
Laporan Rudi Fofid-Ambon
Malukupost.com – Tahun 2008 di Tenggarong, Kalimantan Timur. Welmy Pariama bersimbah peluh. Dia baru saja turun dari ring. Medali emas tinju kelas 54 kg puteri, sudah pasti digenggamnya. Bonus uang jutaan rupiah bakal membasahi kantongnya.
Beberapa jurnalis TV dan surat kabar mewawancarai nona Kamarian yang waktu itu baru berusia 17 tahun. Apa yang akan dilakukan Welmy juga nanti terima bonus uang dari pemerintah?
“Beta ingin bangun rumah untuk ayah-bunda di kampung,” kata Welmy, waktu itu.
Welmy adalah anak emas tinju. Ikut kejuaraan nasional maupun kejuaraan terbuka, medali emas selalu dibebankan kepadanya. Hal ini membuat dia giat berlatih di bawah si tangan dingin Wiem Gomies dan Agus Titaley.
Alhasil, Welmy bersinar di beragam kejuaraan resmi. Dia pernah menyumpang dua medali emas PON untuk Maluku, satu medali perak PON untuk Maluku, dan dua medali perunggu SEA Games untuk Indonesia. Tentu saja, di balik medali ada bonus uang.
Welmy pun mensyukuri semua capaian itu. Apalagi, Sejak lulus SMA, Welmy sudah jadi pegawai negeri sipil di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku.
Dia pun secara diam-diam menabung dan membangun rumah di kampung halaman. Sebuah rumah manis kini berdiri di tengah pekarangan yang luas. Welmy bahagia sekali bisa mewujudkan rumah yang dijanjikan itu.
Kini, Welmy yang akan memasuki usia 30 tahun, merasa faktor usia sebagai salah satu faktor yang tidak terelakkan. Dia berencana gantung sarung tinju tahun depan. Sebab itu, PON XX Papua 2021 akan menjadi PON terakhir baginya.
Di Markas Pertina Maluku, Karangpanjang Ambon, Welmy kini tekun berlatih sendiri di bawah pengawasan pelatih Agus Titaley. Dari empat petinju Maluku yang lolos ke PON, Welmy satu-satunya perempuan. Tiga lainnya adalah Julius Lumoly, Buce Tibalimeten, dan Novy Sahuleka.
Sebagai petinju perempuan satu-satunya dan kesempatan terakhir, Welmy ingin akhiri kariernya dengan manis di Papua.
“Beta ingin emas,” kata Welmy.
Dia pun berbagi foto rumah cinta di Kamarian yang dibangun dari keringat di atas ring tinju selama kurang-lebih 15 tahun. (Malukupost.com/foto dokpri welmi)


