Kisah Kecil Di Balik Bioskop Bima Nan Legendaris

  • Whatsapp
Nus Abraham, putera Kapten Abraham, sang perintis Bioskop Bima. (foto andre pattinama)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Semasa jaya bioskop tahun 1970-1980an, di Ambon ada sebuah bioskop di Soakacindan, Air Salobar. Namanya Bioskop Bima. Lokasinya persis di samping Gereja Katolik Santa Maria Bintang Laut.

Jika sebuah film mulai tayang di bioskop, maka selalu ada urut-urutan peredarannya. Mulai dari Bioskop Indonesia, Amboina, Olimpic, Arumbay, Kartika Beta, Oriental, Victoria, dan sebagainya. Tayang terakhir akan berlangsung di Bioskop Bima.

Mulanya, saya tidak tahu-menahu tentang Bioskop Bima. Sebab saya tidak pernah hidup di Ambon, sebelumnya. Saya lulus SD dan SMP di Labuha, Halmahera Selatan. Tengah tahun 1980, barulah saya ke Ambon.

Waktu masuk SMA Xaverius Ambon, sekolah sudah berjalan satu pekan. Saya diantar Guru Marthinus Ngabalin ke kelas. Saat itu pelajaran Bahasa Inggris sedang berlangsung. Ibu Guru Nety Kloatubun sedang berdiri di depan kelas.

Pak Ngabalin menyerahkan saya kepada Ibu Kloatubun. Ibu Kloatubun tidak bisa menunjuk tempat duduk karena semua kursi sudah terisi. Tiba-tiba siswa berbadan paling tinggi di kelas mengangkat tangan.

“Di sini, adik,” katanya.

Saya menuju tempat duduk. Si jangkung itu menyuruh saya duduk di tengah. Jadilah kami bertiga sementara siswa lain duduk berdua-dua. Kedua siswa di kiri-kanan saya itu adalah Eklyopas Silooy dan Stefanus Hadiwalono.

Perlahan-lahan, saya akhirnya kenal bahwa Eklyopas Silooy dan Fanny Silooy adalah orang Amahusu. Sedangkan Stefanus Hadiwalono alias Stevanus Abraham, adalah salah satu putra Pak Abraham.

Pak Abraham adalah pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat. Ia seorang anggota TNI berpangkat kapten. Pak Abraham dan rekan sejawatnya Pak Suhardi yang tinggal di rumah satu kuplet, adalah dua sosok yang merintis berdirinya Bioskop Bima.

Suatu hari, ketika saya dan Stefanus harus menyelesaikan pekerjaan rumah, saya minta izin kepada kakak saya Victoria Fofid untuk keluar malam hari. Kakak saya tidak memberi izin. Alasannya, saya masih kecil dan tidak pantas keluar malam. Akan tetapi ketika saya menyebut nama Pak Abraham, kakak saya langsung setuju.

“Kalau belajar di rumah Keluarga Abraham, bolehlah. Saya kenal keluarga itu,” kata kakak saya yang dulu pernah tinggal di Gudang Arang.

Kakak saya membuat aturan tambahan. Kalau mau belajar kelompok, silakan bawa kawan-kawan ke rumah kontrakan di Skip. Tetapi kalau mau keluar rumah, hanya boleh di Keluarga Abraham, dan Keluarga Maspaitella di Jembatan Putih, Skip.

Di rumah Keluarga Abraham, waktu belajar kami sangat sedikit. Pekerjaan rumah dikerjakan cepat-cepat saja sudah beres. Banyak waktu digunakan untuk ngobrol. Pak Abrahamlah yang senang ngobrol dengan kami.

Saya dan Erhard Maspaitella, rekan saya yang di Jembatan Putih, kaget ketika Pak Abraham datang bertanya.

“Kalian isap rokok apa?”

Kami tidak berani atau malu-malu untuk mengatakan merk rokok yang kami suka. Pak Abraham kemudian menyebutkan, anaknya Stefanus suka Gudang Garam Filter. Saya dan Erhard akhirnya mengaku, kami juga suka rokok yang sama.

Pak Abraham memberi kami tiga bungkus rokok. Satu untuk Stefanus, satu untuk Erhard, dan satu untuk saya.

“Merokok saja, tidak apa-apa. Asal, jangan pernah merokok di sekolah, jangan merokok di depan umum. Nanti orang bilang, anak tidak tahu diajar orang tua. Tidak bagus, anak sekolah merokok di depan umum,” kata Pak Abraham. Jadilah kami berempat mengepul-ngepul asap rokok. Anak SMA kelas 1 merokok di depan seorang tentara. Ini hebat.

Peristiwa ini sudah 40 tahun berlalu. Pak Abraham, Pak Ngabalin, Ibu Nety Kloatubun, kakak saya, semua sudah meninggal dunia, namun saya, Stefanus, dan Eklyopas Silooy masih tetap terkoneksi. Kami sudah punya anak dan cucu tetapi kami masih tetap bersahabat karib.

Saya ke Bandung, menginap di rumah Stefanus. Saya ke Amahusu, masih bertemu dan beraktivitas dalam komunitas Ambon Sailing Community dengan Eklyopas Silooy. Kami sudah jadi saudara.

Hari ini, saya bertemu Nus Abraham, salah satu putera Pak Abraham. Ketika keluarga Abraham pindah ke Bandung, Nus tetap tinggal di rumah tua Keluarga Abraham. Meskipun pertemuan hanya singkat, banyak cerita kenangan mengalir satu demi satu.

Walau Bioskop Bima sudah tiada, namun di kawasan di pertigaan Air Salobar-Benteng Atas, beberapa kenek angkot masih sering bertanya kepada penumpang. “Bima?”

Ada juga Toko Bima di kawasan ini, milik pengusaha Ambon keturunan Tionghoa. Nama Toko Bima, boleh jadi ikut mengabadikan kisah keluarga asal Bima dengan Bioskop Bima nan legendaris itu.

Ambon, 1 Desember 2020

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait