Langgur, MalukuPost.com – Kabupaten Maluku Tenggara mendapat kehormatan sebagai salah satu pusat utama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2025.
Melalui program Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), puluhan mahasiswa diterjunkan untuk membantu pembangunan berbasis inovasi di berbagai ohoi (desa).
Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, menyampaikan apresiasi kepada UGM atas kepercayaan menjadikan daerahnya sebagai lokasi pengabdian mahasiswa.
“Kehadiran mahasiswa UGM membawa energi baru bagi pembangunan daerah. Program yang dibawa sejalan dengan RPJMD Malra, khususnya dalam pemberdayaan UMKM, digitalisasi desa, hingga konservasi laut,” ujarnya dalam acara penyambutan di Kantor Bupati, Rabu (25/6/2025).
Ia juga telah menginstruksikan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) untuk memberikan dukungan penuh, khususnya dalam penyediaan data dan fasilitasi koordinasi teknis di lapangan.
UGM mencatat sejarah tahun ini dengan mengirimkan 8.038 mahasiswa ke 35 provinsi di Indonesia dalam rangka program KKN-PPM 2025. Maluku Tenggara dipilih sebagai salah satu titik strategis dengan fokus program yang menyesuaikan kebutuhan lokal.
Diketahui, di Malra, program KKN-PPM 2025 mahasiswa UGM akan difokuskan pada dua kecamatan yakni Kei Kecil Timur dan Manyeuw.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Raden Ajeng Antari Innaka Turingsih menjelaskan, fokus program KKN di Manyeuw meliputi Pelatihan UMKM berbasis pangan lokal, Konservasi laut, Penguatan kelembagaan ohoi melalui penyuluhan koperasi desa dan BUMO (Badan Usaha Milik Ohoi), Pelatihan UMKM berbasis pangan lokal, Konservasi laut, serta Penguatan kelembagaan ohoi melalui penyuluhan koperasi desa dan BUMO (Badan Usaha Milik Ohoi).
Sementara itu, DPL Prof. Dr. Leni Sophia Heliani memimpin tim mahasiswa di Ohoi Iso, Wain, dan Disuk. Fokus kegiatan adalah Akselerasi digitalisasi desa, Pemetaan potensi wilayah, Pengumpulan data kependudukan, kesehatan, dan kebencanaan, serta Pembangunan sistem Satu Data Ohoi berbasis website terintegrasi.
Wakil Bupati Rahantoknam juga menekankan pentingnya keberlanjutan program.
“Kami berharap pengabdian ini tak berhenti saat program selesai. Mahasiswa harus mampu meninggalkan warisan pengetahuan dan keterampilan yang dapat dilanjutkan masyarakat dan perangkat ohoi,” pungkasnya.


