Selain ingin mendukung proses regenerasi kepengurusan, penolakkan Heygel disebabkan banyaknya persoalan internal IPSI Maluku yang membuatnya tidak berminat sedikitpun menakhodai induk organisasi pencak silat Maluku itu.
“Memang saya banyak mendapat dukungan dari pelatih, pengurus maupun atlet untuk maju bertarung di Musprov IPSI Maluku kali ini, bahkan mereka umumnya meminta saya menjadi Ketum IPSI Maluku yang baru, tetapi saya tidak menanggapinya serius. Jujur, saya sudah tak punya mood lagi di IPSI Maluku,” ungkapnya dalam bincang-bincang dengan Maluku Post di Café Barista, Lorong Lola Ambon, Sabtu (30/5).
Meski begitu, Heygel mengimbau Musprov IPSI Maluku harus menghasilkan langkah-langkah strategis bagi konsolidasi dan soliditas organisasi agar penyusunan program pembinaan yang bermuara pada penciptaan pesilat-pesilat andalan di kemudian hari dapat terwujud.
“Siapa pun yang terpilih dalam Musprov nanti, saya tetap mendukungnya. Bagi pengurus yang baru saya tekankan tetap pererat rasa persaudaraan dalam menyukseskan sinergisitas program IPSI ke depan. Jangan lagi ada perpecahan karena beda kepentingan, kepentingan tidak jelas dan ego oknum-oknum pengurus,” imbaunya.
Heygel menandaskan kisruh di internal organisasi olahraga adalah suatu dinamika yang dinamis yang alamiah.
“Jika pengurus IPSI Maluku yang baru bisa menjawabnya, organisasi ini akan terus bergerak maju dan membawa prestasi bagi olahraga Maluku kelak. Tetapi, bila masih ada kubu-kubuan di internal IPSI, tentu sulit bagi pengurus yang baru untuk menyusun konsep pembinaan terpadu yang dapat melahirkan pesilat-pesilat berprestasi karena meruncingnya perbedaan pendapat,” jelasnya.
Saat ini, jelas Heygel, IPSI Maluku relatif membutuhkan sosok pemimpin berjiwa nasionalis, berkualitas, berkapabilitas, berintegritas dan memahami pencak silat secara utuh. Lebih penting sosok itu pintar cari relasi (sponsorship) dan ditopang kemampuan finansial yang memadai.
“Artinya, kalau mengincar kursi IPSI Maluku hanya untuk cari keuntungan, lebih baik tidak usah karena pasti IPSI Maluku akan hancur. Jadi butuh figur yang tulus dan rela berkorban untuk membesarkan cabor ini,” bebernya.
Heygel meyakini perpecahan antarpengurus tidak akan terjadi jika semua orang mampu memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan baik dan mematuhi aturan baku organisasi sebagaimana mestinya.
“IPSI Maluku akan maju bila pengurusnya memahami tupoksinya masing-masing,” imbuhnya.
Heygel mengajak semua pengurus IPSI untuk lebih mencintai pencak silat, yang saat ini sedang dibutuhkan membangun karakter generasi muda Maluku.
“Jika tradisi pencak silat tetap dilestarikan dengan cara menghidupkan seluruh perguruan,hal itu dapat membentengi generasi muda dari hal-hal yang negatif. Pencak silat perlu dikembangkan mulai dari usia dini sejak TK,SD, SMP dan SMA. Pencak silat harus menjadi kegiatan rutin karena dari kegiatan itu lah anak-anak bisa mengenal budaya asli Indonesia secara lebih luas. Jadi sudah saatnya Dispora Maluku bentuk PPLP pencak silat, sebab di daerah lain, seperti Sulsel, Sulut hingga Maluku Utara sudah terbentuk,” usulnya.
Terpisah pelatih silat Maluku As Latuconsina memaparkan IPSI Maluku masih membutuhkan sosok Heygel Tengens untuk pengembangan cabor ini ke depan.
“Secara pribadi Pak Heygel Tengens merupakan sosok yang sangat peduli dengan olahraga, termasuk pencak silat. Dari semua sosok yang saya kenal, pak Heygel Tengens beda dari yang lain dalam soal komitmen dan pengabdian untuk memajukan pencak silat. Sejak 2010 itu pak Heygel sukses menyelenggarakan event silat, misalnya (alm) Mochsen Alhamid Cup dan Heygel Tengens Cup, mengikutsertakan pesilat-pesilat Maluku di Panasonic Award, Pra PON dan event-event lain. Jadi, IPSI Maluku akan kehilangan sosok berintegritas dan mau berkorban seperti pak Heygel Tengens jika sosok ini tidak diangkat sebagai ketua,” ujar Latuconsina meyakinkan. (09)


