Cara Mika Ganobal Semai Cinta Anak Pada Mangrove

  • Whatsapp
Mika Ganobal bersama istrinya Dina Somalay membawa anak-anak melintasi sungai air laut yang dikungkung rimba perawan mangrove (foto dokpri mika)

Laporan Rudi Fofid-Tual

Malukupost.com – Koordinator Save Aru Island Mika Ganobal punya cara sendiri menumbuhkan rasa sayang anak-anaknya kepada lingkungan. Ia mulai dari diri sendiri, rumah sendiri, anak-anak sendiri, kampung sendiri, dan pohon dominan, mangrove.

Kepulauan Aru memang tercipta sebagai surga mangrove. Orang Aru menyebutnya pohon wakat. Hamparan pohon wakat sepanjang mata memandang, telah menjadi cincin hijau melingkari nyaris seluruh kepulauan mutiara.

Sejak zaman purba, orang Aru punya relasi intim dengan wakat-wakat. Buahnya diolah jadi makanan, selain buah raja (Cycas rumphii), dan Sagu. Pohon wakat diandalkan juga sebagai rumah alam bagi pemijahan ikan, kepiting bakau, benur udang.

Selain itu, di seluruh areal hutan wakat bisa dijumpai siput yang disebut bia koli, ikan merah wakat, dan berbagai jenis ikan pada saat air pasang. Bahkan, pohon wakat yang sudah mati dan membusuk pun masih menghasilkan sensasi khas.

“Kayu wakat yang membusuk menghasilkan cacing tambelo (Bactronophorus thoracites). Tambelo bisa dimakan mentah sebagai kohu-kohu, atau direbus lalu diolah. Orang habis melahirkan disarankan makan tambelo untuk rangsang air susu ibu,” kata Mika di Dobo, saat dihubungi Media Online Maluku Post dari Tual, Kamis (31/12) malam ini.

Mika menjelaskan, orang Aru sangat sayang pada wakat-wakat, sebab mereka hidup dan makan dari sana. Sebab itu, Mika mengaku sulit menemukan orang Aru menebang wakat-wakat secara sembrono.

“Wakat-wakat yang rusak hanya di Dobo, Pulau wamar, karena perluasan pemukiman warga. Sedangkan di kampung-kampung, sepanjang pengamatan, warga sangat menjaga wakat-wakat karena hidup orang kampung memang di Wakat,” kata Mika.

Rasa sayang kepada pohon wakat, memang tumbuh secara alamiah akibat interaksi yang intim dari generasi ke generasi. Akan tetapi, menurut Mika, rasa sayang itu juga perlu ditumbuhkan secara sadar melalui pendidikan lingkungan. Mika merasa penting, memulai semua itu dari dalam rumah sendiri.

Mika dan istrinya yang berprofesi guru Dina Somalay, punya cara mendidik dan mengajari anak-anak kandungnya mencintai wakat-wakat. Anak-anak Mika dan Dina seluruhnya pemanah. Orang Aru menyebut pemanah, berarti anak lelaki. Mereka adalah Alvin (13), Soji (11), Leisava (7), dan Jafet (3).

Selain mengajak memasuki hutan wakat, Mika mengajak mereka menanam pohon wakat. Pada berbagai kesempatan, Mika memberi pesan sederhana namun meninggalkan kesan kuat dan dalam.

“Waktu kecil, papa sering tangkap kepiting bakau. Jadi, kalau pohon wakat-wakat hilang, maka kepiting juga hilang,” kata Mika selalu kepada anak-anaknya.

Sang pemanah ketiga, Leisava, adalah sebuah keunikan lain. Nama Leisava terinspirasi dari Gerakan Save Aru Island. Saat Mika sedang gencar bergiat memimpin perlawanan terhadap konsorsium PT Menara Group yang hendak kuasai hutan Aru, lahirnya anaknya yang ketiga.

“Beta namakan Leisava. Lei adalah lelaki, sedangkan Sava adalah kependekan Save Aru,” jelas Mika. Nama Leisava diharapnya menjadi memori perlawanan sepanjang umur.

Pada hari-hari liburan sekolah, Mika punya membawa anak-anak ke kampung, menyusuri hutan wakat yang masih asli. Anak-anak pun riang gembira berlibur secara gratis di surga wakat.

Liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, misalnya, Mika membawa anak-anaknya dari Dobo pulang ke kampung halaman di Lorang. Di sana, anak-anak Mika dan anak-anak sebaya dibawa ke habitat wakat yang asri. Mika membuat foto-foto dari pohon wakat. Ia merilis di akun facebook Mika Ganobal.

Foto memperlihatkan anak-anaknya Alvin, Soji, Leisava, Japi, berbaur dengan anak sebaya di Lorang. Isabella, Saviolla, Klewan, Juanda, Kena, Jordan, Yoke, Luis, Wilgo, Viona, Jeslin.
Mika menulis keterangan foto sebagai status facebook.

“Salah satu cara mengajarkan anak menjaga hutan mangrove adalah membawa mereka bermain di sana…,” tulis Mika dengan hastag #EdisiLiburNatal, #HutanMangrove, dan #DesaLorang.

Tulisan itu mendapat respon sejumlah kalangan di berbagai tempat. Mereka antara lain Kepala Bapeda di Sarmi Papua Victor Pekpekay, dosen Fakultas Hukum Universitas Pattimura Revency Vania Rugebregt, Kepala Puskesmas di Dobo Tyarah Cuthe, aktivis Save Aru Simon Kamsy, dan Peneliti dari Eijkman Institute Molucular Biology, Jakarta, Prof. Herawati Supolo-Sudoyo.

“Benar, harus memulai dari usia dini,” tulis Simon Kamsy di kolom komentar.

“Karena anak-anak lebih peka ketika langsung melihat dibandingkan teori,” komentar Tyarah Cuthe

Melihat anak-anak dalam kemewahan mangrove, Prof. Herawati Supolo-Sudoyo yang pernah ke Aru tahun 2016, langsung mengungkapkan rasa tertarik.

“Mau ikut lain kali,” tulisnya.

Mika bercerita, saat membawa anak-anak memasuki hutan wakat dan harus berjalan kaki, mereka harus melintasi lumpur hutan wakat yang hitam dan tebal. Jika sudah sampai di sini, Mika bermaksud menggendong anak-anak yang masih kecil. Mereka justru menolak, dan ngotot berjalan sendiri.

“Memang, ada akar-akar wakat untuk pijakan kaki, tetapi jika salah injak, hilang keseimbangan lalu jatuh. Jadi, selalu saja jatuh-bangun, tetapi mereka jalan terus,” tutur Mika.

Jatuh ke dalam lumpur juga menjadi sebuah sensasi. Anak-anak makin riang saat terjatuh. Suara riuh tawa di dalam hutan itu, boleh jadi membuat hewan liar menyingkir.

“Ada ular, ada buaya, tetapi anak-anak terlalu meriah, jadi mungkin hewan-hewan itu lari sebelum kami tiba,” kata Mika.

Meskipun Mika dan Dina membimbing anak-anak sejak dini untuk mencintai lingkungan, namun keduanya tidak ingin beri beban atau menuntut harus begini-begitu.

“Beta hanya beri pemahaman dengan bahasa anak-anak. Yang jelas, menjaga warisan leluhur adalah wajib. Hutan dan lingkungan harus dijaga,” papar Mika.

Mika berharap, melalui cara apa saja, anak-anaknya ikut bersama masyarakat adat menjaga dan membangun Aru. Jika Aru makin maju, Mika pun yakin stigma Aru sebagai “belakang tanah” tidak akan terdengar lagi selamanya. (Malukupost.com/foto-foto mika ganobal)

Pos terkait