Momen Unik Bing Leiwakabessy Dengan Tiga Seniman

  • Whatsapp
Johanis Lawalata (Ais) dan Johanis Benjamin Leiwakabessy (Bing) dalam momen jumpa pertama di Ambon, 2010 (foto kalesang)

Laporan Rudi Fofid-Tual

Bing Slamet (okz)

Malukupost.com – Lagu berjudul “Bing” karya Titiek Puspa, terdengar dalam suasana perkabungan di rumah Bing Leiwakabessy, Lateri, Ambon, Jumat (22/1) siang.

Sebagaimana disiarkan Pemkot Ambon melalui akun youtube, biduan Ambon Franky Pattiradjawane terlihat melantunkan “Bing” dengan penuh hikmat.

Bagian akhir lagu tersebut, terdengar nama “Bing” dilantunkan secara spedih:

“Tiada hari seindah dahulu lagi
Tiada mungkin kembali
Tiada nama seharum namamu lagi
Tiada, tiada Bing lagi”

Meskipun lirik-lirik lagu “Bing” tetap relevan dengan situasi di rumah Bing Leiwakabessy, tetapi lagu tersebut sejatinya ditulis Titiek Puspa untuk Bing Slamet.

Bing Slamet adalah nama panggung ayahanda Uci Bing Slamet, Adi Bing Slamet, dan Iyut Bing Slamet. Ia lahir di Cilegon, 27 September 1927 dan wafat di Jakarta, 17 Desember 1974.

Bing Slamet punya nama lahir Ahmad Syech Albar. Sepanjang hidup, Bing Slamet dikenal sebagai aktor film, pelawak, musisi, dan penyanyi. Media menyebutnya maestro lawak dan presiden lawak Indonesia.

Bing Leiwakabessy bukanlah Bing Slamet. Ia tetap berkarier dari Ambon tanpa tergiur hengkang ke ibukota Jakarta.  Jadi, Bing tidak kenal Bing Slamet.

Akhir tahun 1950an, Bing Leiwakabessy dkk mengikuti kegiatan musik di Jakarta. Di balik panggung, Bing Leiwakabessy sedang berlatih ringan. Ia sedang memainkan gitar hawaiian kesayangannya.

Seorang pria tak dikenal melintas. Melihat Bing asyik dengan musiknya, pria itu menimpali.

“Musiknya fals,” komentar orang itu.

Bing berhenti. Ia balik bertanya.

“Fals bagaimana? Saya main di minor,” kata Bing sambil menyebut nama sebuah kunci, yang rupanya mengejutkan pria tadi.

Bing memainkan kembali kunci tadi. Pria itu memandang dengan kagum. Ia nampaknya tidak akrab dengan kunci tersebut. Dia pun mengulurkan tangan mengajak berkenalan.

“Bing!” Ucap Bing Leiwakabessy.

“Bing juga!” Balas pria tadi.

“Saya Bing Leiwakabessy! Lahir 1923!”

“Saya Bing Slamet, lahir 1927!”

“Kalau begitu, saya lebih dulu jadi Bing,” kata Bing Leiwakabessy.

Kedua Bing langsung tertawa. Begitulah perkenalan Bing Leiwakabessy dan Bing Slamet, sebagaimana dikisahkan sang maestro.

SAMA-SAMA BETHEL

Tien Mual Manuputty (fofo ist)

Dalam riwayat hidupnya yang panjang, Bing memang membuat banyak perjalanan dekat pun jauh. Ia mengalami banyak perjumpaan besar dan kecil dengan berbagai kalangan. Setiap perjumpaan selalu punya kisah.

Bing berada di Surabaya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.  Ia berkumpul di rumah sesama keluarga Maluku yang mempersiapkan pesta pernikahan. Seorang perempuan berwajah Maluku datang pada Bing.

“Bung, tolong gambar sayap malaikat ini di tripleks, kiri dan kanan sama rata, supaya jadi latar belakang panggung. Tolong, bung e,” kata nona manis itu.

Bing lantas menggambar sayap malaikat sebagaimana diinginkan si nona. Begitu diperlihatkan, nona itu puas. Ia pun memberi gergaji dan meminta Bing memotong sesuai bentuk yang digambar. Bing menuruti permintaan itu.

Dari baku bantu dekorasi itulah, Bing akhirnya kenal, si nona yang ternyata seorang biduan. Orang Ambon terutama di Jemaat Bethel, seputaran Halong Mardika, pasti kenal Oma Tien Mual-Manuputty. Dialah si nona yang meminta bantuan Bing di Surabaya.

“Ini nona, sudah suruh beta gambar, bale suruh beta gergaji akang lagi,” kata Bing dalam kesempatan ulang tahunnya di Pasar Higienis Tantui, beberapa tahun silam. Tien jualah yang menceritakan kembali peristiwa jumpa pertama dengan Bing tersebut.

Persahabatan Bing dan Tien berlangsung bertahun-tahun, bahkan sama-sama dikaruniai umur panjang. Terlebih, Bing dan Tien sama-sama menjadi anggota Jemaat GPM Bethel jadi banyak kesempatan berjumpa.

Tien sudah lebih dulu tutup usia tahun 2017. Semasa muda, tahun 1939, ia pertama kali menyanyikan lagu “Di Pantai Wayame” dari panggung ke panggung. Pada zaman Belanda, Tien menjadi vokalis String Band, dan pada zaman Jepang sebagai vokalis Sakura Band. Sebelum usia senja, ia menjadi anggota paduan suara tenar Crescendo yang memboyong Piala Ibu Tien Soeharto ke Maluku.

SAMA-SAMA JOHANIS

Komunitas Kalesang Maluku bersama Ais Lawalata dan Bing Leiwakabessy (foto kalesang)

Pada bulan April 2010, Bing diajak Nicho Tulalessy dkk dari Komunitas Kalesang Maluku, jalan-jalan ke Air Panas Tulehu. Nicho dkk mengatur perjalanan setengah hari, sedemikian rupa supaya Bing tidak bosan, tetapi juga tidak sampai kelelahan.

Setelah mandi air panas, Bing diajak ke tepi kolam renang Baguala Bay Resort. Sembari minum teh sore, tibalah jam 17.00 WIT. Seorang pria gaek datang ke Baguala Bay Resort pula. Setelah menaruh tas di kamar, pria itu langsung datang ke sisi kolam.

Maksud pria itu adalah bertemu Nicho Tulalessy dkk yang sudah bikin janji berjumpa jam 17.00 WIT. Pria itu kaget melihat Bing. Bing juga kaget melihat pria itu. Keduanya berdiri dan saling berjabat tangan, berpelukan layaknya dua sahabat lama.

“Bing Leiwakabessy?” Ujar pria itu senang.

“Ben jij Ais Lawalata?” Bing merespon.

Kejutan menyenangkan itu memang  diskenariokan, tetapi Bing maupun Ais tidak diberitahu. Para aktivis Komunitas Kalesang membuat janji secara terpisah dengan Ais maupun Bing.

Meskipun baru pertama jumpa, Ais dan Bing sudah saling tahu karier masing-masing. Keduanya saling bertukar cerita dengan Holland Spreken, penuh tawa riang. Dari bincang-bincang Ais dan Bing, keduanya ternyata sama-sama menyandang nama Yohanis.

Ais adalah musisi Belanda asal Maluku yang konsisten pada akar musik Maluku. Untuk pengabdiannya panjang 50 tahun, Ais menerima penghargaan dari Kerajaan Belanda karena dianggap konsisten melestarikan budaya Maluku di Belanda.

Perjumpaan Bing Leiwakabessy dengan Bing Slamet, Tien Mual, maupun Ais Lawalata, hanyalah tiga momen dari perjumpaan-perjumpaan tak terhitung. Bing punya perjumpaan dengan anak-anak SD sampai SMA, namun juga punya perjumpaan dengan kepala negara, dari Presiden Soekarno sampai Presiden Joko Widodo. (Malukupost.com)

Pos terkait