Jejak Perang Dan Kasih Tak Sampai Jadi Pesona Pantai Nirun Di Malra

  • Whatsapp
Pantai Nirun di Elaar Ngursoin, Maluku Tenggara (crts uragapati)
Pantai Nirun di Elaar Ngursoin, Maluku Tenggara (crts uragapati)
Wisatawan domesik di dalam Goa Alam Pantai Nirun, Elaar Ngursoin, Maluku Tenggara (foto ronald renyut)
Wisatawan domesik di dalam Goa Alam Pantai Nirun, Elaar Ngursoin, Maluku Tenggara (foto ronald renyut)

Laporan Rudi Fofid-Tual

Malukupost.com – Masih ingat prajurit Jepang Teruo Nakamura yang bersembunyi selama 30 tahun di Morotai? Kasus serupa pernah pula terjadi di Kei, Maluku Tenggara (Malra), tahun 1945. Bedanya, seorang tentara Jepang di Kei hanya bersembunyi selama tiga bulan. Dibantu warga setempat, ia pun akhirnya dikembalikan ke negerinya dalam keadaan selamat.

Peristiwa bersejarah itu sudah 70 tahun berlalu namun kisah tentara Jepang di Elaar Ngursoin masih segar dalam ingatan warga. Imam Mahmud Yeubun menceritakan pengalaman orang tuanya bersahabat dan merawat sang tentara, sebelum dievakuasi.

Imam Yeubun pun mengantar tamu-tamunya berkunjung ke dalam gua alam yang menjadi tempat persembunyian sang tentara. Gua alam Nirun terletak di bibir pantai, memiliki tiga pintu masuk. Kondisinya yang masih asli, dan bersih terawat.

Di dalam gua, terdapat ruang yang dipakai untuk tidur maupun aktivitas lain di dalam gua. Ada tumpukan pasir putih terkurung di dalam gua, sehingga jika air surut, orang bisa bersantai di atas pasir.

“Pada malam hari, tentara Jepang tidur di sana, sedangkan aktivitas masak-memasak, makan minum di sini. Nah, kalau mandi, biasanya di situ,” kata Yeubun sambil menunjuk bagian-bagian gua yang digunakan sang tentara Jepang dalam persembunyian pasca perang dunia II.

Imam Mahmud Yeubun, pengelola Pantai Nirun Elaar Ngursoin, Maluku Tenggara (foto lahol yeubun)
Imam Mahmud Yeubun, pengelola Pantai Nirun Elaar Ngursoin, Maluku Tenggara (foto lahol yeubun)

KASIH TAK SAMPAI

Imam Yeubun Yeubun memang menjadi pemilik dan pengelola Pantai Wisata Nirun, di Ohoi Elaar Ngursoin. Ia mengurus objek wisata ini secara mandiri bersama sanak keluarga. Gua alam yang dikelolanya, merupakan satu kesatuan dengan hamparan pasir putih, air laut bening, tebing batu, kampung leluhur, tumbuh-tumbuhan pantai, tanjung batu besi yang berwarna kuning coklat, batu berbentuk ikan pari Varfar di dalam laut, maupun reruntuhan pesawat di dasar laut.

“Saya pernah menyelam, melihat badan pesawat kecil di dasar laut. Karang sudah tumbuh di sekelilingnya tetapi jendela-jendela masih jelas terlihat,” ungkap Yeubun.

Wisatawan domestik maupun mancanegara kian terpikat Pantai Nirun setelah pantai ini mendapat penghargaan Menteri Pariwisata RI, tahun 2018. Berbekal kamera, para fotografer profesional maupun amatir akan menemukan banyak pilihan sudut untuk menghasilkan foto cantik. Laut dan langit biru dengan latar belakang Pulau Kei Besar, adalah sebuah pesona, selain momen matahari tenggelam.

Semua pesona Pantai Nirun dapat disaksikan dengan mata telanjang. Satu-satunya pesona yang tidak terlihat adalah kisah di balik nama Nirun. Imam Yeubun menjelaskan kepada Media Berita Maluku Post, pekan ini, kata “nirun” dalam Bahasa Kei bermakna hidung. Penamaan nirun tidak ada hubungan dengan bentuk apapun di lokasi tersebut. Justru dinamakan nirun, karena berkaitan dengan legenda seorang gadis.

Alkisah, pada masa silam, di Pulau Kei Besar, sepasang kekasih menjalin hubungan asmara. Kedua sejoli saling cinta namun tidak direstui orang tua. Akibatnya, sang gadis kecewa. Diam-diam, ia mendayung sampan, menyeberangi lautan, dan tiba di Elaar Ngursoin. Tidak seorang pun tahu ke mana sang gadis menghilang.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah sejumlah orang dari Kei Besar. Mereka tiba di Elaar Ngursoin. Mereka menceritakan tentang gadis yang mendayung perahu ke pantai Elaar Ngursoin. Pencarian pun dilakukan bersama warga setempat.

Ketika warga sudah hampir putus asa, tiba-tiba mereka mnemukan tonjolan di permukaan pasir. Setelah diteliti, ternyata tonjolan itu adalah batang hidung sang gadis yang seluruh tubuhnya terbenam dalam pasir. Evakuasi pun dilakukan sampai sang gadis dimakamkan di sebuah tempat. Sejak itulah, pantai itu dinamakan Pantai Nirun karena hidung sang gadis menjadi penanda.

Batu Besi, hamparan karang merah akibat kandungan besi yang tinggi di Pantai Nirun, Elaar Ngursoin, Malra (foto rudi fofid)
Batu Besi, hamparan karang merah akibat kandungan besi yang tinggi di Pantai Nirun, Elaar Ngursoin, Malra (foto rudi fofid)

Meskipun menyimpan legenda dan jejak sejarah, menurut Imam Yeubun, lokasi wisata tersebut bukanlah lokasi yang mistis. Warga tetap dapat berwisata ria menikmati pesona pantai tanpa perlu cemas.

Satu-satunya gangguan yang dirasakan Yeubun adalah sampah plastik yang kerap ditinggalkan pengunjung. Selain itu, karena memiliki tanaman pantai yang unik, ada warga dengan speedboat datang mengambil tanaman bonsai alam di atas batu karang.

“Mereka datang lalu memecahkan batu-batu tetapi sudah kami larang,” ungkap Yeubun.

Pantai Nirun di Elaar Ngursoin saat ini ikut melengkapi pesona wisata Malra. Sebut saja Pantai Mun Vatvahan Ohoidertutu, Pantai Wab dengan kelapa miring, juga Teluk Sorbay dengan pesona mangrove dari Warwut sampai Rumadian.

Demikian pula lokasi yang sudah lebih dulu populer sejak dulu, Pantai Ngurbloat dan Teluk Yeanroa di Ngilngof, Pantai Sarnadan di Ohoililir, Pantai Ohoidertawun, Pantai Letman, Ngur Tavur di Warbal, Ur Pulau, hingga Tanimbar Kei, dan taman laut di sana-sini. Semua itu telah menjadi surga pariwisata yang tidak jemu-jemu didatangi para pelancong. (malukupost/foto ronald-marlyn renyut-lahol yeubun)

Pos terkait