
Langgur, MalukuPost.com – Ibu hamil (Bumiil) dan Balita merupakan salah satu kelompok rawan gizi yang perlu mendapat perhatian khusus, karena dampak jangka panjang yang ditimbulkan apabila mengalami kekurangan gizi.
Selain itu, usia Balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan rawan terhadap kekurangan gizi.
Begitu pula dengan Ibu hamil, apabila Ibu hamil mengalami kekurangan gizi akan mempengaruhi proses tumbuh kembang janin yang berisiko untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan atau stunting.
Penjabat (Pj) Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Keterina L. Lappy Huwae menjelaskan, kekurangan asupan makanan bergizi dan atau seringnya terinfeksi penyakit, menjadi salah satu penyebab langsung terjadinya masalah gizi.
Pola asuh yang kurang tepat, kurangnya pengetahuan, sulitnya akses ke pelayanan sosial ekonomi juga kesehatan, berpengaruh secara tidak langsung terhadap akses makanan bergizi dan layanan kesehatan.
Intervensi gizi dalam pelayanan ANC Terpadu diantaranya pengukuran status gizi (timbang badan dan ukur panjang/tinggi badan), ukur Lingkar Lengan Atas (LILA), pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), konseling gizi dan edukasi kepada Ibu hamil tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi selama kehamilan.
“Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada Balita dan ibu hamil,” kata Keterina Huwae, disela-sela kegiatan Pemberian Makanan Tambahan Bagi Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronik dan Balita Gizi Kurang di Ohoi Wain, Kecamatan Kei Kecil Timur, Jumat (24/1/2025).
.
PMT tersebut, kata Keterina Huwae, perlu disertai dengan edukasi gizi dan kesehatan untuk perubahan perilaku misalnya dengan dukungan pemberian ASI, edukasi dan konseling pemberian makan, kebersihan serta sanitasi untuk keluarga.
“Saya yakin apabila setiap rumah tangga dan keluarga dapat melakukan hal ini, tentunya akan membantu meningkatkan gizi keluarga bahkan lebih dari itu dapat menciptakan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang diharapkan,” ujarnya.


