Derai Cemara Di Otto Kuyk Memorial Hospital

  • Whatsapp

Cerpen Rudi Fofid

Dengan langkah anggun, Profesor Doktor Martentji Salahutu memasuki Gedung Auditorium Universitas Arafuru. Kehadirannya di kampus itu bukan dalam kapasitas guru besar. Dia diundang sebagai orang tua salah satu wisudawan.

Berkali sudah, Martentji menghadiri acara wisuda di kampus tempat dirinya mengajar, Universitas Tijahahu. Dia selalu duduk di jajaran senat universitas. Wisuda di Universitas Tijahahu  adalah momen lumrah tetapi wisuda di Universitas Arafuru terasa begitu istimewa.

Dari tempat duduk di antara sesama orang tua wisudawan, bergetarlah jiwanya seperti kecamuk angin di muka air laut. Ada serangkaian anak ombak tercipta saat ia  mendengar sebuah nama  disebut.

“Camara Salahutu!”

Tanpa sadar, butir air mata bergulir manakala dilihatnya Camara berdiri melangkah ke depan. Perjuangan pahit dan berat dalam tahun-tahun panjang mengasuh sang anak, akhirnya berbuah manis.

“Dokter Camara Salahutu,” ucap Martentji dalam hati.

Martentji masih ingat saat-saat dilematis itu datang, justru ketika dia masih pucuk rebung bambu. Pesta brutal Hari Valentine di Hotel Manis adalah sebuah hari yang membelokkan arah hidup. Di saat itulah, Don Sirimau memberi segelas wiski.

Semula, Martentji ingin tolak karena memang belum pernah.  Akan tetapi begitu dia lihat beberapa rekan perempuan menelan dengan enteng, Martentji pun ikut saja. Dari satu gelas rasa pahit, disusul gelas berikut, lagi dan lagi. Pahit itu malah enak.

Pagi tiba dengan hembus udara asam  di Hotel Manis. Martentji menangis dengan air mata kemarau.  Dia temukan dirinya telungkup di atas tubuh Don. Sama-sama telanjang dengan bintang-bintang, kunang-kunang dan kalajengking berputar di sekujur kepala. Ditamparnya pipi Don berkali-kali sampai kekasihnya bangun.

“Ale seret beta ke sini. Ale buka baju beta.  Kita sama terbawa suasana, jadi nikmati saja,” kata Don lalu kembali melanjutkan tidur sambil sebelah tangan melingkar di pinggul Martentji.

“Kalau hamil, bagaimana?” Ujar Martentji di kantin sekolah, satu hari setelah pesta itu.

“Tak mungkinlah. Cuma sekali, tentu tidak akan hamil,” sanggah Don.

“Dari buku yang beta baca, biarpun sekali saja tetapi kalau pas puncak masa subur, ya pasti hamil,” kata Martentji.

“Kalau hamil, ya aborsi. Apa susahnya?” Ucap Don enteng.

Sudah dua bulan, Martentji tidak datang bulan. Dia  beli alat tes kehamilan dan menguji urine di kamar mandi. Hasilnya positif. Martentji merasa bangga, dirinya sungguh perempuan.  Sanggup hamil.  Saat bersamaan, dia sadari pelajar hamil adalah malapetaka, aib satu kota.

“Beta hamil, Don!” Kata Martentji saat berbicara dengan Don di perpustakaan.

“Tak mungkin,” sanggah Don.

“Positif, Don. Beta sudah uji tiga hari berturut-turut. Hasilnya tetap sama. Positif,” balas Martentji.

“Beta tahu orang yang bisa membantu aborsi,” kata Don sambil melanjutkan baca.

“Membunuh anak kita? Tentu tidak!” Martentji menangis.  Dia menutup wajah dengan novel Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa karya Y.B. Mangunwijaya.

“Beta jadi ayah dan ale jadi ibu dengan seragam putih abu-abu? Pengantin remaja kelas dua SMA?” Don membanting buku Lelaki Tua dan Laut karangan Ernest Hemingway ke lantai perpustakaan, lalu pergi meninggalkan Martentji sendiri terbenam di sudut baca.

Martentji ingat betul dalam dua pekan, setelah itu, dia terus berdebat dengan Don. Don bersikukuh menempuh cara aborsi, sedangkan Martentji ngotot menikah diam-diam, lantas melanjutkan sekolah di kota lain.

“Beta 16 tahun, ale 16 tahun. Mempelai macam apa itu? Mempelai lendir lintah. Pokoknya aborsi. Titik,” kata Don dengan suara tinggi.

Martentji menangis lagi. Kali ini, dia bangkit berdiri meninggalkan Don seorang diri di bangku Taman Pattimura. Sia-sia dia meyakinkan Don. Ada rasa penyesalan yang dalam. Mengapa harus kenal Don, mengapa mencintai lelaki paling tampan di sekolah itu, dan mengapa hadir di pesta Valentine yang begitu brengsek?

Masih segar dalam memori, ketika kabar kehamilan  disampaikan kepada mama dan papa, serentak rumah dilanda hari kiamat. Martentji berada pada posisi orang paling berdosa di muka bumi, yang harus masuk neraka saat itu juga.

“Hanya ada dua pilihan. Kawin dengan kawan lelaki sialan itu, atau aborsi,” kata papa, setelah episode jambak rambut, tampar pipi, tinju payudara, tendang perut, dan seribu maki.

Sungguh sakit mengenang kembali saat-saat itu. Martentji tak bisa lupa bagaimana Kakak Bucek ikut-ikutan membantu papa melampiaskan kemarahan.

“Lonte kecil. Ale bikin malu keluarga. Nama baik kita, harga diri kita, kehormatan kita!” Teriak Bucek sambil tinjunya mendarat persis di bola mata Martentji.

“Aborsi!” Cetus Bucek!

Berlari dengan  cucuran air mata darah, Martentji mengharap pertolongan terakhir dari Mama. Direbahkan tubuhnya di kaki sang bunda.

“Ampun beta, mama e!”

Di luar harapan Martentji, dagunya ditangkap mama dengan sangat cepat. Kini wajah mama bagai serigala,   siap  lahap anak domba  sesat. Sekumpulan air ludah langsung dicurahkan mama ke wajahnya. Lengkap sudah air mata, darah, dan ludah.

“Bunuh beta, mama! Bunuh beta, papa! Bunuh beta, Kakak Bucek!” Teriak Martentji sekeras-kerasnya, tetapi hanya di dalam hati.

“Camara Salahutu!”

Martentji tersentak mendengar gemuruh tepuk tangan  membahana di langit-langit auditorium. Air mata yang sudah tumpah ruah sejak tadi, kini membanjir lagi sebagai air mata gelombang kedua.  Nama wisudawan terbaik  baru saja diumumkan.

“Sejarah berulang. Dulu, saat wisuda di Universitas Tijahahu, beta wisudawan terbaik. Kini giliran anak kandungku,” pikir Martentji, sambil mengenang momen paling indah dalam hidupnya, suatu hari di Rumah Sakit Otto Kuyk Memorial Hospital, Tantui.

Senja sudah turun ketika Martentji berjalan perlahan di halaman rumah sakit. Dokter van Dijck memang memberi saran agar terus berjalan karena baru pembukaan dua.

Martentji merasa damai, berada di rumah sakit yang dikelola biarawati-biarawati Katolik dari Tarekat Dina Santo Yosef (DSY). Selain halaman yang asri, senyum bertebaran di mana-mana. Rumah sakit paling bersih dan ramah di kota ini.

Dari artikel yang dia baca di Perpustakaan Rumphius, Martentji tahu, Otto Kuyk adalah nama wartawan perang dari surat kabar de Telegraaf di Belanda. Tulisan Otto Kuyk tentang perjuangan suster-suster melawan penyakit malaria pada sebuah klinik sederhana di muara Sungai Wairuhu yang penuh sagu dan mangrove, telah mendorong pembaca de Telegraaf mengumpulkan bantuan dana untuk pembangunan gedung yang lebih mentereng.

Sambil mereka-reka wajah wartawan Otto Kuyk yang tidak pernah dilihatnya, tiba-tiba sebuah kejutan kecil menghentikan langkahnya. Buah cemara kering gugur menimpa kepalanya, justru ketika otot-otot perutnya mengalami sedikit kontraksi.

Dengan menahan sakit, Martentji turun memungut buah cemara tadi. Sambil tersenyum, digenggamnya buah cemara kering itu lalu berjalan lagi perlahan-lahan.

Biarawati, perawat, dan dokter yang membantu persalinan tertawa renyah. Martentji juga. Selama proses persalinan sampai bayinya lahir, Martentji tetap menggenggam tangan kanannya. Ketika dokter menjabat tangannya, barulah buah cemara itu terkuak.

“Berikan namanya, Camara. Cemara itu pohon yang hebat. Tumbuh di bibir pantai sampai ke gunung tinggi, dari daerah tropis sampai ke daerah empat musim,” kata Dokter van Dijck.

Martentji tersenyum melihat Rektor Universitas Arafuru mengalungkan emblem wisudawan terbaik kepada Camara Salahutu. Dengan bidikan long shot, Martentji mengabadikan adegan itu dari tempat duduknya.

Sejenak saja, foto itu sudah dikirimkan ke beberapa kawan lama, semasa SMA, dulu. Yohana Lao di Surabaya, Feisal Alkatiri di Ternate, Ani Tjoanda di Jakarta.

“Anak kita menjadi wisudawan terbaik,” tulis Martentji di bawah foto itu.

Martentji memang merasa wajib mengirim kabar itu kepada kawan-kawan dengan istilah “anak kita”. Ya, mereka adalah sahabat-sahabat luhur yang tidak boleh terhapus dalam riwayat hidupnya.

Kawan-kawan itulah yang mendorongnya dengan setengah paksa agar Martentji kuliah, menjadi sarjana, magister, hingga doktor. Merekalah yang mengupayakan beasiswa, bahkan juga kerap memberi donasi pribadi, tanpa diminta sekalipun.

Mereka adalah sahabat masa lalu, tetapi bukan kenangan yang tertinggal. Mereka adalah kenangan yang terus terbawa sampai ke masa depan.

“Lupakan saja bajingan itu. Don ingin aborsi, artinya, membunuh anak sendiri. Apakah ale mau hidup bersama seorang pembunuh? Lebih baik, ale jaga buah rahimmu sampai lahir. Kami semua akan menjadi ayah dan ibu bagi anakmu, kelak. Anakmu adalah anak kita,” kata Feisal Alkatiri di kantin sekolah, waktu itu.

“Ya, nasi sudah jadi bubur, tetapi bubur itu jangan ditumpahkan. Ale melahirkan, lalu kembalilah ke sekolah,” Yohana Lao menimpali.

“Bilang pada orang tuamu, bahwa ale tidak mau aborsi, tetapi juga tidak mau kawin dengan Don. Gampang kan?” Usul Any.

Semula orang tua Martentji tetap ngotot pada dua pilihan, yakni kawin atau aborsi. Akan tetapi dengan berpegang pada usulan kawan-kawan, Martentji memberanikan diri menyatakan sikap di hadapan orang tua, dan ajaib, mereka yang semula keras, jadi melunak.

“Tidak menikah, tidak aborsi. Biarlah beta lahirkan anak sebagai anak tengah jalan. Ini sungguh hina, tetapi lebih baik begitu, dari pada membunuh anak kandung sendiri,” cetus Martentji.

“Ale sudah gosok tahi di dahi papa dan mama, tetapi baiklah, jangan bikin dosa baru,” ujar papa dengan nada rendah.

Martentji merasa waktu berputar sangat cepat, bahkan terlalu cepat. Kembali ke SMA dengan status pelajar beranak satu, adalah hari-hari berat tetapi kemudian menjadi manis. Kuliah sampai jadi sarjana di Universitas Tijahahu, adalah sebuah episode lain yang juga begitu berharga.

Satu-satunya bagian paling berat dalam hidup, adalah menjelaskan siapa ayahanda Camara, ketika sang putra mulai bertanya-tanya. Harus jujur atau berbohong, Martentji berada pada pilihan sangat sulit.

“Ayahmu Bara Lucipara meninggal dalam tenggelamnya kapal. Sampai Tim SAR menghentikan pencaharian, nasib ayahmu dan puluhan penumpang lain tidak diketahui, dan dinyatakan hilang,” kata Martentji kepada Camara.

Camara percaya, ayahnya bernama Bara Lucipara, kendati selembar foto sang ayah tidak pernah ada dalam album keluarga.

“Semuanya tenggelam di Perairan Masalembo, karena ayahmu membawa semua koleksi pribadi dalam koper besar. Mama juga kesulitan menghubungi keluarga papamu, sebab papamu itu memang anak yatim piatu dan hidup di panti asuhan,” terang Martentji.

Martentji berjanji dalam hati, kelak pada suatu saat, dia akan berterus terang kepada Camara, jika benar-benar Camara sudah siap. Dia merasa kebohongan ini biarlah sementara saja, untuk menyelamatkan keadaan. Martentji bersyukur, mama, papa, dan Kakak Bucek juga demi sebuah kehormatan keluarga, mendukung cerita karangannya.

“Mama!”

Martentji terkejut. Camara sudah turun menghambur, jatuh dalam pelukannya. Ibu dan anak itu larut dalam haru bahagia. Orang tua di sisi kiri dan kanan, ikut menyalami Camara dan Martentji. Semua bersuka.

“Mama. Kita bikin foto kenangan di pojok sana. Ada kawan-kawan beta, ingin kenal mama juga. Selama ini mereka hanya kenal mama dari buku-buku ilmiah, pendapat mama di surat kabar dan televisi. Mereka ingin punya foto dengan mama,” bujuk Camara.

Martentji ikut saja. Ada enam gadis dan seorang pemuda ternyata sudah menunggu. Mereka membungkuk lalu mengulurkan tangan menyalami Martentji. Satu-satunya pemuda di situ bahkan sampai mencium punggung tangan Martentji.

Adegan foto-foto berlangsung meriah. Anak-anak sarjana milenial. Sekali foto tidak cukup. Foto bersama, tetapi harus ada foto sendiri-sendiri.

“Kini giliran beta dengan kembaran beta, foto dengan mama. Beta di kiri, ale di kanan, mama di tengah,” begitulah Camara mengatur posisi.

“Siapa namamu?” Tanya Martentji kepada pemuda yang dibilang Camara sebagai kembarannya.  Martentji menyalaminya, dan tidak segera melepas  dari genggamannya.

“Beta nama Marten Sirimau,” ujar pemuda itu.

“Oh ya!” Martentji terperanjat tetapi dengan segenap ketenangan jiwa perempuan, dia ajukan pertanyaan lagi.  Gelombang di sekujur badan, dia tenggelamkan menjadi lautan teduh.

“Siapa ayahmu?”

“Ayah beta nama Don Sirimau. Ayah tidak hadir, sebab sedang berada di atas kapal tangker, membawa BBM dari depot ke depot. Tiga bulan lagi baru turun cuti, profesor.” Marten menjelaskan dengan penuh semangat.

Martentji tersenyum. Gelombang-gelombang besar yang ditenggelamkan dalam nurani, kembali bergolak, langsung hancur berderai di karang-karang hitam, di bibir pantai pulau tak bernama. Ia memandang wajah Camara dan Marten secara bergantian. Sungguh ada Don Sirimau menari katreji pada kedua raut wajah. Dari pada tumpah air mata, lebih baik dirangkulnya kedua lelaki muda itu.

“Kita foto satu kali lagi. Kali ini, pakai HP kamera milik mama,” pinta Martentji.

Di pelataran auditorium, suasana hiruk-pikuk pesta wisuda masih berlangsung. Langkah Martentji dan Camara ke halaman parkir tidaklah mulus. Banyak orang mengenal Profesor Martentji. Ada yang sekadar bersalaman dan ada yang minta foto bersama.

Baru saja adegan foto terakhir diambil, Martentji merasakan ada sesuatu yang menimpa kepalanya. Martentji meraba sanggulnya.

“Apa itu, mam?” Camara meneliti.

Martentji membuka genggaman tangan di hadapan Camara. Ibu dan anak itu tertawa berderai melihat buah cemara gugur tersangkut di sanggul.

Martentji menengadah. Pohon-pohon cemara berbaris di sepanjang pelataran auditorium. Sekali-kali angin tambah kencang. Ada desir-desau angin, seperti puisi derai-derai cemara. Derai itu membawa nurani berlayar sampai jauh ke pelataran Otto Kuyk Memorial Hospital di tepi Teluk Ambon Manise.

“Berikan namanya, Camara. Cemara itu pohon yang hebat. Tumbuh di bibir pantai sampai ke gunung tinggi, dari daerah tropis sampai ke daerah empat musim,” kata Dokter van Dijck, waktu itu.

Ambon, 6 Oktober 2018

 

 

 

Pos terkait