Cerita Pendek: Burung Kecil Terbang Ke Bulan

  • Whatsapp

Penulis Rudi Fofid

Devita mengamuk kembali. Matanya membesar, bulat seperti buah saga kering. Sepasang tanduk serasa tumbuh di kepalanya. Kata-katanya berduri dan berbisa. Ada api pada lidahnya, laksana naga menerjang.

“Mama sudah bilang ribu-ribu kali. Tidak boleh melukis. Tidak boleh. Tidak boleh. Titik! Mengapa masih melukis juga? Mau melawan mama? Mau jadi anak durhaka? Mau mama minta batu badaong buka mulut telan mama? Atau, mau jadi batu seperti Malin Kundang? Hei! Dengar atau tidak? Apakah kau tuli? Apakah telingamu sudah penuh dengan lebah?”

Mulanya, Manu gementar kalau Devita mengamuk. Biasanya dia menangis, minta pertolongan Eric. Akan tetapi lama-kelamaan, amuk Devita sebringas apapun, sudah tidak mempan lagi. Paling-paling, mata Manu berair. Itu pun masih sanggup dia tahan supaya tidak meleleh.

Manu tahu, kalau sampai air mata tumpah di pipi, maka Devita akan mengalihkan topik kemarahan dari lukisan ke persoalan air mata. Devita akan menghardiknya sebagai anak lelaki lemah.

“Menangis seperti banci kecil!” Begitulah kata Devita, tempo hari.

Manu diam saja. Dia tidak melawan ketika Devita mengumpulkan krayon-krayon di lantai, lantas menjebloskannya ke dalam keranjang sampah. Memang, hatinya pedih. Ingin rasanya pergi mengumpulkan krayon-krayon itu dan menyimpannya di dalam boks krayon.

“Sudah kerjakan PR Matematika?” Tanya Devita dengan nada tinggi.

“Belum, mama!” Manu gugup tetapi dia usahakan supaya tidak gementar seperti yang sudah-sudah.

“Nah, ini. Makanya berhenti melukis. Stop. Kalau sampai melukis lagi melukis, mama hantam jari-jari pakai pisau,” bentak Devita.

Butir air mata Manu nyaris meleleh mendengar ancaman itu. Cemas dilihat Devita, cepat-cepat Manu menengadah ke langit-langit supaya air mata tidak membanjir seperti tumpahan cat.

Devita masuk ke kamar Manu, lalu keluar dengan ransel hitam milik Manu. Ransel itu dibanting di lantai. Sambil berjongkok, satu demi satu isi ransel dikeluarkan.

“Mana buku PR matematika, ha?” Bentaknya dengan suara gemuruh.

“Di dalam tas, mama!” Jawab Manu.

Devita memeriksa lagi. Ia menemukan buku gambar. Satu demi satu halaman dibolak-balik. Devita geleng-geleng kepala melihat buku itu penuh lukisan krayon. Sambil menggigit bibir, ia mencabik halaman demi halaman penuh lukisan itu. Sobekan-sobekan itu diremas-remas menjadi bola-bola sembarang, lalu dilempar ke dalam keranjang sampah.

“Manuuu! Mau jadi apa, Manu? Masih kecil kepala batu model begini, jika besar hanya bisa jadi gembel, Manu!” Teriak Devita.

Manu menatap wajah Devita. Ingin sekali dia punya selembar kanvas, lalu melukis wajah Devita seperti wajah Nenek Raga Runcing. Memang seperti itulah imajinasinya saat memandang raut wajah penuh amarah itu.
“Sekarang, berdiri di sini!” Ucap Devita sambil menunjuk satu petak ubin di lantai. Jarinya tetap ditahan ke arah ubin itu, sampai Manu mengambil posisi.

“Angkat dua jari seperti ini!” Sambil berkata begitu, Devita memberi contoh dengan tangannya sendiri. Manu menurut.

“Ikut kata-kata mama!” Tegas Devita sambil menghela nafas sesaat.

“Saya bersumpah!” Ucap Devita.

“Saya bersumpah!” Manu mengulang kata-kata Devita.

“Stop!” Teriak Eric dari ruang tengah, lalu datang di hadapan Devita dan Manu.

Eric terperanjat melihat Manu masih mengangkat tangan dengan dua jari tegak bagaikan pejabat ucap sumpah jabatan. Devita sudah jadi nenek sihir, sedangkan Manu sudah jadi patung bernyawa.

“Cukup, Devita. Tidak usah sekasar itu pada Manu. Bicaralah baik-baik. Dia suka melukis, jangan dilaranglah,” kata Eric sambil melangkah, menurunkan tangan Manu.

Mendapat pembelaan begitu, Manu langsung memeluk Eric. Dibenamkan wajahnya di perut Eric lalu memeluk dengan dua tangan yang berjumpa di punggung sang pahlawan.

“Krayon, papa. Buku gambar, papa!” Ucap Manu dengan suara agak parau.

“Stop! Tidak ada krayon, tidak ada buku gambar! Stop!” Bentak Devita.

“Ya sudah, Devita. Melukis atau tidak melukis, itu bisa dibicarakan baik-baik. Kau selalu mengamuk seakan anak kita sudah rampok bank atau korupsi dana APBD saja!” Ujar Manu kesal.

Bukan Devita namanya kalau langsung tutup mulut. Dia justru makin menggebu mendengar kata-kata Eric.

“Semua ini gara-gara kau. Kau yang bawa dia ke studio lukis itu kan? Perkenalkan dia dengan seniman-seniman gila itu, kan? Lihat, hasilnya apa. Manu sudah gila. Gila krayon. Gila buku gambar. Gila melukis! Gila Tessar!” Semprot Devita untuk ayah dan anak sekaligus.

“Semua jadi kacau. Sudah tiga hari, Manu tidak bisa hafal warna-warni. Blue dibilang merah. Grey dibilang hijau. Stupid! Ini semua gara-gara racun krayon,” omel Devita sambil mengumpulkan beberapa pensil krayon di dalam keranjang, menghancurkannya dengan tangan lalu melemparnya ke arah Eric dan Manu.

Eric tidak mau berpanjang lebar. Digendongnya Manu lalu dibawa ke luar rumah, di pekarangan depan.

“Nanti papa belikan buku gambar yang baru, dan krayon yang baru,” bujuk Eric, tanpa peduli kata-kata yang sedang meluncur bagai setumpuk cabe rawit dari mulut Devita di dalam sana.

Eric baru kembali ke dalam setelah Manu tertidur dengan sisa sengguk di pelukannya. Dia rebahkan Manu di tempat tidur.

Begitu Eric tiba di ruang tengah, Devita sudah menunggu. Maka perdebatan kembali terjadi. Ini adalah perdebatan kesekian kali dalam tiga bulan terakhir. Tidak ada kemajuan dalam perdebatan. Mereka hanya mengulang kata-kata yang sama, seperti yang sudah-sudah.

“Bagaimana kalau nilainya anjlok? Bagaimana kalau dia tidak dapat rangking? Bagaimana kalau pelajaran Bahasa Inggrisnya tertinggal dari kawan-kawan lain? Guru-guru pasti bilang, kita adalah orang tua yang tidak becus urus anak,” semprot Devita.

Kali ini, Eric tidak bersemangat meladeni Devita. Percuma saja mengulang hal yang sudah-sudah.

“Baru tiga bulan, Manu duduk di kelas satu. Dia juga belum genap tujuh tahun. Tidak usah dipaksakan. Biarlah dia tumbuh wajar saja. Dia suka melukis, sangat antusias. Jangan bunuh bakatnya. Siapa tahu, justru dengan melukis, kelak dia bisa menjadi sesuatu yang berarti!” Ujar Eric dengan suara pelan.

“Eh Eric, dengar beta bilang. Tunjukkan di mana di Kota Ambon ini, ada seorang pelukis yang kerjanya setiap hari melukis, lalu lukisannya terjual berjuta-juta, sampai bisa beli mobil, bisa bangun rumah megah? Tunjukkan pelukis siapa, tinggal di mana, harga lukisannya berapa! Tunjukkan, Eric, maka akan beta relakan Manu jadi pelukis!” Desak Devita.

“Devita! Hidup ini tidak melulu tentang harta, harta, harta, lalu mati. Hidup ini juga tentang nilai-nilai kehidupan, yang tidak bisa diukur dengan harta sebanyak apapun,” balas Eric.

“Jadi kalau lapar, itu makan nilai kehidupan apa? Naik pesawat itu pakai nilai kehidupan apa? Pakai duit, Eric! Bukan pakai nilai. Kita tidak bisa duduk-duduk saja lalu setiap bulan ada orang akan tranfer duit. Kita harus kerja. Untuk kerja, kita butuh kualitas. Untuk kualitas, harus menonjol di sekolah secara akademis. Nah, dari kecil, Manu sudah harus disiapkan menghadapi masa depan. Belajar, belajar, dan belajar. Kalau tidak begitu, hancur sudah masa depan anak ini! Dan lebih sedih lagi, ayahnya adalah perusak masa depan anaknya sendiri,” hardik Devita.

Eric sudah tidak ingin menanggapi lagi, sebab semua yang diucapkan, sudah diulang-ulang. Eric justru teringat peristiwa tiga bulan lalu di Paparisa Seni Lorong Sagu.

Suara biola terdengar menyayat ketika Eric dan Manu tiba di Lorong Sagu. Terkesan, seseorang mengiris dawai penuh rasa. Instrumentalia tunggal. Lagu La Paloma mengalir bagai sungai kecil nan tenang.

Eric membimbing Manu memasuki pekarangan paparisa seni. Pemain biola itu berhenti menggesek biola. Sambil membungkuk mirip orang Jepang, ia melepas senyum.

“Sore, bung. Ada Tessar?” Tanya Eric.

“Langsung saja, bung. Masuk lalu naik ke lantai atas. Tessar sendiri melukis di sana,” jawab si pemain biola.
Benar, Tessar sedang khusuk melukis. Dia nyaris tidak menyadari kehadiran Eric dan Manu. Begitulah Tessar. Kalau sudah di depan kanvas, dia bagai sendirian melukis bulan dan bintang di langit. Segala yang terjadi di sekelilingnya, bagai tidak ada.

“Manu mau menggambar kayak om pelukis, papa,” ujar Manu.

Tessar terkejut. Dia berpaling. Diletakkannya kuas di atas wadah cat lalu membersihkan tangannya dengan kain.
“Persis baru selesai sekarang. Tunggu beberapa saat, supaya benar-benar kering,” kata Tessar sambil menyorong kursi ke hadapan kanvas untuk Eric dan Manu.

Mata Manu mengembara, bergerak ke seluk-beluk lukisan. Dia tak bisa menyembunyikan rasa suka yang besar.

“Itu Manu, papa!” Ujarnya senang.

Sejak melihat potret dirinya dalam lukisan Tessar, Manu jatuh cinta. Dia beberapa kali merengek datang ke Paparisa Seni Lorong Sagu. Dia pun minta dibelikan buku gambar dan krayon. Ada dua kali, pelukis Tessar menyediakan waktu, membimbing dengan dasar-dasar lukisan untuk anak-anak pemula.

“Cepat sekali dia belajar. Sapuan krayonnya penuh perasaan. Sekali menggores bentuk, dia tidak bikin koreksi. Anatominya juga mendekati proporsional,” kata Tessar kepada Eric, sambil memperlihatkan lukisan yang dikerjakan Manu.

“Buku gambar, papa. Krayon, papa!” Suara igau Manu di dalam kamar mengejutkan Eric. Cepat-cepat dia menyerbu ke kamar.

“Manu panas sekali, Devita,” kata Eric setelah kembali ke ruang tengah.

Devita tidak peduli. Tatapannya lurus ke layar televisi yang menayangkan sinetron bersimbah air mata.

“Panasnya tinggi sekali, Devita!” Ujar Eric dengan suara pelan.

“Kalau panas, ya bawa ke dokter. Apa susahnya? Kau dan anakmu itu kompak. Pandai membuat drama,” jawab Devita ketus.

“Krayon, papa. Buku gambar, papa. Ampun, mama!” Teriak Manu dari dalam sana.

“Ini bukan drama, bukan sinetron kesukaanmu. Ini Manu, anak kita. Dia panas tinggi, Devita!” Kali ini suara Eric harus melawan volume sinetron di layar TV.

“Kau bawalah ke dokter, kalau memang dia panas. Bukankah kau juga sudah biasa bawa dia ke studio lukisan. Apa bedanya bawa ke dokter dan studio?” Ucap Devita acuh tak acuh.

Eric menyerah. Dia baru pernah menyaksikan Devita keras kepala seperti ini. Ingin sekali dia berdebat sampai luluh hati Devita, tetapi tidak ada waktu. Manu terus berteriak di dalam kamar.

Beruntung, dari rumah di Paradijs ke rumah sakit hanya 200 meter. Eric menggendong Manu, menumpang becak langsung ke UGD. Eric senang melihat Dokter Norman berada di situ. Dia kenal ahli penyakit anak-anak yang populer di Ambon itu.

“Nampaknya dia dalam tekanan berat. Mengigau tidak keruan. Saya beri penurun panas saja, dan biarlah dia di sini. Kita pantau perkembangannya,” kata Dokter Norman, lalu meminta suster mengantar Manu ke ruang rawat inap anak-anak.

Sambil mengamati Manu yang mulai tidur nyenyak, Eric mencoba menghubungi Devita di rumah. Beberapa kali menghubungi, telepon tidak diangkat. Mengirim pesan via whatsup pun tidak dibaca. Saat Eric mengirim foto Manu yang terbaring di ranjang, barulah kiriman itu dibaca, tetapi tidak ada respon.

“Bagaimana kalau nilainya anjlok? Bagaimana kalau dia tidak dapat rangking? Bagaimana kalau pelajaran Bahasa Inggrisnya tertinggal dari kawan-kawan lain? Guru-guru pasti bilang , kita adalah orang tua yang tidak becus urus anak!”

Kata-kata Devita itu menggema di rongga telinga Eric. Bagi Eric, istrinya punya kecemasan berlebihan. Justru Eric percaya, Manu punya kecerdasan memadai, dan tidak perlu cemaskan kemampuannya. Toh, Manu masih kecil, dan tidak perlu diberi beban pelajaran yang berat.

Eric setuju, Matematika dan Bahasa Inggris sangat penting. Akan tetapi, dia keberatan Matematika dan Bahasa Inggris dijadikan hantu, Tete Momo, bagi anak-anak seusia Manu.

“Apakah kalau Bahasa Inggrisnya dapat nilai enam, matematika dapat nilai enam, lantas akan terjadi kiamat?” Ujar Eric dengan nada jengkel, ketika Devita meminta Eric mencari tempat kursus Bahasa Inggris dan Matematika terbaik di Ambon untuk Manu.

“Mengapa tidak kursus piano, gitar, biola, atau berenang?” Tantang Eric saat itu.

Suster datang mengukur suhu tubuh Manu. Ia tersenyum mengamati termometer.

“Ini sudah normal,” kata suster sambil memastikan dengan jemarinya pada kening dan leher Manu.
Begitu suster pergi, Manu terbangun dan langsung duduk. Eric senang.

“Krayon dan buku gambar, papa!” Pinta Manu dengan suara pelan.

“Cepat sembuh, lalu kita pulang. Besok pagi, papa beli krayon dan buku gambar yah?” Bujuk Eric.

“Jangan besok, papa. Manu mau krayon sekarang. Manu mau melukis sekarang,” rengek Manu.

Meskipun Eric sudah bujuk-rayu agar bersabar sampai besok, Manu tidak mau kompromi. Dia ngotot, harus ada buku gambar dan krayon, saat itu juga. Eric menyerah.

“Oke. Papa beli buku gambar dan krayon sekarang. Berbaring saja, dan papa pergi sekarang!”

Di luar rumah sakit, baru Eric sadarinya, jam dua malam, tidak gampang mendapatkan buku gambar, apalagi krayon. Eric ingat, di Paparisa Seni Lorong Sagu, Tessar dkk biasanya melukis atau menulis malam-malam.
Tessar kaget melihat Eric muncul jam begitu, tetapi lebih kaget lagi mendengar cerita Manu di rumah sakit minta krayon dan buku gambar.

“Jangan-jangan, krayon dan buku gambar lebih manjur daripada obat dokter,” kata Tessar sambil mengeluarkan satu set krayon dan sebuah buku gambar dari dalam lemari.

Manu ternyata tidak tidur. Dia sudah duduk menunggu sambil bersandar bantal. Manu mengambil krayon dan buku gambar, lalu memeluknya di dada. Ia membungkukkan tubuhnya seakan melindungi benda kesayangan itu.

“Melukis? Atau tidur dulu, nanti besok saja baru melukis,” rayu Eric.

Manu tidak menjawab. Direbahkan tubuhnya bersandar pada bantal, sambil tetap memeluk buku gambar dan kotak pensil krayon.

Eric cuma bisa tersenyum dalam kantuk yang tidak tertahan. Dia sandarkan kepala setengah telungkup di tepi ranjang, sambil tangannya menyapu kepala Manu.

“Papa, kalau mama lihat krayon dan buku gambar ini, apakah mama marah lagi?” Tanya Manu tiba-tiba.

“Tentu tidak. Mama tidak akan marah Manu lagi,” jawab Eric sambil terus menyapu kepala Manu.

“Manu mau bicara dengan mama, sekarang,” pinta Manu.

Eric mengangkat kepala, membetulkan posisi duduk. Dia pesimis, tetapi tetap menekan tombol telepon.

“Ada sandiwara apa lagi, Eric. Telepon jam begini, seperti ada yang emergensi!” Kata Devita dengan nada tinggi.
“Devita, jangan marah-marah. Ini Manu sudah tidak panas lagi. Dia mau bicara sekarang,” ujar Eric sambil menyerahkan pesawat telepon kepada Manu.

“Mama?” Ujar Manu dengan suara pelan. Ada sedikit cemas di nada suaranya.

“Mama? Ulang Manu lagi.

“Manu tidak sakit lagi. Manu mau melukis di rumah sakit. Boleh kan, mama?” Pinta Manu.

Eric tidak tahu, apa yang dikatakan Devita kepada Manu. Dia hanya melihat roman muka Manu berubah warna. Bagai matahari terik, mendadak dikungkung awan hitam. Mendung membungkus. Sebentar lagi akan turun hujan.

Sambil mengigit bibir, Manu mengambil buku gambar dan krayon. Dipeluknya rapat-rapat di dada. Dia bahkan membentuk posisi melingkar, persis janin dalam kandungan.

Devita masih berbicara dari sana, tetapi Manu sudah tidak ingin dengar apa-apa. Pesawat telepon dilepaskan begitu. Jadilah Devita bicara dengan kasur. Eric mengambil pesawat telepon. Dia kaget karena Devita masih terus bicara bagai seorang rapper yang pleces.

“Kalau terus melukis, pasti ketinggalan Bahasa Inggris….”

Kini giliran Eric melepas gawai itu di atas kasur. Dia biarkan Devita mengoceh sendiri sampai puas. Matanya lebih fokus ke Manu yang nampaknya mulai tertidur. Maka Eric pun memilih duduk di kursi sambil telungkup di tempat tidur.

Sentuhan jemari mulus di lengannya membuat Eric terbangun. Dia menatap sekeliling. Manu masih terlelap. Suster membagikan senyum matahari terbit.

“Sarapan untuk Manu. Ada bubur, telur, dan ada susu,” kata suster, lalu pergi.

Eric baru sadar, krayon-krayon pemberian pelukis Tessar, tadi malam, kini berserakan di mana-mana. Beberapa batang jatuh ke lantai. Beberapa batang lagi patah meninggalkan bekas coreng pada seprei dan sarung bantal putih.

Mata Eric tertuju pada buku gambar yang sedang terbuka. Ada lukisan yang sudah jadi. Sebelah tangan Manu menindih buku itu. Krayon hitam masih ada dalam jepitan jempol dan telunjuk. Maka dengan sangat hati-hati, Eric menarik buku gambar agar tidak membangunkan putranya.

Sudah biasa Eric memberi komentar teknis, jika Manu menyodorkan lukisan terbaru. Kadangkala, jika Manu minta komentar dalam keadaan Eric sangat sibuk, maka dia meniru Pak Tino Sidin dengan menyebut satu kata saja. Bagus! Kalau sudah begitu, Manu akan senang.

Kali ini, Eric tidak fokus kepada hal teknis. Dia justru terkesan dengan objek lukisan. Sederhana tetapi penuh imajinasi. Saking senang, Eric mengambil gawai, membuat foto lukisan itu. Dia kirim ke Devita di rumah, dengan pesan pendek. “Manu melukis sebelum tidur. Dia sudah sembuh. Kita tunggu dokter lalu sudah boleh pulang,” tulis Eric.

Eric juga mengirim foto lukisan Manu kepada Tessar. Dia menulis pesan pendek. “Kau benar, Tessar. Dengan melukis, Manu sudah sembuh!”

Manu masih tidur dan Eric masih menikmati lukisan Manu. Pesan balasan datang dari Devita.
“Like father like son. Buah jatuh tak jauh dari pohon. Pandai main drama!” Begitulah balasan Devita, dengan simbol emotion dua tanduk di kepala dan jempol terbalik. Eric cuma tersenyum, pahit sekali.

Untung ada pesan balasan dari Tessar. Kali ini, senyum murni menghapus senyum pahit tadi.

“Sebuah lukisan yang sangat puisi. Manu melukis puisi! Beta suka, Bung!” Tulis Tessar.
“Terima kasih untuk bantuan darurat, tadi malam,” balas Eric.

Dia senang karena Tessar sudah merespon lagi dengan teks yang lebih panjang.

“LUKISAN PUISI”

malam sangat malam
gulita sekujur jiwa
bintang sudah cair
langit berbaring
sendiri

purnama oranye
menjelma tembaga
luntur pucat
kecewa
sendiri

seekor burung kecil
terbang pergi
berlindung diri
di bulan sunyi
sendiri

Eric membaca puisi itu, sekali lagi. Belum puas, diulang sekali lagi. Lukisan Manu dia bandingkan dengan teks yang ditulis Tessar. Dia merasa terbentuk satu persepsi, sebuah lukisan adalah sebuah puisi. Lukisan dibuat pakai bahan cat, krayon, pensil, sedangkan puisi pakai huruf, kata, frasa, kalimat.

Eric juga mencermati lukisan Manu. Manu hanya andalkan dua krayon ternyata. Hitam dan oranye. Kertas gambar dilamuri krayon hitam sebagai latar belakang. Ada bulatan sempurna di tengah. Manu menggunakan warna oranye untuk melukis bulan. Di tengah purnama oranye itu, ada objek kecil, seperti angka tiga terbalik dengan punggung di atas. Seekor burung kecil, rupanya.

Tessar menelepon. Eric melangkah ke luar. Dari pekarangan rumah sakit dia berbicara dengan Tessar.

“Manu sudah tidak panas lagi. Dia melukis justru saat beta ketiduran,” kata Eric sambil melihat lukisan Manu  di tangannya.

“Lukisan Manu sangat puitis. Sekali melihat lukisannya, beta langsung merasa ada kata-kata yang harus beta tulis sebagai puisi. Dia melukis satu saja atau ada lukisan lain?” Tanya Tessar.

Eric membolak-balik semua lembar buku gambar. Benar, hanya ada satu lukisan. Akan tetapi di balik lukisannya, ada tulisan Manu. “Burung Kecil Terbang Ke Bulan”

“Tessar, rupanya Manu sudah beri judul lukisannya. Dia tulis di belakang lukisan. Judulnya, Burung Kecil Terbang Ke Bulan,” kata Eric.

Tessar masih bicara dan Eric masih mau mendengar lagi obrolan pagi yang puitis ini, tetapi suster berdiri di pintu, memberi isyarat dengan gerakan tangan agar Eric kembali ke dalam.

“Tessar, suster sudah panggil beta. Manu sudah bangun rupanya. Dia harus makan pagi,” ujar Eric lalu dengan langkah panjang dia kembali ke dalam.

Dokter Norman ada di sana dengan stateskop di telinga. Ada juga tiga suster. Satu di antaranya membetulkan posisi tidur Manu. Tangan Manu dilipat di dada.

Wajah-wajah mereka sangat serius ketika Eric datang berdiri di samping dokter.  Dokter belum sempat menjelaskan apa-apa, Eric sudah meraba tubuh Manu nan tertidur kaku.

“Satu sampai dua jam lalu. Dia hembuskan nafas terakhir, dalam tidurnya,” kata Dokter Norman. Ia lalu memberi penjelasan medis kepada Eric tentang kemungkinan-kemungkinan penyebab kematian yang lazim seperti ini.
Eric ingin berteriak menghancurkan dinding-dinding rumah sakit dengan gelegar suara guntur. Dia ingin memanggil Manu sekeras-kerasnya. Dia ingin keluar menatap langit pagi, meninju biru langit sampai berdarah. Akan tetapi semua itu tidak dia lakukan.

Meskipun begitu, dengan hidung dan mata berair, Eric menelepon Devita. Sudah tiga kali panggilan, tak sekalipun telepon direspon. Jam tujuh pagi, mestinya Devita sudah bangun.

“Sandiwara pagi ini, judulnya apa?” Itulah pesan whatsup yang dikirim Devita ke telepon genggam Eric.
“Manu mati!”

Eric menulis begitu. Ketika hendak tekan tombol kirim, Eric batal melakukannya. Dia menghapus pesan itu. Sebagai gantinya, Eric mengambil buku gambar Manu. Dia memotret tulisan di balik lukisan, lalu dikirimnya sebagai balasan kepada Devita.

“Burung Kecil Terbang Ke Bulan”

Tual, 26 Desember 2020

Pos terkait