Asuhan Pelita Kasih

AMBON, MalukuPost.com – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon bersama Persekutuan Senior GMKI Cabang Ambon merayakan Natal lintas generasi bersama anak-anak Panti Asuhan Pelita Kasih dalam ibadah yang berlangsung khidmat di Gereja Rehoboth, Senin (22/12/2025).

Perayaan Natal ini menjadi ruang perjumpaan iman yang meneguhkan kebersamaan, integritas, dan komitmen pelayanan di tengah kehidupan persekutuan dan bermasyarakat.

Ibadah Natal dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette, MPH Sinode GPM Pdt. Adriana Lohy dan Penatua P. M. Latumaerissa, Ketua Klasis se-Klasis Ambon, jajaran DPC dan pengurus komisariat, serta kader GMKI dan Senior GMKI Cabang Ambon.

Ibadah dipimpin oleh Pdt. S. Werinussa, M.Si, yang dalam refleksinya mengangkat tema “Natal di Tiris-Tiris Kehidupan”, ia menegaskan bahwa Natal mengajak umat untuk menempatkan iman sebagai pusat hidup, bukan jabatan atau posisi struktural. Iman, katanya, bukan soal menjadi pusat sorotan, melainkan tentang kesediaan untuk setia mengikuti karya Allah, sekalipun berdiri di pinggir narasi.

Melalui pembacaan Matius 1:18-25, ia menyoroti figur Yusuf sebagai teladan iman yang tidak memaksakan kebenarannya sendiri. Yusuf hadir di sisi kisah Natal, namun justru di sanalah terlihat ketaatan dan kerendahan hati yang sejati.

“Yusuf mengajarkan kita bahwa kebenaran bukan alat kuasa atau legitimasi diri, melainkan disposisi hati yang tunduk pada kehendak Allah dan membuka ruang bagi kehidupan bersama,” ujarnya.

Refleksi tersebut juga menegaskan bahwa segala privilese yang dimiliki manusia, baik pendidikan, jabatan, maupun akses, bukanlah tanda keunggulan, melainkan anugerah Allah yang dipercayakan untuk melayani dan mengasihi sesama, terutama mereka yang berada di pinggir kehidupan.

Dalam khotbahnya, Pdt. Werinussa turut mengangkat figur para Majus sebagai simbol kaum intelektual yang memiliki integritas dan tidak berkompromi dengan tirani kekuasaan. Nilai ini dinilai relevan dengan jati diri GMKI sebagai gerakan mahasiswa yang kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada GMKI sebagai mitra strategis pemerintah dan agen perubahan. Ia menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan konstruktif dari GMKI demi pembangunan Kota Ambon yang berkeadilan.

“GMKI diharapkan terus menghadirkan sukacita dan damai sejahtera di Kota Ambon, sejalan dengan tema Natal Sinode GPM, Natal Kristus Menghadirkan Damai Sejahtera Bagi Semua,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Pengurus Cabang Persekutuan Senior (PCPS) GMKI, Veky Paliyama, menegaskan bahwa Kristus harus tetap menjadi pusat seluruh realitas kehidupan orang percaya. Ia mengingatkan teladan Dr. Johannes Leimena, tokoh pendiri GMKI, yang dalam proses kemerdekaan hingga pembangunan bangsa selalu menempatkan Kristus sebagai sentral kehidupan, tanpa terjebak dalam rasa tersisih atau inferioritas sebagai orang Kristen.

“Banyak orang Kristen merasa terjebak di tengah proses integrasi dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu, jati diri kita adalah menempatkan Kristus sebagai pusat seluruh realitas hidup. Kita akan dimampukan ketika berserah sepenuhnya kepada Tuhan,” ujarnya.

Veky menekankan bahwa GMKI dan seluruh kadernya dipanggil untuk tetap memegang prinsip tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian, sebagai wujud kesaksian iman yang relevan dan membumi di tengah bangsa dan masyarakat.

Ketua GMKI Cabang Ambon Apriansa Attapary menekankan pentingnya menjaga relasi lintas generasi antara senior dan kader GMKI. Ia menyebut GMKI sebagai rumah bersama yang harus dirawat dengan komunikasi, kasih, dan saling menghargai.

“Natal ini mengingatkan kita bahwa GMKI bukan sekadar ruang jabatan atau kepentingan, melainkan rumah bersama tempat kita bertumbuh dan melayani,” katanya.

Perayaan Natal ditutup dengan sentuhan kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Pelita Kasih sebagai wujud nyata penghayatan iman dan solidaritas sosial. Kebersamaan ini menjadi simbol bahwa Natal tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dihidupi melalui tindakan kasih yang sederhana dan bermakna.

Pos terkait